Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Saturday, 20 June 2026

Review Novel "Pasung Jiwa" Karya Okky Madasari: Bukan Sekedar Tentang Gender Non-Konformitas, Melainkan Tentang Kebebasan

 


"Tak ada jiwa yang bermasalah. Yang ada hanyalah pikiran-pikiran yang dibatasi oleh aturan dan dogma.

Apakah kehendak bebas benar-benar ada? Apakah manusia bebas benar-benar ada? Okky Madasari mengemukan pertanyaan-pertanyaan besar dari manusia dan kemanusiaan dalam novel ini.

Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani, dihadirkan pergulatan manusia dalam mencari kebebasan dan melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan.


Ekspektasi Awal Yang Keliru

Ketika mulai membaca Pasung Jiwa karya Okky Madasari, saya mengira novel ini akan berfokus pada isu transgender atau gender non-konformitas. Dugaan itu tentu bukan tanpa alasan. Sinopsis buku serta berbagai review mengatakan demikian. Selain itu, tokoh utama, Sasana, sejak awal memang digambarkan memiliki pergulatan dengan identitas dirinya sebagai laki-laki yang tidak sesuai dengan ekspektasi sosial di sekitarnya, hingga ia memilih untuk tampil sebagai perempuan demi mengejar kebebasan yang diimpikannya.

Namun setelah memasuki pertengahan novel hingga akhirnya menutup halaman terakhir, saya menyadari bahwa isu gender hanyalah pintu masuk. Gerbang awal untuk menyusuri pertanyaan demi pertanyaan filosofis yang coba disuguhkan penulis. Hingga saya sadar, pertanyaan yang sesungguhnya diajukan novel ini jauh lebih besar:

Apakah manusia benar-benar hidup sesuai kehendaknya sendiri, atau hanya menjalankan peran yang dipilihkan oleh orang lain?

Di titik inilah Pasung Jiwa berubah dari sekadar novel tentang pergolakan identitas menjadi novel tentang kebebasan yang jauh lebih luas.


Ketika Gagasan Lebih Penting daripada Atmosfer

Hal pertama yang cukup mengusik pengalaman membaca saya adalah gaya penceritaan Okky Madasari yang terasa sangat cepat.

Sebagai penggemar fiksi sejarah dan juga pembaca yang menyukai novel dengan detail psikologis yang kaya, serta pembangunan dunia yang mendalam, saya sering merasa cerita yang disajikan bergerak terlalu tergesa-gesa. Tokoh berpindah dari satu fase kehidupan ke fase berikutnya tanpa banyak jeda refleksi serta eksplorasi detail yang mendalam. Padahal novel ini bergerak di tengah berbagai konteks sosial, politik, dan sejarah Indonesia yang sebenarnya sangat menarik untuk dieksplorasi lebih jauh. Sehingga, di awal saya merasakan kurangnya kedalaman karakter dan koneksi antara pembaca dengan masing-masing tokoh yang dimunculkan.

Banyak novel bertema identitas atau sejarah sosial berusaha membuat pembacanya "tinggal" di dalam dunia yang mereka bangun. Mereka mengajak pembaca merasakan suasana, mencium bau jalanan, memahami ketakutan tokoh, hingga mengenal ruang sosial tempat cerita berlangsung.

Sementara dalam Pasung Jiwa, saya merasa peristiwa-peristiwa sering kali berfungsi hanya sebagai kendaraan untuk menyampaikan gagasan.

Tokoh bergerak.

Konflik muncul.

Situasi berubah.

Namun semua itu terasa sangat diarahkan untuk mengantarkan pembaca pada pertanyaan filosofis tertentu. Akibatnya, atmosfer terkadang terasa kalah penting dibanding pesan yang ingin disampaikan.

Meski demikian, pendekatan ini memiliki kelebihan tersendiri. Novel menjadi lebih mudah diakses oleh pembaca umum karena tidak tenggelam dalam detail yang berlebihan. Okky tampaknya lebih tertarik mengajak pembaca berpikir daripada mengajak pembaca berlama-lama menikmati dunia yang ia bangun.


Sasana dan Kebebasan yang Terrampas Sejak Kecil

Pada lapisan paling permukaan, Pasung Jiwa memang dapat dibaca sebagai kisah seorang individu yang berjuang melawan norma gender. Sasana hidup dalam lingkungan yang terus menerus menentukan bagaimana ia harus menjadi laki-laki;

Keluarga memiliki definisi sendiri.

Masyarakat memiliki definisi sendiri.

Lingkungan memiliki definisi sendiri.

Tidak ada ruang bagi Sasana untuk mendefinisikan dirinya sendiri.

Dalam perspektif sosiologi, kondisi ini mengingatkan pada konsep "social construction of reality" dari Peter Berger dan Thomas Luckmann. Mereka berpendapat bahwa identitas manusia tidak lahir dalam ruang kosong. Sejak kecil, kita menerima berbagai definisi mengenai apa yang dianggap normal, baik, pantas, dan benar. Namun, masalah muncul ketika definisi-definisi tersebut berubah menjadi penjara.

Sasana adalah representasi individu yang mulai mempertanyakan konstruksi sosial tersebut. Ia mempertanyakan apakah lingkungannya yang salah karena tidak sesuai dengan dirinya, atau justru dirinya yang salah karena tidak sesuai dengan lingkungannya? Ia tidak sekadar mencari identitas. Ia mempertanyakan dan mencari kebebasan.


Cak Jek; Sebuah Antitesa dari Sasana yang Nyatanya Jauh Lebih Tragis

Meskipun Sasana adalah tokoh utama dalam novel ini, namun karakter yang tak kalah menarik untuk dibahas dan sangat membekas bagi saya justru Cak Jek. Bahkan dalam tulisan ini saya berani mengatakan bahwa tokoh paling tragis dalam Pasung Jiwa bukanlah Sasana. Melainkan Cak Jek.

Sejak awal Sasana sadar bahwa dirinya terpasung. Ia tahu ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Ia tahu ada yang salah dengan lingkungannya. Dan ia tahu dirinya sedang terjebak. Karena itu sepanjang cerita ia terus berusaha mencari jalan keluar.

Sebaliknya, Cak Jek tidak pernah merasa dirinya terpasung.

Ia merasa ia hidup bebas. Ia merasa bisa menentukan pilihannya sendiri. Ia merasa telah menemukan tujuan hidup. Ia merasa menemukan identitas. Ia merasa menemukan tempat dalam masyarakat.

Tapi justru di situlah tragedinya...

Karena perlahan dan pada akhirnya ia berubah menjadi bagian dari sistem yang sebelumnya tidak pernah ia wakili.

Ketika akhirnya menjadi bagian dari kelompok yang melakukan persekusi terhadap orang-orang yang berbeda, termasuk Sasana yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri, atau bahkan Memed dan Leman -- dua sahabat seperjuangannya di jalanan dulu, Cak Jek tidak lagi tampak sebagai sosok yang bebas dan merdeka.

Ia menjadi simbol dari seseorang yang mengira dirinya bebas, padahal hanya berpindah dari satu bentuk penjara ke bentuk penjara yang lain. Ia tak sadar bahwa ia membangun pasung bagi jiwanya sendiri, dan menurut saya ini sangat tragis.


Membaca Cak Jek Melalui Kacamata Foucault

Perubahan Cak Jek menjadi jauh lebih menarik jika dibaca menggunakan pisau analisis pemikiran Michel Foucault. Foucault berpendapat bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja melalui paksaan langsung. Sering kali manusia justru ikut mereproduksi kekuasaan karena merasa memperoleh manfaat darinya;

Kekuasaan memberi identitas.

Kekuasaan memberi rasa aman.

Kekuasaan memberi posisi sosial.

Akibatnya seseorang bisa merasa bebas ketika sebenarnya ia sedang tunduk pada sistem yang lebih besar dan memenjarakannya. Inilah yang saya lihat pada Cak Jek.

Ia tidak dipaksa menjadi bagian dari struktur tersebut. Ia justru masuk dengan sukarela. Dan karena itulah tragedinya terasa lebih menyakitkan (dan sangat menyebalkan bagi saya). Sasana tahu bahwa dirinya sedang melawan penjara, sedangkan Cak Jek bahkan tidak menyadari bahwa ia sedang membangunnya untuk dirinya sendiri.


Pasung yang Tidak Selalu Berbentuk Rantai

Judul Pasung Jiwa menjadi sangat menarik jika dilihat dari sudut pandang ini. Pasung dalam novel ini tidak selalu berbentuk larangan atau kekerasan fisik. Kadang pasung hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus dan sulit disadari:

  • Ekspektasi keluarga.

  • Norma sosial.

  • Norma agama.

  • Kondisi politik.

  • Pengakuan kelompok.

  • Fanatisme.

  • Keinginan diterima.

  • Ketakutan terhadap perbedaan.

Ironisnya, dalam realita sosial, banyak bentuk pasung tersebut justru terasa nyaman. Ia memberikan rasa aman. Ia memberikan identitas. Ia memberikan kepastian. Oleh karena itu manusia sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang terbelenggu.


Kritik Pribadi

Jika ada satu kritik terbesar yang saya miliki terhadap Pasung Jiwa, maka itu adalah bagian akhirnya. Masalahnya bukan karena ending terbuka. Saya tidak keberatan dengan open ending, banyak karya sastra besar justru berakhir dengan meninggalkan pertanyaan. Masalahnya adalah besarnya konflik yang dibangun dalam novel ini terasa tidak sebanding dengan ruang yang diberikan untuk menyelesaikannya.

Ketika konflik Sasana dan Cak Jek mencapai titik puncak yang sangat menarik, halaman yang tersisa sudah tidak banyak. Jujur saja pada puncak konflik ini saya dibuat sangat kesal pada plot twist yang akhirnya terjadi (saya benar-benar tidak pernah membayangkan sebelumnya terkait twist ini), hingga mencak-mencak pada kelakuan Cak Jek.

Namun, sebagai pembaca saya mulai memiliki firasat bahwa cerita ini tidak akan memiliki cukup ruang untuk mengembangkan konsekuensi emosional dari semua peristiwa yang sudah terjadi.

Dan ternyata memang demikian.

Saya merasa novel ini masih membutuhkan satu bab tambahan, atau bahkan beberapa puluh halaman lagi untuk kemudian menutupnya. Bukan untuk memberikan jawaban pasti, melainkan untuk memberi kesempatan kepada konflik yang sudah dibangun agar benar-benar bernapas.

Akibatnya, konklusi yang muncul terasa lebih seperti kebutuhan untuk mengakhiri cerita daripada puncak yang tumbuh secara organik dari seluruh perjalanan sebelumnya.

Namun...

Jika menilik dari kutipan berikut;

"Kebebasan baru ada jika ketakutan sudah tak ada."

Saya rasa novel ini memang sudah dapat diakhiri. Meskipun kembali lagi, saya mengharapkan konklusi yang jauh lebih dalam setelah sedemikian rupa konflik dibangun. Terlebih, betapa kesalnya saya pada Cak Jek membuat saya tak puas jika ia hanya menyelesaikannya dengan tangisan, kamu boleh tidak sependapat mengingat ini adalah pendapat pribadi saya.


Kesimpulan: Novel Tentang Kebebasan yang Menyamar sebagai Novel Tentang Gender Non-konform

Terlepas dari kritik yang saya miliki, Pasung Jiwa tetap berhasil melakukan satu hal yang sangat penting. Novel ini memunculkan berbagai tanda tanya di otak saya, dan terus saya pikirkan setelah selesai membacanya.

Dan bagi saya, itu adalah salah satu tanda karya yang berhasil dan sangat saya nikmati.

Karena pada akhirnya, Pasung Jiwa bukanlah novel yang sekadar bertanya bagaimana rasanya menjadi berbeda. Novel ini bertanya sesuatu yang jauh lebih mengganggu:

Apakah kita benar-benar bisa bebas?

Ataukah kita hanya sedang memilih bentuk pasung yang paling nyaman untuk kita tinggali?

Mungkin itulah alasan mengapa karakter yang paling membekas bagi saya di novel ini justru bukan Sasana, melainkan Cak Jek.

Sebab banyak orang mungkin tidak pernah menjadi Sasana, tetapi sangat mungkin suatu hari menjadi Cak Jek tanpa pernah menyadarinya. Dan jujur saya takut menjadi Cak Jek selanjutnya.

Saturday, 30 May 2026

Review Novel "Namaku Alam" Karya Leila S Chudori: Ketika Sejarah Tidak Dikenang, Melainkan Diwariskan

 

"Aku mengenal Bapak dari cerita-cerita Ibu, Yu Kenanga, Yu Bulan, dan Om Aji. Kenanganku tentang Bapak tetap samar-samar. Aku hanya punya sekelebat bayang-bayang, bagaimana dia sering menggendong dan memangku aku, anak lelaki bungsunya.


Setelah sukses dengan Pulang, Ibu Leila S. Chudori kembali membawa pembaca ke semesta yang sama melalui Namaku Alam. Namun siapa pun yang datang dengan ekspektasi akan menemukan sebuah novel sejarah yang sama kompleks, luas, dan politisnya seperti Pulang sebaiknya menyesuaikan harapannya terlebih dahulu.

Karena pada dasarnya, Namaku Alam tidaklah seberat dan sekompleks itu.

Novel ini memilih jalan yang berbeda dibanding pendahulunya. Jika Pulang berbicara tentang eksil, sejarah politik, pergolakan politik, dan identitas dalam skala besar, maka Namaku Alam lebih tertarik mengikuti perjalanan personal Segara Alam sejak masa kanak-kanak hingga remaja. Keluarga, persahabatan, cinta pertama, kegelisahan masa sekolah, dan pencarian jati diri menjadi fokus utama dalam cerita.

Sejarah dan politik tidak lantas absen dalam novel ini, tetapi kali ini ia lebih sering hadir sebagai latar belakang yang membentuk siapa Alam itu sendiri.


Sekilas Tentang Namaku Alam

Secara garis besar, novel ini mengikuti kehidupan Segara Alam, putra dari Hananto Prawiro yang memikul beban sejarah politik Indonesia pasca 1965. Seiring pertumbuhannya, Alam berusaha memahami dirinya sendiri di tengah berbagai pertanyaan tentang keluarga, masa lalu, dan identitas yang terus mengikutinya.

Alih-alih menyajikan peristiwa politik secara langsung, Bu Leila mengajak pembaca melihat bagaimana dampak sejarah bekerja dalam kehidupan sehari-hari seseorang yang lahir setelah peristiwa itu terjadi.


Bukan Hanya Soal Sejarah, Melainkan Dampaknya

Salah satu kritik yang mungkin muncul terhadap Namaku Alam adalah kurangnya eksplorasi sejarah jika dibandingkan dengan novel pendahulunya, Pulang. Namun setelah selesai membaca, saya justru merasa bahwa keputusan tersebut dilakukan secara tepat dan sadar.

Bu Leila memang tidak sedang berusaha mengulang apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Ia tidak lagi berfokus pada tragedi politik sebagai peristiwa, melainkan pada bagaimana peristiwa tersebut terus melekat dalam kehidupan orang-orang yang mewarisi akibatnya.

Dalam konteks ini, sejarah berfungsi sebagai struktur yang membentuk kehidupan tokoh-tokohnya. Ia tidak selalu hadir secara eksplisit, tetapi pengaruhnya terasa di hampir setiap aspek kehidupan Alam. Akibatnya, Namaku Alam terasa lebih intim, lebih personal, dan di sisi lain lebih ringan.

"Ringan" yang awalnya saya anggap sebagai kritik ini justru menjadi kekuatan tersendiri bagi novel ini untuk menyentuh pasar yang jauh lebih luas, karena siapapun akan dapat dengan mudah masuk ke dalam dunia Alam, dan mungkin jatuh cinta pada karakternya.


Membaca Namaku Alam Melalui Kacamata Postmemory

Salah satu pendekatan yang menarik untuk membaca novel ini adalah konsep postmemory yang diperkenalkan oleh Marianne Hirsch.

"The generation after remembers through stories, images, and behaviors."

Secara sederhana, postmemory menjelaskan bagaimana generasi berikutnya dapat mewarisi pengalaman traumatis yang tidak sepenuhnya mereka alami sendiri. Trauma berpindah melalui cerita keluarga, ingatan kolektif, kebiasaan, ketakutan, dan berbagai konsekuensi sosial yang terus bertahan dari generasi ke generasi.

Dalam kasus Alam, posisinya bisa jadi lebih kompleks. Ia memang tidak secara langsung mengalami semua rentetan tragedi politik yang menimpa ayahnya, tetapi ia tetap mengalami berbagai dampak sosial dan psikologis yang ditinggalkan oleh peristiwa tersebut.

Ditambah lagi, kemampuan photographic memory yang dimiliki Alam, yang justru ia lihat sebagai sebagai sebuah kutukan alih-alih sebuah kemampuan jenius. Bayangkan, betapa ngerinya ketika anak berusia 3 tahun ditodong senapan tepat di wajahnya oleh aparat negara, dan itu membekas jelas di ingatannya.

Masa lalu keluarganya bukan sekadar cerita yang ia dengar, melainkan sesuatu yang terus membentuk cara ia memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. Karena itu, Namaku Alam dapat dibaca sebagai novel tentang trauma yang diwariskan, bukan sekadar sejarah yang diceritakan ulang.


Pencarian Identitas Seorang Remaja

Selain trauma antargenerasi, tema lain yang sangat kuat dalam novel ini adalah pencarian identitas.

Jika melihatnya melaluo kacamata teori perkembangan psikososial Erik Erikson, Alam berada dalam fase Identity vs Role Confusion, yaitu fase ketika seseorang berusaha menjawab pertanyaan paling mendasar dalam hidupnya:

"Siapa sebenarnya diriku?"

Pertanyaan tersebut menjadi semakin rumit ketika identitas pribadi terus dibayangi oleh sejarah keluarga.

Alam tidak hanya berusaha memahami siapa dirinya sebagai seorang individu, tetapi juga harus berhadapan dengan identitas yang diwariskan kepadanya. Menurut saya, di sinilah konflik terbesar novel ini sebenarnya berada.

Bukan pada politik. Bukan pula pada sejarah. Melainkan pada usaha seorang manusia untuk menentukan dirinya sendiri di tengah berbagai narasi yang telah lebih dulu disusun oleh orang lain.


Detail Masih Menjadi Kekuatan Terbesar Bu Leila

Terlepas dari tema-tema besar yang diangkat, alasan utama saya selalu menikmati karya Bu Leila S. Chudori akan tetap selalu sama: kemampuannya membangun detail.

Bu Leila memiliki kemampuan luar biasa untuk menghidupkan ruang, percakapan, suasana, dan emosi tokoh-tokohnya. Detail-detail kecil yang mungkin tampak sepele justru membuat dunia dalam novel terasa nyata dan dapat dipercaya.

Ketika banyak novel sejarah berfokus pada peristiwa besar, Bu Leila justru sering kali berhasil memperlihatkan bagaimana sejarah memengaruhi kehidupan sehari-hari manusia biasa. Setiap karakter ciptaannya memiliki kedalaman yang setara, bahkan kita bisa membayangkan bagaimana kehidupan seorang karakter di luar buku, meskipun ia bukan merupakan karakter utama.

Lalu, apakah Namaku Alam menarik untuk dibaca Jawabannya: YA, TENTU SAJA!

Bukan karena ia menawarkan kompleksitas sejarah yang sama dengan Pulang. Sebaliknya, Namaku Alam menarik untuk dibaca karena keberhasilannya mengubah sejarah besar menjadi kisah yang sangat personal.

Novel ini menunjukkan bahwa dampak sebuah peristiwa politik tidak berhenti ketika peristiwa itu selesai. Ia terus hidup dalam keluarga, ingatan, hubungan sosial, dan identitas generasi berikutnya.

Jika Pulang berbicara tentang mereka yang mengalami sejarah, maka Namaku Alam berbicara tentang mereka yang mewarisi akibatnya.

Dan mungkin di situlah letak kekuatan sebenarnya. Karena kadang-kadang sejarah tidak dikenang. Ia diwariskan.

Wednesday, 11 March 2026

Resensi Novel Pulang Karya Leila S. Chudori – Menggugat Makna Tanah Air dalam Luka Sejarah




"Sekali lagi, apa yang harus kukeluhkan jika aku dikelilingi keluarga yang sangat mencintaiku? Mengapa aku tetap merasa ada sepotong diriku yang masih tertinggal di tanah air?"


Apa arti "pulang" ketika sebuah negara yang semula adalah rumah justru menolak kehadiran kita?

Pertanyaan inilah yang menjadi fondasi emosional sekaligus filosofis dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori. Di permukaan, novel ini memang berkisah tentang para eksil politik Indonesia pasca peristiwa 1965 yang terpaksa membangun hidup di negeri asing. Namun semakin jauh halaman demi halaman dibaca, semakin jelas bahwa Pulang tidak pernah benar-benar berbicara tentang perpindahan geografis semata. Ia berbicara tentang keterasingan, identitas, ingatan, dan pencarian akan tempat di mana manusia dapat merasa utuh.

Dengan latar sejarah yang kompleks dan sensitif, Bu Leila berhasil menghadirkan sebuah karya yang tidak terjebak menjadi dokumen sejarah ataupun propaganda politik. Sejarah dalam Pulang hadir sebagai sesuatu yang hidup; ia merembes ke dalam kehidupan sehari-hari, membentuk hubungan antar manusia, memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri, bahkan menentukan bagaimana seseorang memahami makna rumah.


Ketika Sejarah Menjadi 'Nasib'

Tokoh sentral novel ini, Dimas Suryo, adalah seorang jurnalis yang mendadak kehilangan tanah airnya akibat pergolakan politik pasca Gerakan 30 September 1965. Bersama sejumlah rekan sesama eksil, ia terdampar di Paris setelah sebelumnya terombang-ambing tanpa tujuan di berbagai negara, dan terpaksa membangun kehidupan baru di tempat yang tak pernah mereka rencanakan sebagai rumah.

Namun kekuatan Pulang terletak pada kemampuannya menghindari penyederhanaan. Dimas Suryo bukan sekadar korban sejarah. Ia adalah manusia yang terus mencoba menjalani hidup di tengah kenyataan yang tak pernah dipilihnya. Kerinduan pada Indonesia tidak membuatnya berhenti mencintai hidup. Sebaliknya, ia tetap jatuh cinta, membangun keluarga, berteman, memasak, bercanda, dan menua seperti manusia lainnya.

Di titik ini, Bu Leila menunjukkan bahwa tragedi terbesar bukanlah kehilangan kewarganegaraan, melainkan kehilangan kemungkinan untuk menentukan hidup sendiri.

Menariknya, sudut pandang dalam novel ini tidak hanya berfokus pada Dimas Suryo. Melalui Vivienne, istri Dimas Suryo di Paris, novel ini memperlihatkan bagaimana seorang istri yang harus menerima suaminya dengan segala latar belakang politis dan sejarah yang dipikulnya. Kemudian melalui Lintang Utara, putri tunggalnya yang lahir dan tumbuh di Paris, novel ini memperlihatkan bagaimana sejarah dapat diwariskan lintas generasi. Lintang tidak mengalami langsung tragedi 1965, tetapi ia tetap hidup dalam bayang-bayangnya. Masa lalu ayahnya menjadi bagian dari identitasnya sendiri.

Di tangan Bu Leila, sejarah tidak bergerak secara linear. Ia hadir sebagai warisan yang terus membentuk kehidupan orang-orang yang bahkan tidak pernah menyaksikan peristiwanya.


Kekuatan Terbesar Leila: Manusia-Manusia yang Terasa Nyata

Salah satu alasan mengapa Pulang begitu mudah membekas, khususnya bagiku pribadi adalah kemampuan Bu Leila menciptakan karakter yang benar-benar hidup.

Dimas Suryo memang menjadi pusat cerita, tetapi novel ini tidak pernah hanya berputar pada satu tokoh. Hananto, Nugroho, Risjaf, Vivienne, Surti, hingga Lintang, bahkan Alam memiliki kedalaman yang membuat mereka terasa lebih dari sekadar pelengkap narasi sejarah.

Leila menulis manusia sebagaimana adanya: penuh kontradiksi, rapuh, keras kepala, kadang lucu, kadang menyebalkan, tetapi selalu terasa nyata. Bahkan tokoh-tokoh yang kemunculannya tidak dominan tetap meninggalkan jejak emosional tersendiri. Rasanya, kita seperti memahami apa yang dilalui para tokoh bahkan di luar cerita utama.

Pendekatan naratif yang menggunakan berbagai sudut pandang, dipadukan dengan struktur maju-mundur yang luwes, membuat pembaca seolah sedang menyusun kepingan-kepingan ingatan. Sejarah tidak disampaikan sebagai kuliah panjang, melainkan melalui pengalaman hidup para tokohnya.

Di sinilah letak keberhasilan terbesar Bu Leila. Beliau membuat pembaca peduli dan akrab terlebih dahulu kepada manusia-manusia dalam cerita sebelum mengajak mereka memahami sejarah yang melingkupinya. Tak heran jika kemudian Namaku Alam yang menjadi spin-off-nya pun sukses besar mengingat para pembaca sudah merasa dekat dengan Alam, meskipun ia hanya mendapat porsi kecil di bagian akhir Pulang.


Politik Memori dan Hak untuk Mengingat

Meski berangkat dari peristiwa sejarah yang nyata, Pulang tidak terlalu menarik perdebatan mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah, karena di sini Bu Leila tampak seperti menyerahkannya kembali pilihan itu pada pembaca. Fokus utamanya justru terletak pada bagaimana sejarah diingat.

Ingatan dalam novel ini bukan sekadar kilas balik, melainkan ruang pertarungan antara apa yang boleh dikenang dan apa yang dipaksa dilupakan.

Negara hadir bukan hanya sebagai institusi politik, tetapi juga sebagai pihak yang memiliki kuasa menentukan narasi. Ada sejarah yang diajarkan, ada sejarah yang dihapus, dan ada sejarah yang hanya hidup melalui cerita-cerita personal.

Karena itu, membaca Pulang terasa seperti menyaksikan upaya mempertahankan ingatan dari ancaman pelupaan.

Novel ini mengingatkan bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja melalui kekerasan fisik. Kadang ia bekerja dengan cara yang lebih halus: mengontrol cerita yang boleh diwariskan kepada generasi berikutnya. Dan ketika ingatan dihapus, yang hilang bukan hanya fakta sejarah, melainkan juga identitas manusia yang hidup di dalamnya.


Eksil Sebagai Kondisi Manusia

Pada lapisan yang lebih dalam, eksil dalam Pulang melampaui persoalan politik.

Keterasingan yang dialami Dimas Suryo mengingatkan saya pada kondisi manusia secara universal. Kita semua, dalam kadar tertentu, pernah mengalami perasaan tidak sepenuhnya menjadi bagian dari tempat yang kita huni. Kita pernah merasa terpisah dari sesuatu yang kita anggap sebagai rumah. Karena itu, pengalaman Dimas Suryo menjadi relevan bahkan bagi pembaca yang tidak memiliki hubungan langsung dengan sejarah 1965.

Ia mewakili kegelisahan yang lebih mendasar: bagaimana manusia mencari pijakan ketika dunia yang dikenalnya tiba-tiba berubah.

Di sinilah Pulang memiliki kualitas eksistensial yang kuat. Ia berbicara tentang manusia yang dipaksa hidup dalam situasi yang tidak dipilihnya, tetapi tetap harus menemukan makna di dalamnya.


Makna Pulang yang Terus Bergeser

Semakin mendekati akhir novel, semakin terasa bahwa judul Pulang menyimpan makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kembali ke Indonesia.

Pada awalnya, pembaca mungkin mengira pulang berarti kembali ke tanah air. Namun seiring perjalanan cerita, makna tersebut perlahan bergeser seiring dengan narasi yang dibangun oleh Bu Leila, dan tergantung sejauh mana kita sebagai pembaca memahaminya.

Pulang bisa menjadi kerinduan pada keluarga.

Pulang bisa menjadi pencarian identitas.

Pulang bisa menjadi usaha memahami dari mana seseorang berasal.

Dan pada akhirnya, pulang menjelma menjadi sesuatu yang lebih mendasar: keinginan manusia untuk kembali kepada tempat di mana dirinya merasa utuh.

Bu Leila tampaknya sengaja membiarkan makna ini berkembang secara perlahan. Alih-alih memberikan definisi yang pasti, ia mengajak pembaca merumuskan sendiri arti kepulangan bagi masing-masing individu. Karena mungkin rumah bukan selalu tempat kita lahir. Bukan pula tempat yang tercantum di paspor. Kadang rumah adalah tempat yang terus kita cari sepanjang hidup.


Kematian Sebagai Bentuk Kepulangan Terakhir

Ada satu motif yang menurut saya diam-diam bekerja sangat kuat sepanjang novel: kematian.

Ia tidak hadir secara mencolok, tetapi terus muncul dalam berbagai bentuk foreshadow. Pemakaman "Karet" berulang kali disebut dan menjadi ruang yang memiliki makna khusus bagi Dimas Suryo. Percakapan mengenai kematian muncul di beberapa bagian penting. Bahkan sejumlah peristiwa sejak memasuki pertengahan cerita terasa seperti penanda yang perlahan mengarahkan pembaca menuju sebuah kesimpulan yang tak terelakkan.

Di titik ini, makna “pulang” kembali mengalami perluasan.

Jika sebelumnya pulang dimaknai sebagai kembali ke tanah air atau identitas, maka menjelang akhir novel muncul kemungkinan pembacaan lain: pulang sebagai kembalinya manusia kepada asal mula keberadaannya.

Bu Leila tidak menggarap tema ini secara religius. Justru karena disampaikan dengan tenang, refleksi tentang kematian terasa semakin kuat. Ia menjadi pengingat bahwa ada bentuk kepulangan yang pada akhirnya akan dialami semua manusia, terlepas dari negara, ideologi, ataupun sejarah yang pernah membentuk hidup mereka.


Catatan Pribadi

Jujur saya membaca novel ini tidak seberapa lama setelah meninggalnya ibu saya, sehingga "kerinduan', "kepulangan", "kematian" menjadi topik-topik yang sangat sensitif bagi saya. Oleh karena itu, novel ini memberikan kesan yang sangat mendalam bagi saya pribadi. Memang benar kata orang, bahwa buku memilih sendiri waktunya yang tepat untuk dibaca.

Pada akhirnya, Pulang bukan hanya novel tentang tragedi 1965. Ia juga bukan semata kisah eksil politik atau upaya merekonstruksi sejarah Indonesia. Novel ini adalah refleksi tentang ingatan. Tentang bagaimana manusia membawa masa lalu ke mana pun mereka pergi. Tentang bagaimana sejarah tidak pernah benar-benar selesai. Dan tentang kerinduan universal untuk menemukan tempat yang dapat disebut rumah.

Di tengah dunia yang terus bergerak dan membuat setiap orang sering kali lupa pada masa lalunya sendiri, Pulang melakukan sesuatu yang penting: ia merawat ingatan. Ia mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan tanggal dan peristiwa, melainkan kehidupan manusia yang nyata, dengan segala cinta, kehilangan, dan kerinduannya.

Karena pada akhirnya, mungkin yang paling ingin kita temukan bukanlah sekedar sebuah tempat untuk pulang, melainkan jalan menuju diri kita sendiri.

Itulah sebabnya saya sangat merekomendasikan Pulang. Bukan hanya karena ia berhasil mengangkat salah satu babak paling rumit dalam sejarah Indonesia dengan riset yang kuat dan narasi yang memikat, tetapi juga karena ia mampu berbicara tentang hal-hal yang jauh lebih universal: identitas, keluarga, kehilangan, kematian, dan kerinduan manusia untuk menemukan rumahnya.

Dengan karakter-karakter yang hidup, struktur penceritaan yang matang, serta kedalaman tema yang terus mengendap bahkan setelah buku ditutup, Pulang bukan sekadar novel sejarah yang apik. Bagi saya, ia adalah salah satu novel Indonesia terbaik yang pernah saya baca—sebuah karya yang tidak hanya layak dibaca, tetapi juga layak dikenang.

Saturday, 20 May 2023

Resensi Novel Laut Bercerita – Ingatan, Kekerasan, dan Tubuh yang Hilang


 

"Matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali...”


Apa yang tersisa ketika seseorang hilang, tetapi tidak pernah dinyatakan mati?

Pertanyaan ini menjadi inti kegelisahan dalam novel Laut Bercerita karya Ibu Leila S. Chudori. Berbeda dengan Pulang (novel Bu Leila yang telah terbit sebelumnya) yang bergerak dalam lanskap diaspora dan eksil, novel ini justru menukik ke jantung kekerasan negara—pada tubuh-tubuh yang disiksa, disenyapkan, dan akhirnya dihapus dari sejarah resmi.

Mengambil latar menjelang runtuhnya rezim Orde Baru dan momentum Reformasi 1998, Laut Bercerita tidak sekadar menjadi narasi historis, tetapi juga ruang etis: sebuah pengingat bahwa ingatan adalah bentuk perlawanan paling sunyi sekaligus paling bertahan.


Sekilas Tentang Laut Bercerita

Tokoh utama, Biru Laut, adalah seorang aktivis mahasiswa yang terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap rezim otoriter. Ia dan kawan-kawannya mengalami penangkapan, penyiksaan, hingga akhirnya “menghilang”—sebuah istilah yang dalam konteks politik Indonesia menyimpan makna yang jauh lebih gelap daripada sekadar tidak ditemukan.

Narasi kemudian bergeser ke sudut pandang Asmara Jati, adik Laut, yang mewakili mereka yang ditinggalkan. Jika Laut adalah suara dari dalam kekerasan, maka Asmara adalah suara dari luar—yang berhadapan dengan ketidakpastian, kehilangan, dan absurditas birokrasi negara.

Di sinilah Laut Bercerita bekerja secara ganda: sebagai kesaksian dari korban, sekaligus sebagai refleksi dari mereka yang harus hidup dengan kehilangan yang tidak pernah selesai.


Kekerasan dan Tubuh Sebagai Medan Politik

Salah satu aspek paling kuat dari novel ini adalah bagaimana tubuh diposisikan sebagai medan politik. Penyiksaan yang dialami Laut dan teman-teman aktivisnya bukan hanya tindakan fisik, tetapi juga upaya sistematis oleh negara untuk menghancurkan identitas dan kehendak dari pihak-pihak yang dipandang mengganggu stabilitas.

Dalam perspektif ini, tubuh tidak lagi sekadar biologis—ia menjadi ruang di mana kekuasaan bekerja secara paling brutal. Negara hadir bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai entitas yang memiliki otoritas untuk menentukan siapa yang boleh hidup, siapa boleh mati, dan siapa siapa yang harus dihilangkan.

Kekerasan dalam Laut Bercerita tidak ditampilkan sebagai sensasi, melainkan sebagai pengalaman eksistensial yang mengguncang—memaksa pembaca untuk tidak sekadar “mengetahui”, tetapi juga merasakan. Dan melalui deskripsi di novel ini, Bu Leila dengan sangat jeli menggambarkannya hingga kita sebagai pembaca turut merasakannya dengan miris.


Penghilangan Paksa dan Absennya Kepastian

Penghilangan paksa menjadi tema sentral yang membawa novel ini ke ranah yang lebih filosofis: tentang absennya kepastian. Tidak ada tubuh, tidak ada makam, tidak ada konklusi dari kasus tersebut.

Dalam kondisi ini, kehilangan menjadi sesuatu yang menggantung—tidak pernah benar-benar selesai. Keluarga korban hidup dalam ambiguitas: antara berharap dan merelakan, antara percaya dan menyerah.

Melalui sudut pandang Asmara, Bu Leila menunjukkan bahwa kekerasan tidak berhenti pada korban langsung. Ia menjalar, menjadi beban kolektif yang diwariskan secara emosional pada keluarga, serta orang-orang yang ditinggalkan.


Ingatan sebagai Perlawanan

Bicara soal sejarah yang selalu dituliskan oleh pemenang, jika negara berusaha menghapus, maka ingatan adalah cara untuk melawan.

Laut Bercerita secara konsisten menempatkan ingatan sebagai elemen utama. Narasi yang berpindah antara masa lalu dan masa kini menunjukkan bahwa sejarah bukan sesuatu yang selesai—ia terus hidup dalam kesadaran individu dan kolektif.

Dalam konteks Reformasi 1998, novel ini juga mempertanyakan: sejauh mana perubahan politik benar-benar menyentuh keadilan bagi korban?

Pertanyaan ini tidak dijawab secara eksplisit. Justru dalam ketidakpastian jawaban itulah, novel ini menemukan kekuatannya—ia membuka ruang refleksi, bukan memberikan kepastian.


Relasi Keluarga: Intimasi di Tengah Kekerasan

Di balik narasi politik yang keras, Laut Bercerita tetap menyisakan ruang intim: relasi keluarga, persahabatan, dan cinta.

Hubungan antara Laut dan keluarganya; Ayah, Ibu, dan Asmara, menjadi jangkar emosional yang membuat cerita ini sangat manusiawi. Kekerasan yang besar terasa semakin nyata justru karena ia merusak sesuatu yang sangat personal — perasaan dan jiwa orang-orang yang ditinggalkan.

Di sini, Bu Leila menunjukkan kepekaan dalam menulis, bahwa tragedi politik selalu memiliki dimensi domestik yang seringkali terabaikan.


Estetika Narasi: Antara Kesaksian dan Fiksi

Secara stilistika, novel ini bergerak di antara dua kutub: dokumentasi sejarah dan fiksi. Detail sejarah dan realitas politik disajikan dengan riset yang sangat kuat, sehingga membacanya terasa seperti membaca sebuah kronik daripada sekedar karya fiksi. Meski begitu, detail sejarah yang sangat dalam tersebut tetap dibalut dengan narasi yang puitis dan emosional, sehingga menempatkannya sebagai karya sastra modern yang sangat apik.

Alur waktu yang tidak linear, serta perpindahan sudut pandang antara Laut dan Asmara menciptakan dinamika yang tidak hanya memperkaya cerita, tetapi juga memperluas perspektif pembaca: dari pengalaman langsung korban hingga dampak jangka panjang bagi keluarga.

Struktur ini menegaskan bahwa kebenaran tidak tunggal—ia selalu hadir dalam fragmen-fragmen yang saling melengkapi.


Catatan Pribadi

Sebagai karya yang sarat akan muatan historis dan sangat emosional, Laut Bercerita tidak selalu mudah diakses. Intensitas kekerasan dan kedalaman tema dapat menjadi pengalaman yang cukup berat bagi sebagian pembaca, terlebih bagi pembaca pemula, atau pembaca usia muda yang terbiasa dengan tema-tema sederhana.

Namun bagi saya pribadi, justru di situlah letak urgensinya. Novel ini tidak menawarkan kenyamanan, melainkan kesadaran—bahwa ada sejarah yang tidak boleh dilupakan, sekalipun menyakitkan untuk diingat, dan novel ini berhasil merawat ingatan tersebut.

Pada akhirnya, Laut Bercerita bukan hanya tentang Laut sebagai individu, tetapi tentang “laut” sebagai metafora—sesuatu yang luas, dalam, dan menyimpan banyak hal yang tak terlihat di permukaan, serta tentang "laut" yang mungkin menjadi persinggahan terakhir Laut dan kawan-kawannya.

Laut di sini adalah ingatan kolektif yang terus bergelombang, meskipun negara berusaha meredamnya.

Melalui karya Ibu Leila S. Chudori ini, kita diajak untuk memahami bahwa keadilan tidak selalu hadir dalam bentuk yang nyata. Terkadang, ia hanya hidup dalam ingatan—dan dalam keberanian untuk terus menceritakan, karena pada akhirnya merawat ingatan dan menyampaikannya pada generasi selanjutnya adalah sebuah bentuk perlawanan dan statement bahwa kita tidak akan pernah tunduk pada kekuasaan yang lalim.

Dan mungkin, selama cerita itu masih ada, mereka yang hilang tidak pernah benar-benar lenyap. Karena mereka menjelma sebagai ingatan kolektif kita bersama.

Friday, 1 December 2017

Saman dan Larung



10/10 untuk Saman (1998) dan Larung (2001) karya Ayu Utami. Terserah kamu sependapat atau tidak, ini subjektif. Kali pertama aku kenal buku ini adalah dari sebuah artikel jurnal komunikasi tentang representasi perempuan dalam novel Larung. Dari yang kubaca dalam artikel, awalnya aku mengira novel ini bercerita tentang 4 sahabat di kota metropolitan dengan kehidupan seksual dan intrik romantisme masing-masing. Beberapa hari setelahnya aku mendapat pinjaman novel Larung dari pacarku, milik mamanya tepatnya, dan perkiraanku salah. Novel ini jauh jauh dan jauh lebih kompleks daripada sekedar itu. Politik, sosial, ketidak adilan, seksual, bahkan agama dan ketuhanan menjadi bahasan dalam novel yang kebanyakan mengambil setting di jaman orba ini. Beberapa hari setelahnya, aku tertarik untuk segera mencari dan membeli prequel-nya, Saman. Harusnya Larung adalah buku kedua, tapi keduanya bisa dibaca terpisah, jadi buatku tak masalah mana yang hadir lebih dulu. Membaca Saman lebih memantapkanku untuk mengamini pendapat bahwa karya ini monumental, dengan bukti 30 kali cetak ulang dan terjemahan dalam 8 bahasa. Integritas penulisnya serta background pengetahuan dan riset yang mendalam membuatku mengenal banyak hal baru saat membacanya; seperti di antaranya pergerakan buruh dan petani, atau etimologi kata onani. Berbagai penghargaan menjamin kualitas kesastraannya, maka dari itu novel ini patut banget dibaca kamu-kamu khususnya yang sudah dewasa, tentunya dengan catatan bahwa kamu mewajarkan imajinasi tentang persenggamaan atau terbiasa dengan kata-kata vulgar macam kontol, perek, dan sebagainya, hellooow ini bukan novel Tere Liye yang menye-menye!

Monday, 23 October 2017

Zine 'Kebun Tebu' #1

Satu lagi zine menarik yang bisa menambah koleksi bacaan kalian!


Sekilas tentang Kebun Tebu; merupakan sebuah zine feminis kolektif yang dieditori oleh salah seorang rekanku, Dessyrachms -seorang seniman muda asal Madiun yang telah menyelesaikan program pendidikan master keseniannya di kampus ISI Yogyakarta. Sebagaimana diungkapkan sang editor, "Saya dengan pertaruhan gelar saya, siap menyunting tulisan anda dalam layout dari ilustrasi yang terkumpul tanpa merapikan ejaan yang dibebaskan," zine ini berisi tulisan-tulisan dan ilustrasi  yang bebas dan alternatif dari setidaknya 13 orang kontributor yang kesemuanya adalah perempuan, jadi tentu saja kita bakal disuguhkan bahasan tentang perempuan dari sudut pandang perempuan itu sendiri, itu poinnya.

Kebun Tebu menghadirkan kajian-kajian tentang perempuan yang cenderung ditampilkan dengan kontradiksi-kontradiksi tertentu. Sebagaimana editor mengantar kontennya dengan kutipan, "Yang manis tapi belum dikemas putih gula. Yang Manis tanpa diaduk. Yang manis dan kokoh enggan dilarutkan, meski nantinya akan", zine ini berusaha menyuarakan kegelisahan perempuan (setidaknya dari sudut pandang para kontributornya) dengan lantang, namun tanpa meninggalkan kesan-kesan ‘kewanitaan’-nya. Ya, kita tahulah jika adat tak pernah menganggap ideologi perempuan adalah hal yang wajar diutarakan, apalagi dengan menggebu-gebu... Oh patriarki...

Bagi kalian yang menginginkan rilisan fisik dari zine ini, dapat langsung disapa editornya via instagram @dessyrachms, atau bisa langsung mengakses versi digitalnya pada link sebagai berikut:


Akhir kata, tetap berpikir dan melawan! Salam...

Wednesday, 18 October 2017

Sebelum Tidur Zine #Issue 1

Sebelum Tidur Zine Issue1

Seperti yang sudah kubilang sebelumnya bahwa aku berencana kembali menggratiskan zine-zine ku, maka terjadilah. "Sebelum Tidur" adalah zine yang kubikin sekitar 1 atau 2 tahun lalu aku kurang begitu ingat. Sebenarnya bukan cuma aku yang bikin sih, dalam zine ini aku cuma berperan sebagai editor dan distributor. Untuk isinya, kolektif. Sekilas tentang "Sebelum Tidur", zine ini berisi tulisan-tulisan ringan baik cerpen, prosa, maupun essay serta ikustrasi-ilustrasi lucu yang diharapkan bisa menjadi teman sebelum kamu-kamu tidur, sesuai namanya, emesh yha... Untuk issue 1-nya, kami berbicara tentang sebuah tema besar, "hujan". Alasannya? Karena aku suka saja... Issue kedua dari zine ini sedang dalam proses pengerjaan, akan segera kusebar seperti kuman ketika aku selesai mengerjakan semuanya. Ya, itu saja, namanya juga sekilas kan ya...

Sangat terbuka bagi kamu yang mau trade dengan zine lain, biar koleksi aku nambah juga heheu. Untuk kasus ini kamu bisa hubungi aku via email atau instagram yang alamatnya tertera di tab section blog ini. Kalau tidak ya kamu fotokopi sendiri saja aku pinjamkan master-nya, karena jujur aku tinggal menyimpan dua kopian dalam foto di atas ini saja, sudah habis dibagi-bagi tiap aku pergi. Atau kalau kamu tidak menghendaki fotokopi karena pemborosan penggunaan kertas masuk dalam area concern global warming, kamu bisa akses dan download versi digitalnya melalui link download berikut ini:


Sudah, sekiranya sekian saja postingan kali ini, salam...

Saturday, 7 October 2017

Reika Baggy Buggy Zine

Belakangan aku berpikir untuk kembali membagikan dan menyebarkan gratis zine-zine yang pernah kubuat seperti saat pertama kali bersenang-senang dengan media ini. Sejauh ini, ada setidaknya 5 judul zine yang pernah kubuat kalau aku tak salah ingat (link menyusul kalau sudah ada versi digitalnya), salah satu judul yang bisa kalian dapat adalah ini; "Reika Baggy Buggy Zine"!

Reika Baggy Buggy Zine #1 dan #2

Sekilas tentang "Reika Baggy Buggy Zine" ; adalah mini zine yang awalnya dinamai "Reika Strikes Again" dan dibagikan gratis sebagai ucapan terima kasih buat teman-teman yang membeli merch karyaku, ataupun dibagikan langsung saat teman-teman bertemu denganku, dengan catatan aku sedang membawa kopiannya pada saat itu. Pada awalnya, mini zine ini berisi kumpulan komikstrip dari @Amaliareika yang dicetak fotokopian dan dibagikan di beberapa event yang aku turut  menghadirinya, tapi ada sedikit perubahan di edisi keduanya; di mana selanjutnya ia memuat tulisan-tulisan cerita bikin senang, interview dengan kucing, music corner sembarangan, dan lain sebagainya yang dikerjakan suka-suka Reika. Intinya Reika ingin berbagi kebahagiaan dalam masing-masing 12-16 halaman.

Kalau kalian menginginkan, minta saja langsung ke aku! Kalau masih ada kopiannya ya ambil saja, kalau habis ya kopi sendiri aku pinjamkan masternya heheu, trade dengan zine punyamu juga bakal bikin aku semakin senang. Kalau tidak memungkinkan bagi kita bersua dan berkirim ria, bisa kamu download versi digitalnya melalui link yang tersedia di bawah ini , boleh kamu cetak, perbanyak, dan bagikan suka-suka ke teman-teman dengan riang gembira karena apalah arti copyright di skena alternative media, yang kalau kata Chris Atton (2002) lebih mengedepankan persebaran seluas-luasnya. Ah serius amat... 

Sudah ya, mari merayakan kebahagiaan :) Oh iya, ini link downloadnya:


Monday, 29 September 2014

Whatever You Think, Think The Opposite

stock image from google.com

“The world is what you think of it. So think of it differently and your life will change.” Paul Arden


Satu lagi tipe self-help book yang begitu menarik perhatian saya. ‘Provokatif’, satu kata untuk menggambarkan keseluruhan isi dari buku ini. Masih sama dengan judul pendahulunya, It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be, dengan brilian Arden mencoba merubah cara pandang seseorang mengenai suatu permasalahan, khususnya ‘hidup’.

Berkutat dengan format yang sama mengasyikkannya dengan rilisan sebelumnya, berisi anekdot, kisah pengalaman, quote yang provokatif, ilustrasi, dan mind-blowing layout yang membuat kita tak akan bosan membacanya berulang kali, Arden mencoba mengajak bahkan memaksa pembaca bukunya untuk memandang dunia dengan cara yang berbeda. “Don’t go to university, go to work!”, “Making the safe decision is dull, predictable, and leads nowhere new”, atau “Don’t be negative about rejection” mungkin akan membuat anda malu pada diri anda sendiri, persis seperti apa yang saya alami. Pasalnya, dengan sempurna Arden berhasil membalikkan apa yang sebelumnya dipandang ‘benar’ dalam suatu sistem dan membandingkannya dengan sesuatu yang baru dan berbeda berdasarkan cara pandang yang liar terhadap sistem itu sendiri.

Secara keseluruhan, dalam 144 halaman Arden mencoba menyampaikan bahwa tidak ada yang namanya ‘bad decison’ dalam hidup ini, bahkan ketika kita harus dipecat dari suatu pekerjaan atau menghadapi suatu penolakan. Berlandaskan pemikiran ala positivisme, Arden mengajak kita melihat ‘bad decision’ tadi dari sudut pandang yang lain, menjadi sebuah permulaan bagi suatu peluang yang baru. Bukan hanya itu, Arden bahkan membalikkan pandangan yang sudah terpatri pada sistem yang ada, mengajak kita melihat ‘safe decision’ menjadi sesuatu yang membosankan dan tak akan membawa suatu perubahan. Suatu cara unik untuk mempermalukan pembaca di hadapan dirinya sendiri. “If you always make the right decision the safe decision, the one most people make, you will be the same as everyone else. Always wishing life was different .” (Chandra)





It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be ; Bukunya Para Pemberontak

stock image from google.com

“… They become rich and powerful by wanting to be rich and powerful. Your vision of where and who you want to be is the greatest asset you have. Without having a goal, it’s difficult to score.” Paul Arden


‘Jangan takut menjadi sesuatu sesuai apa yang kamu inginkan’, persis seperti apa yang disampaikan Hosomi Ellegarden dalam Wannabies-nya, kira-kira hal itu jugalah yang ingin disampaikan Paul Arden dalam buku ini. Kita bisa menemukan berbagai pelajaran mengenai kreatifitas berdasarkan pengalaman Arden di industri kreatif yang disampaikan dan dikemas dengan menarik. Dengan alur yang mengasyikkan, Arden menyampaikan berbagai wejangan melalui anekdot, cerita pengalaman, quote, foto, dan ilustrasi yang menggelitik, membuat transmisi pesan menjadi begitu menyenangkan dan mudah untuk dipahami.

Tak heran jika buku ini menjadi salah satu World’s Best Selling, bahkan jika beberapa orang menyebutnya sebagai ‘buku sakunya insan kreatif’ dan memasukkannya ke dalam list wajib baca, dengan senang hati saya pun mengamininya. Pasalnya, melalui buku ini Arden memberikan banyak tips mengenai bagaimana kita menggali kreatifitas dan terus menjadi seorang yang kreatif dalam mewujudkan keinginan dan cita-cita. 

Di dalam buku ini, Arden begitu menekankan beberapa hal pokok, diantaranya untuk terus menjadi kreatif, jangan takut salah, dan tidak semua yang benar adalah baik, asalkan semua dilandasi dengan keinginan yang kuat dan suatu tujuan yang telah ditetapkan. Hal itu benar-benar saya rasakan khususnya pada “fail, fail again, fail better”, “it’s wrong to be right” dan “ it’s right to be wrong”. Hal ini memotivasi saya (dan mungkin para pembaca pada umumnya) bahwa untuk menjadi sukses, seseorang haruslah keluar dari zona nyaman, mengeksplorasi hal-hal baru, dan berpikir unconventional, meskipun hal itu menggandeng sebuah resiko yang harus dipikul bersama dengan kesuksesan yang akan diraih nantinya.

Beberapa orang mungkin akan berkata, “kenyataan tak semudah apa yang dikatakan Arden,” benar. Butuh cukup keberanian untuk menjalankan advice-nya. Seberapa beranikah kita mengambil resiko dalam hal menjadi kreatif sesuai yang disampaikan oleh Arden, tergantung dari diri kita sendiri. Seberapa besarkah kemauan kita untuk mendobrak dan melakukan pemberontakan terhadap pakem-pakem yang memenjarakan kreativitas, bukan hanya diam dan mengalir mengikuti arus utama. Sesuai kata Arden, “All creative people need something to rebel against, it's what give their lives excitement,..” itulah mengapa saya pribadi menasbihkan buku ini sebagai bukunya para pemberontak, bukan pemberontak dalam konotasi negatif, melainkan para pemberontak yang berani mendobrak hal-hal lazim untuk menemukan sesuatu yang benar-benar luar biasa dalam hidupnya.

Overall, saya begitu menikmati apa yang disajikan Arden dalam bukunya ini. 127 halaman terlewati dengan sangat menyenangkan, bukan sesuatu yang terlampau tekstual dan membosankan, karena kita akan disuguhi berbagai hal inspirasional yang dikemas dengan apik, baik dari segi penulisan, desain layout, dan ilustrasi berwarna yang mengasyikan. Oleh karena itu, saya akan merekomendasikan buku ini pada anda, entah anda seorang pelajar, pekerja, pebisnis, atau di lapisan manapun anda berada, lalu mari bersama-sama kita memberontak! (Chandra)

Tuesday, 10 December 2013

Ketika anda mengerti apa yang diinginkan wanita, maka sangat mudah bagi anda mendapatkan hatinya.

“Imagine the possibilities! If you know what women want, you can rule.”
(What Women Want – 2000)
          
Judul post yang terlalu panjang?! Yak! Karena saya hanya meng-copynya dari kalimat pertama yang saya tulis dalam paper tugas Advertising di kampus saya untuk membuat review mengenai film What Women Want dari sudut pandang pribadi seorang mahasiswa yang mempelajari advertising *slap*. Ya, tugas yang sangat menyenangkan seandainya tidak terbatas pada quest "diketik pada selembar kertas A4, times new roman 12 spasi 1,5, panjangnya review tidak boleh lebih dari satu halaman", mengingat saya adalah tipe orang yang betah menulis banyak hal ketika saya menyukai apa yang saya tulis.

Yah, karena saya rasa film ini cukup menarik, bolehlah kalau saya tulis juga sebagai isi dari postingan ini :v ya, memang boleh, karena ini blog pribadi saya,, jadi terserah saya :v


Ketika anda mengerti apa yang diinginkan wanita, maka sangat mudah bagi anda mendapatkan hatinya. Kira-kira sesederhana itulah konsep utama yang ditawarkan dalam film komedi romantis What Women Want besutan Nancy Meyers. Cerita berpusat pada Nick Marshall (Mel Gibson), seorang creative director pada sebuah advertising agency yang cukup disegani di masanya dengan menangani klien-klien besar untuk produk lelaki. Namun, seiring berjalannya waktu, tingkat konsumerisme wanita meningkat yang menyebabkan munculnya banyak produk wanita, dari sinilah permasalahan dimulai. Agency tempat Nick bekerja nyaris bangkrut karena tidak satupun klien berhasil mereka menangkan dalam pitching, untuk itulah didatangkan Darcy Maguire (Helen Hunt), seorang creative director wanita untuk menggantikan posisi Nick.

Darcy yang baru saja datang memberikan kotak-kotak berisi produk wanita untuk kemudian setiap anggota departemennya diminta membawa setidaknya sebuah ide iklan untuk produk-produk tersebut. Nick, creative director sebelumnya yang memang cenderung seorang chauvinis merasa tertantang dan yakin bahwa dirinya akan datang dengan ide-ide tersebut. Namun kenyataanya, mendapatkan ide tidak semudah membalikkan telapak tangan. Nick mulai mencoba produk-produk tersebut dengan harapan mengerti apa yang diinginkan wanita, hingga sebuah kecelakaan elektronik menimpanya, membuat dirinya mendapat sebuah kemampuan untuk mendengar apa yang dipikirkan wanita.

Di sini saya tidak akan membuat review utuh mengenai film tersebut, melainkan hanya berdasarkan pandangan saya sebagai mahasiswa yang mempelajari advertising. Singkatnya, dengan kemampuannya tersebut akhirnya Nick dapat mempresentasikan idenya untuk produk dari Nike, yang mana ide tersebut merupakan ide orisinil dari Darcy yang dia curi dengan kemampuannya tersebut.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kita tidak akan membahas bagaimana hubungan cinta antara Nick dan Darcy ataupun trivia-trivia lainnya di sini. Sebagai mahasiswa yang mempelajari advertising, saya merasa film ini merupakan poret mengenai bagaimana mempelajari audiens merupakan hal yang paling penting dalam advertising ; dalam film ini wanita. Pesan yang ingin disampaikan bahwa ketika anda memahami keinginan wanita, maka anda dapat menguasainya telah disampaikan dengan baik dan dapat menjadi refleksi dari kegiatan advertising itu sendiri, di mana ketika kita ingin meraih hati audiens, maka kita harus memahami keadaan target audiens dan apa yang mereka inginkan supaya iklan yang kita buat tepat sasaran. Untuk itulah kegiatan riset sangat penting dalam dunia advertising karena kita tidak memiliki kemampuan spesial seperti yang dimiliki Nick. :)

Sunday, 8 December 2013

Toh semua berawal dari keinginan menjadi...

"Close your eyes fast and you can become the one you wanna be!
We wanna be, we wanna be J.Hendrix. We wanna be, we wanna be Bruce Lee. We wanna be, we wanna be A.Einstein. We are wannabies. We can dream it."
(Ellegarden – Wannabies)

Pernahkah kalian membayangkan ingin menjadi si A, ingin menjadi si B, ingin menjadi si C, atau menjadi si Z? Kalau saya, tentu saja sering. Saya ingat betul bagaimana saya membayangkan diri saya menjadi seorang anak terpilih dan masuk ke dalam dunia digital, berpartner dengan seekor Digimon, dan dengan teriakan serta semangat saya, saya dapat membuatnya berevolusi menjadi wujud yang lebih keren. Oke, itu yang paling saya ingat tentang saya ingin menjadi apa di waktu kecil. Beranjak dewasa, 'keinginan menjadi apa' milik saya sedikit menjadi lebih realistis, meskipun tentu saja hal itu masih menyandang gelar imajinatif. Saya ingin menjadi Bruce Dickinson, siapa tak kenal vokalis band metal raksasa sekaliber Iron Maiden, yang juga merupakan seorang pilot, penulis, aktor, penyiar, dan direktur pemasaran namun tetap membawa image badass-nya? Ya, Bruce adalah sosok orang sukses dan bahagia di mata saya, karena bagi saya orang sukses dan bahagia adalah mereka yang tetap bisa memanjangkan rambut di tengah kesuksesannya, just IMHO, note it! Yah, kalau coba saya ingat satu per satu, tak terhitung betapa banyaknya 'keinginan menjadi apa' milik saya... Bahkan sampai sekarang pun, seringkali saya membayangkan seandainya saya menjadi si ini ataupun si itu, meskipun dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya, saya adalah saya yang hanya akan menjadi saya di masa depan.

Ya, bagaimanapun saya hanya akan menjadi saya, meskipun mungkin saja saya di masa depan adalah saya yang kesuksesannya menyerupai Bruce *amin...* karena saya mengidolakannya.

“Any time at any place, there're people struggling to figure out what is the point of being real and what is the point of being original.”

Being a copycat is freakin annoying, isn't it? Ya, setidaknya itu yang saya dapat dari pesan yang ingin disampaikan Hosomi melalui Wannabies-nya. Tidak salah bagi kita mengidolakan seseorang dan ingin menjadi dia. But notice that there's a difference between "influence" and "plsgiarism"!

“Close your eyes and you can see it, your name is on the cover of your book! You are self-titled.”

Dengan adanya keinginan untuk menjadi seseorang yang diikuti dengan kesadaran bahwa kita adalah kita, bukan nggak mungkin buat kita menjadi sesukses orang yang kita inginkan menjadi dia dengan cara dan identitas sendiri. Kalau kata saya, jangan takut untuk bermimpi menjadi atau bahkan meniru orang yang bagi kita menjadi inspirasi, karena dalam menemukan originalitas dibutuhkan proses bukan? Toh semua berawal dari meniru dan keinginan menjadi :)





Saya percaya nggak ada orang yang berhenti bermimpi, kecuali orang mati.
Solo, 8.12.13