Showing posts with label jurnal harian. Show all posts
Showing posts with label jurnal harian. Show all posts

Saturday, 26 December 2020

Kalender 2021 Gratis

2020 menjadi tahun yang benar-benar bizzare dari tahun-tahun sebelumnya, tentunya karena pandemi Covid19 mewabah. Bagi semua orang yang terdampak, Covid memang brengsek -- meskipun tidak lebih brengsek dari bajingan-bajingan yang bersenang-senang di atasnya, termasuk orang-orang yang tega korupsi dana sosial. Saya heran, diberi makan apa orang-orang ini, dibesarkan dengan cara bagaimana, dan diisi apa otak mereka kok bisa-bisanya tumbuh jadi manusia hina... Tapi sudahlah, saya tidak sedang berniat untuk nge-rant di sini, melainkan sebaliknya; bersyukur karena saya masih hidup, bersyukur karena kita semua masih sehat.


2020 memang benar-benar bizzare, di samping hal-hal kelam yang rasanya ingin dibuang saja dari ingatan, tidak sedikit pula hal-hal baik yang bisa diambil pelajaran. Saya bersyukur dengan adanya lockdown, saya jadi bisa lebih banyak berkumpul dengan keluarga karena kami semua WFH. Saya jadi punya lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi hal baru, seperti bermain bass, menulis lagu, menemukan pasar baru dalam menggambar, dan sebagainya. Banyak pencapaian-pencapaian tak terduga yang justru datang di tahun yang penuh dengan segala keanehannya ini, dan saya yakin kalian pun menemukannya. Untuk itu, saya ingin lebih bersyukur atas apa yang saya alami selama setahun belakangan.


Kebahagiaan akan lebih nikmat jika dibagikan dan dirasakan bersama. Tadinya saya bingung, bagaimana cara membagikan kabar baik pada kalian di saat kita semua berjauhan, sampai suatu ketika saya terpikir untuk membagikannya lewat karya yang mungkin akan sedikit berguna bagi kalian mengingat hari ini tanggal berapa dan besok mau apa. Dengan ini saya ingin menyampaikan kalau 2020 saya baik-baik saja dengan segala masalah yang ada, dan saya berharap serta yakin kalian juga... Semoga tahun depan akan jadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya...


DOWNLOAD KALENDER 2021




Berikut adalah preview Kalender 2021 yang bisa kalian download gratis dan cetak mandiri dengan meng-klick link "Download Kalender 2021" di atas.

Friday, 8 June 2018

Kabar Baik

Lebaran identik dengan kebersamaan dan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang terkasih. Nggak jarang, momen ini digunakan oleh sebagian dari kita untuk berbagi angpao THR untuk kerabat dan anak-anak. Berbagai desain amplop lucu bertebaran dan dijual bebas, sayangnya, sejauh yang kualami desainnya begitu-begitu saja dan tampak membosankan. Untuk anak-anak dan orang awam, mungkin hal ini tak begitu penting. Tapi untuk kita-kita yang memutuskan untuk terjun di industri kreatif, hal ini sama pentingnya dengan pandangan kritis terhadap daftar menu makanan yang tata visualnya tabrak lari. Heheu~

Sampai akhirnya tahun lalu salah satu temanku, Audianarayani merilis artwork seri amplop lebaran yang disebarkan secara cuma-cuma. Hal ini jadi menarik buatku -- bagaimana teman-teman artis merilis amplop-amplop lebaran versi mereka sendiri. Beberapa menjualnya sebagai merchandise, beberapa lainnya memilih untuk tetap membagikannya gratis, entah dengan alasan berbagi, bersenang-senang, atau apalah, bebas -- dan aku memilih opsi yang kedua.

Yap, di lebaran kali ini, aku mau berbagi sebuah desain amplop yang kukerjakan di sela-sela kesibukan kerja. Konsepnya sederhana --biasa juga karena banyak rekan-rekan artworker yang bermain dengan cara ini juga-- merupakan karya plesetan dari desain kemasan Kopi Kapal Api. Alasannya simpel, kopi ini yang sering kali kuminum sembari bekerja, jadi tiap hari lihatnya bungkus-bungkus  ini juga, haha.

Kabar Baik - Designed by Chanchanscraw, based on the original version owned by PT Kapal Api.
Not for commercial use.
Kabar Baik - Designed by Chanchanscraw, based on the original version owned by PT Kapal Api.
Not for commercial use.

Nah, buat kalian yang ingin menggunakannya, dapat didownload dengan gratis template-nya melalui link berikut ini:

Download Template Amplop Kabar Baik


Silahkan dicetak, dilipat-lipat, direkatkan dengan lem, dan digunakan untuk berbagi kebahagiaan :D Gunakan dengan bijak, ya! Tidak untuk diperjual-belikan. Panjang umur senang-senang~

Friday, 12 January 2018

Bodong


We first met about 7 months ago, not too long for us to become best friends. He came to our home along with his father, that time he was just 3 or 4 months old I guess. At first, he was just a shy lil cat. He was hiding while his father roaming around looking for some foods. My mom who saw them first then gave them some snacks and water, no need a long time they have already been so close to us. Day after day they lived in our car port til one of our neighbors​ told us to adopt them. Since we already have two cats at home, so we approved his request. Two day after that, we heard a cat meowing continuously. I searched then I found that this lil cat from before was on our roof asking for help, but that time he was alone without his father. I wondered if he escaped from the neighbor's home just to go back here. My mom asked me to help him since he looked so scared to jump down, and that moment when I helped him was the first time he got forever home and became a part of our family.

We gave him some medical treatment  first like pirantel pamoat, antiflea, and antibiotics since he came back with a wound below his mouth. We wanted him to become an healthy cat so that he wouldn't bring disease to our Nyannyan and Kimi. Long story shortened, my mom called him "Bodong", and it became his name since he actually has a bulge of navel which called 'bodong' referred to Javanese language. He looked so glad with his new name. Everytime we called, he would come running then rubbed his head against our hand or feet. 

Day by day passed by, he officially lived here in our home and his old wound below his mouth has already totally healed. We never discriminated him against the other two just because he was the only local domestic cat here, they got the same treat one another, so he was also given a necklace coloured blue which I thought it suits his fur color.  The most interesting thing about our togetherness is the fact that Bodong was so clever and loyal cat. He would come just by heard our call even when he was about too far and we couldn't see each other, just by a name called he would run to us. He would follow us when we wanted him to follow even without a harness, and he would move his ass out even when he was on sleep just because we ordered him to. He often brought us a present even it was just a random dry leafs, an insect, plastic bag, or whatever he got, just to show how he was grateful to live with us. He often meowing to called my mom to show something like it was a proof that he was a loyal kid. Amongst the 3 of cats, he became the most closest one to my dad that even made Nyannyan felt jealousy sometimes. Time flight, in about 2 months he became a handsome young-adult cat with so fine red fur and well muscled body. He even bravely fought a dog to protect a bowl of catfood in our porch. Yeah it was about our Bodong! 

But sadly, this is the last day of him. After 5 days fought against distemper, finally he passed away right on the sixth day. The doctor said that the fifth day was the line between life and death for cats infected by panleukopenia. And he survived until that day.

He's such a hella strong boy. He even survived from a half death because of raticide before. But this time he prefer to go to the rainbow bridge. Maybe it's the best for him, he's no longer in pain.

Rest in peace my friend, Bodong,... See you when I see you on the rainbow bridge :')

Sunday, 7 January 2018

Kapan Kawin?



Alkisah, ada seorang ukhti yang bercerita tentang pengalaman rekan lelakinya yang bernama Oki. Dikisahkan si Oki ini adalah seorang lelaki yang sering membantu dalam pelaksanaan acara pernikahan teman-temannya. Suatu saat, bertemulah ia dengan seorang mahasiswi semester akhir bernama Nisa. Si Oki pun bertanya, "Mbak, sudah siap kawin?" yang kemudian dijawab oleh Nisa, "Belum, saya ingin membahagiakan orang tua saya dengan menyelesaikan skripsi dan lanjut kuliah lebih tinggi."

Singkat cerita, obrolan keduanya tentang pernikahan berlanjut, di mana pemikiran cupet si Oki beranggapan bahwa menunda nikah untuk kuliah bukannya akan membahagiakan orang tua si Nisa, justru bakal menempatkan mereka pada keresahan, bahkan kekecewaan -- jika sampai akhirnya Nisa jadi perawan tua karena tak ada lagi laki-laki muda yang mau melamar perempuan matang dan terlalu mapan dari segi pendidikan. Minder katanya...

Mendengar cerita ini, tetiba tanganku gatel ingin 'ngeplaki' orang bernama Oki ini. Alasannya; pertama, Oki ini siapa? Teman dekat bukan, apalagi keluarga, kok berani-beraninya nyampurin urusan orang lain tentang pernikahan yang harusnya personal dan sangat sakral, bedebah. Dia bahkan tak mengenal si Nisa ataupun tahu bagaimana latar belakangnya. Sok tau nian ia sebagai manusia?

Kedua, siapa pula si Oki ini kok bisa-bisanya menggeneralisir bahwa semua orang tua bakal bahagia kalau anaknya nikah muda? Survey dari mana? Riset model apa? Toh jaman sekarang nggak jarang orang tua yang ingin anaknya sekolah tinggi, encourage anaknya buat sekolah ke luar negeri, biar apa? Biar pintar dan ndak ndak mudah terpengaruh basa-basi busuk laki-laki insecure macam si Oki ini. 

Ketiga, kalau alasannya segerakan menikah untuk menghindari zina, lha po rumangsamu semua orang nikah cuma karena pikiran bakal ewe'an yang berkecamuk sampai tak tertahankan, yang satu-satunya jalan untuk menghindarinya agar tak dosa adalah dengan segera menikah? Kuwi lak pikiranmu sing cupet lan dibuntel cawet!! Please, Oki, ndak semua orang yang menunda nikah semesum itu. Menikah bukan perihal bisa ena-ena tanpa label zina yang berujung dosa -- lebih kepada bagaimana menyatukan dua keluarga dari dua manusia yang pada akhirnya mengikat janji untuk saling setia. Aku yakin sudah banyak pemuda jaman sekarang paham akan hal ini, nggak melulu secupet pemikiranmu.

Keempat, serelijius apa sih si Oki ini sampai bawa-bawa agama buat nyampurin urusan yang bukan haknya? Justru orang-orang macam Oki inilah yang sesungguhnya meragukan kebesaran dan kehendak Tuhan akan konsep "JODOH". Lha rumangsamu semakin tua umur perempuan, semakin tinggi pendidikannya, semakin berilmu dia, terus Tuhan jadi ndak mampu atau ndak mau ngasih dia jodoh? Rumangsamu Tuhan ki mak comblang ecek-ecek? Ojok takabur Ki, Oki!!! Lha wong nenek-nenek yang berumur lebih dari dua per tiga abad saja diberikan oleh Tuhan jodoh pemuda umur belasan. Kowe ki terlalu sombong dengan meragukan kebesaran Tuhan, ki!

Terakhir, kalau si Oki bilang mana ada laki-laki muda yang mau sama perempuan tua yang mapan pendidikannya, bakal lebih banyak mindernya... Hellaaaaaww,, perempuan mapan dan cerdas juga ndak bakal mau sama laki-laki cemen dan minim kualitet model njenengan!

Haduh... Aku jadi ngerant terus bingung mengakhirinya. Lagipula, siapa pula aku? Kenal Oki aja endak kok ngomen dan nanya-nanya... Lagipula cerita yang dikisahkan sang ukhti mungkin hanyalah fiktif belaka, maka tulisanku juga tak spesifik menunjuk Oki yang mana. Ya sudah lah, ditutup saja... Tapi sebelum itu, aku punya sedikit saran tuk kalian yang mungkin suatu saat bertemu rangorang macam si Oki ini... Dekati dan rangkul dia, sibak rambutnya dengan penuh kelembutan karena mungkin mereka adalah tipe orang yang kurang kasih sayang, dekatkan kepalamu, lalu bisikkan di kupingnya dengan penuh rasa khidmad, "HILIH KINTHIL~"

Wednesday, 3 January 2018

Najib Martil

Najib Rifa'Abdullah a.k.a Najib Martil

Beberapa tahun lalu saya mengenal seorang pemuda bernama Najib dari sebuah kelas sharing yang saya adakan bersama beberapa teman lain. Tulisan ini akan menjadi sangat membosankan dan membuat saya tampak sebagai seorang hipokrit seandainya saya terus-terusan memuji dan menulis hal baik tentangnya, oleh karenanya tidak saya lakukan. Awalnya, saya yang memang merupakan orang yang cenderung 'risinan' kalau kata orang Jawa merasa jengkel dengan kelakuan sobat yang satu ini. Bagaimana tidak, ketika teman-temannya yang lain sibuk mengutarakan pendapat dalam brainstorming dia justru diam seakan tak menunjukkan sedikitpun kesinambungan, the fuck ur still here?!! Tapi akhirnya, kali kedua, tiga, empat, dan pertemuan-pertemuan selanjutnya, barulah saya sadar kalau ada kesungguhan dan keuletan dalam dirinya. Hal itu juga yang membuat saya dan rekan saya yang saat itu tengah merintis sebuah start up untuk merekrutnya daripada kandidat lain.

Najib bersama tim SOLOCULT.COM tengah mengerjakan shooting content 'Teng-Teng Crit' bersama Band Fisip Meraung

Beberapa waktu bekerja bersama kami, tak jarang Najib membuat saya dan rekan saya jengkel karena manajemen waktunya yang sorry to say anak kos banget, tapi itu semua terbayar dengan loyalitas yang ditunjukkan, keuletan, sifat ringan tangan, dan sikap lucunya -- apa adanya, slengean, tapi suka salting kalau jadi pusat perhatian. Saat itu, hari-hari di tim kami terasa menyenangkan, apalagi kalau bukan karena adanya Najib sebagai bahan 'ceng-cengan'. Hal ini juga yang membuatnya mendapat begitu banyak nama julukan seperti Najib Gumo'ong, Najib Fushtang, Genji Jowo, dan sebagainya, namun yang paling mengena bagi saya adalah Najib Martil, mengingat di suatu kesempatan ia tampil dengan kombinasi rambut dan muka yang menyerupai hiu martil, seram...

Beberapa bulan lalu setelah wisudanya, saya dengar dia kembali ke Jakarta, kota asalnya. Terakhir kali kami berjumpa adalah di kampus, saat itu saya dengar ia tengah mengurus syarat-syarat kuliah ekstensi. Masih tetap sama dengan converse putih lusuh, jaket jeans yang kelewat belel sampai banyak sobekan di sana-sini, dan gelang-gelang yang hampir tak pernah dilepas dia meneriaki saya, "Bajingaaaan suwe ora ketemu, Mas!" yang tentu saja saya jawab dengan umpatan pula, "Asuuuu,, kowe jare wes ora neng Solo!" yang kemudian dilanjutkan dengan dia menghampiri saya, menyalami, dan memberi pelukan. Ya, pelukan persaudaraan yang seandainya ada aktivis CELUP di situ lalu mengambil foto kami pasti akan saya hajar mukanya saat itu juga.

Saya dan Najib dalam suatu projek desain website.
Tak pernah menyangka kalau pertemuan yang singkat dan tanpa soto -- makanan favorit kami di saat sore hari sepulang dari kantor dengan perut keroncongan -- itu akan menjadi pertemuan terakhir saya dengannya, setelah malam tadi saya mendapat kabar dari rekan saya bahwa ia telah meninggal dunia. 

Bagaimana tidak gemetar ketika kamu mendapat kabar tentang meninggalnya orang yang ikut ambil bagian dalam proses pendewasaanmu 2-3 tahun belakangan, yang ikut jadi teman saat jatuh dan bangun, yang bahkan tempo hari ia masih meninggalkan like pada postingan instagrammu --ya dia memang termasuk orang yang paling rajin memberikan like pada postingan saya-- tapi sekarang dia telah pergi mendahului kita semua.

Kematian memang merupakan hal yang tidak pernah terduga, oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita selalu mengingat dengan berbuat baik selagi kita hidup dan bisa...

Selamat jalan sobat, @najibrifaa . Semoga diberikan ketenangan di sana. Tetaplah rajin membantu bila nanti di sana ketemu orang-orang baru! Beri mereka japa-japa dan ajak tertawa dengan guyonan klasik 'fushtang'-mu yang sangat tidak lucu tapi bikin saya tak bisa menolak untuk tertawa. Bertemanlah dengan orang-orang di sana jika ada, dan tetap loyal seperti biasanya! Semesta selalu memberkatimu...

Tuesday, 2 January 2018

Pulang



Pulang menjadi kata yang cukup kompleks tergantung pada konteks. Pulang tidak selalu identik dengan bahagia, tak selalu juga identik dengan sedih. Pulang tak selalu ke rumah, rumah tak juga selalu jadi tempatmu pulang.

Aku adalah orang yang selalu merindukan rumah, karenanya aku akan sangat bahagia jika suatu ketika pulang setelah lama berpergian. Tapi pulang tak selalu bahagia pula buatku yang di lain kesempatan berarti aku harus meninggalkan perempuanku.

Tahun baru adalah momen di mana berkumpulnya keluargaku. Kepulangan mereka ke kota asal kami menjadi momen menyenangkan yang ditunggu-tunggu. Setelahnya, kepulangan mereka kembali ke kotanya masing-masing menjadi momen yang sarat akan kesepian.

Pulang menjadi benar-benar kompleks dan kontradiktif. 

Pulang tak selalu identik dengan rumah. Perempuanmu, laki-lakimu, akan jadi tempatmu pulang di manapun mereka berada. Meskipun itu bukan di rumah. Tuhan, Pangeran, Dewa, dan apapun itu entitas maha, akan jadi tempatmu pulang pada akhirnya...

Kalau ada...

Monday, 1 January 2018

2018 and I'm still alive



Kalau diingat-ingat, 2017 menjadi tahun yang lumayan berat buatku, yang bahkan sampai hari terakhir pun aku berada dalam kondisi yang kurang sehat, heheu. Aku memulai tahun ini dengan optimistis tinggi, tapi banyak hal tak terduga terjadi :) syukurnya, aku masih hidup sampai saat ini, dan kata orang bijak, masa lalu dan pengalaman adalah guru yang paling berharga. Tahun depan biar jadi kejutan, tak perlu mengumbar resolusi, jalani saja dengan sepenuh hati, ciyaaaa~ Selamat tahun baru, semoga hari-harimu menyenangkan! Kamu semua keren bisa bertahan di dunia yang semakin absurd ini :* Salam...

Friday, 1 December 2017

Saman dan Larung



10/10 untuk Saman (1998) dan Larung (2001) karya Ayu Utami. Terserah kamu sependapat atau tidak, ini subjektif. Kali pertama aku kenal buku ini adalah dari sebuah artikel jurnal komunikasi tentang representasi perempuan dalam novel Larung. Dari yang kubaca dalam artikel, awalnya aku mengira novel ini bercerita tentang 4 sahabat di kota metropolitan dengan kehidupan seksual dan intrik romantisme masing-masing. Beberapa hari setelahnya aku mendapat pinjaman novel Larung dari pacarku, milik mamanya tepatnya, dan perkiraanku salah. Novel ini jauh jauh dan jauh lebih kompleks daripada sekedar itu. Politik, sosial, ketidak adilan, seksual, bahkan agama dan ketuhanan menjadi bahasan dalam novel yang kebanyakan mengambil setting di jaman orba ini. Beberapa hari setelahnya, aku tertarik untuk segera mencari dan membeli prequel-nya, Saman. Harusnya Larung adalah buku kedua, tapi keduanya bisa dibaca terpisah, jadi buatku tak masalah mana yang hadir lebih dulu. Membaca Saman lebih memantapkanku untuk mengamini pendapat bahwa karya ini monumental, dengan bukti 30 kali cetak ulang dan terjemahan dalam 8 bahasa. Integritas penulisnya serta background pengetahuan dan riset yang mendalam membuatku mengenal banyak hal baru saat membacanya; seperti di antaranya pergerakan buruh dan petani, atau etimologi kata onani. Berbagai penghargaan menjamin kualitas kesastraannya, maka dari itu novel ini patut banget dibaca kamu-kamu khususnya yang sudah dewasa, tentunya dengan catatan bahwa kamu mewajarkan imajinasi tentang persenggamaan atau terbiasa dengan kata-kata vulgar macam kontol, perek, dan sebagainya, hellooow ini bukan novel Tere Liye yang menye-menye!

Monday, 23 October 2017

Zine 'Kebun Tebu' #1

Satu lagi zine menarik yang bisa menambah koleksi bacaan kalian!


Sekilas tentang Kebun Tebu; merupakan sebuah zine feminis kolektif yang dieditori oleh salah seorang rekanku, Dessyrachms -seorang seniman muda asal Madiun yang telah menyelesaikan program pendidikan master keseniannya di kampus ISI Yogyakarta. Sebagaimana diungkapkan sang editor, "Saya dengan pertaruhan gelar saya, siap menyunting tulisan anda dalam layout dari ilustrasi yang terkumpul tanpa merapikan ejaan yang dibebaskan," zine ini berisi tulisan-tulisan dan ilustrasi  yang bebas dan alternatif dari setidaknya 13 orang kontributor yang kesemuanya adalah perempuan, jadi tentu saja kita bakal disuguhkan bahasan tentang perempuan dari sudut pandang perempuan itu sendiri, itu poinnya.

Kebun Tebu menghadirkan kajian-kajian tentang perempuan yang cenderung ditampilkan dengan kontradiksi-kontradiksi tertentu. Sebagaimana editor mengantar kontennya dengan kutipan, "Yang manis tapi belum dikemas putih gula. Yang Manis tanpa diaduk. Yang manis dan kokoh enggan dilarutkan, meski nantinya akan", zine ini berusaha menyuarakan kegelisahan perempuan (setidaknya dari sudut pandang para kontributornya) dengan lantang, namun tanpa meninggalkan kesan-kesan ‘kewanitaan’-nya. Ya, kita tahulah jika adat tak pernah menganggap ideologi perempuan adalah hal yang wajar diutarakan, apalagi dengan menggebu-gebu... Oh patriarki...

Bagi kalian yang menginginkan rilisan fisik dari zine ini, dapat langsung disapa editornya via instagram @dessyrachms, atau bisa langsung mengakses versi digitalnya pada link sebagai berikut:


Akhir kata, tetap berpikir dan melawan! Salam...

Wednesday, 18 October 2017

Sebelum Tidur Zine #Issue 1

Sebelum Tidur Zine Issue1

Seperti yang sudah kubilang sebelumnya bahwa aku berencana kembali menggratiskan zine-zine ku, maka terjadilah. "Sebelum Tidur" adalah zine yang kubikin sekitar 1 atau 2 tahun lalu aku kurang begitu ingat. Sebenarnya bukan cuma aku yang bikin sih, dalam zine ini aku cuma berperan sebagai editor dan distributor. Untuk isinya, kolektif. Sekilas tentang "Sebelum Tidur", zine ini berisi tulisan-tulisan ringan baik cerpen, prosa, maupun essay serta ikustrasi-ilustrasi lucu yang diharapkan bisa menjadi teman sebelum kamu-kamu tidur, sesuai namanya, emesh yha... Untuk issue 1-nya, kami berbicara tentang sebuah tema besar, "hujan". Alasannya? Karena aku suka saja... Issue kedua dari zine ini sedang dalam proses pengerjaan, akan segera kusebar seperti kuman ketika aku selesai mengerjakan semuanya. Ya, itu saja, namanya juga sekilas kan ya...

Sangat terbuka bagi kamu yang mau trade dengan zine lain, biar koleksi aku nambah juga heheu. Untuk kasus ini kamu bisa hubungi aku via email atau instagram yang alamatnya tertera di tab section blog ini. Kalau tidak ya kamu fotokopi sendiri saja aku pinjamkan master-nya, karena jujur aku tinggal menyimpan dua kopian dalam foto di atas ini saja, sudah habis dibagi-bagi tiap aku pergi. Atau kalau kamu tidak menghendaki fotokopi karena pemborosan penggunaan kertas masuk dalam area concern global warming, kamu bisa akses dan download versi digitalnya melalui link download berikut ini:


Sudah, sekiranya sekian saja postingan kali ini, salam...

Cara Membuat Wet Food Kucing DIY

Pernah ngalamin kucing kalian tiba-tiba menurun nafsu makannya? Mungkin bisa karena si kucing bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Itu pula yang dialami oleh kucing-kucingku. Tak jarang mereka mendadak berkurang nafsu makannya. Bagi seorang pecinta kucing, hal yang demikian pastilah jadi masalah, tentu saja aku termasuk di antaranya. Suatu hari, dari beberapa sumber yang kudapatkan, rasa bosan kucing terhadap makanannya juga bisa menjadi penyebab menurunnya nafsu makan. Oleh karenanya, kucoba mengganti pakannya dengan pakan basah. Benar saja, mereka lahap memakannya. Aku suka melihatnya. Tapi, kalau dipikir-pikir, harga pakan basah cukup tinggi juga jika dibandingkan dengan pakan kering berbentuk kibbles. Apalagi untukku yang seorang remaja miskin, bisa makin miskin aku kalau harus merogoh kocek lebih dalam hanya untuk keperluan pakan, di saat kebutuhan lain juga kian menghimpit tak kenal kasihan. 

Suatu hari, aku bertanya pada dokter hewan langganan kucing-kucingku tentang makanan organik apa yang bagus diberikan dan bisa didapat dengan harga yang lebih ekonomis. Si dokter pun memberi tahu, bahwa kita bisa mengombinasikan bahan-bahan pangan organik sebagai pakan selingan kucing. Akhirnya, panggilan jiwaku sebagai seorang pecinta kucing dan etos DIY yang selalu kugembar-gemborkan agar menjadi seorang punk yang kaffah membawaku untuk mencoba membuat sendiri menu makanan untuk kucing-kucingku. Berbekal resep yang disarankan si dokter, aku mulai belanja ke tukang sayur tradisional karena tak mau melanggengkan kapitalisme supermarket, halah prek! Pencitraan biar tampak kekirian!  Beberapa ibu menanyaiku dengan sedikit menyimpan keheranan, "Mau masak apa, mas?", "Emang bisa masak sendiri, mas?", dan lain sebagainya. Pikirku, biar saja lelaki berbelanja dan memasak, apa salahnya? Stereotipe gender memang sesuatu yang memuakkan dan mesti dilawan. Singkat cerita, aku berhasil membuat pakan kucing sendiri dan 'anak-anak'-ku suka!

Nah, di postingan kali ini (entah kenapa) aku ingin berbagi tips membuat makanan kucing sendiri, khususnya wet food berdasar apa yang pernah kubuat ini ya. Sebenarnya tips ini sudah banyak bertebaran di dunia maya, tapi apa salahnya, wong aku ingin sharing?!! Ya, sekali-sekali agar postingan di sini sedikit berguna bagi pengunjung normies lah ya...

Oke, pertama sediakan alat dan bahannya:


  1. Kompor, di sini aku pakai kompor punya si ibuk. Iya lah, wong aku tinggalnya juga sama ibuk.
  2. Panci dan apapun yang bisa dipakai untuk mengaduk. Tapi jangan sekop, kita sedang tidak akan mengaduk semen sebagai bahan bangunan.
  3. Wadah. Pakai apapun boleh, mau gelas, piring, baskom, akuarium, kolam renang, terserah.
  4. Tempe. Di sini aku beli sepotongnya Rp 1000,- dan memang aku cuma pakai sepotong.
  5. Ikan. Lebih baik ikan laut, karena aromanya lebih menyengat. Di sini aku pakai ikan pindang, biasanya dijual satu box isi dua, aku beli sih harganya cuma Rp 7000,-
  6. Bubuk agar-agar plain. Harganya sekitar 3-4000, murah kok! Ingat, yang plain ya!! Plain means tawar, nggak ada rasanya. Kita nggak lagi sedang bikin es buah.

Udah, itu aja sih kayaknya. Dari bahan yang dibeli, kira-kira kita hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 12.000, ya mentok mabelasribu lah. Murah sekali bukan?! Udah murah, DIY pula, wah rasanya aku sedang menantang kapitalisme korporat. Yo, fuck you!!!

Oke, selanjutnya cara membuat...



1. Rebus 4 gelas air. Setelah mendidih, masukan tempe dan ikan pindang yang telah disiapkan. Tunggu sekitar 15 menit sampai kira-kira matang.

2. Tiriskan tempe dan ikan pindang, pindahkan ke wadah lain. Airnya jangan dibuang, soalnya kaldu dari ikan ini lumayan menyengat baunya untuk merangsang nafsu makan kucing.

3. Tumbuk tempe dan ikan hingga lembut, lalu campurkan hingga jadi adonan. Bisa juga menggunakan blender kalau kamu malas dan memang ada blendernya, hehe.

4. Rebus kembali air kaldu yang sebelumnya disimpan, masukkan serbuk agar-agar, dan aduk rata!

5. Setelah mendidih, masukan adonan tempe dan ikan, aduk-aduk hingga rata.

6. Tuangkan adonan yang sudah merata ke dalam wadah, lalu tunggu hingga mengeras.

7. Jadi deh, kasih makan si kucing, sisanya bisa disimpan di kulkas.

Untuk pemberian selanjutnya, lebih baik dicampur dengan sedikit air panas, lalu dihancurkan agar aroma ikan lebih menyengat. Nah, kira-kira begitulah cara sederhana membuat sendiri wetfood untuk kucing kita. Dari bahan-bahan yang tadi kupaparkan, aku bisa membuat 3 kaleng (kaleng kemasan wetfood kucing 400gr) wetfood loh. Hemat banget kan?! Selain hemat juga sehat, karena tanpa pengawet dan pewarna, serta kita bisa memantau bahan apa saja dan cara membuatnya. Disamping itu, kita juga bisa menjadi pecinta kucing yang ngepang!!! Udah ah,.. Selamat mencoba!

Tuesday, 17 October 2017

Kami Pecinta Kucing

"Meoooong... Meoooooonggg..." Setiap hari sekitar jam 3 pagi suara kucing selalu menggema di rumahku. Itu adalah suara Nyannyan, salah satu kucing peliharaan kami. Ya, keluarga kami adalah penyuka kucing. Si ayah dan ibuk yang dulunya di masa muda pernah memelihara kucing, adikku, dan aku. Jadi tak perlu heran kalau kamu menemukan kucing di rumah kami, kecuali kalau kucing besar macam harimau dan singa, kami tak punya. Takut dipenjara karena status mereka.

Bagi keluarga kami, memelihara kucing adalah sebagai salah satu bentuk terapi. Khususnya bagiku yang lekat dengan gangguan anxiety, kucing dapat memberikan perasaan tenang saat dunia dirasa sangat tak menyenangkan. Menurut dokter hewan Angela Maharani (dalam tempo.co), kucing merupakan salah satu hewan terapi bagi manusia. "Berdasarkan penelitian terbaru, kucing termasuk dalam kelompok hewan terapi. Sebab, ketika mendengkur, kucing mengeluarkan frekuensi suara sekitar 20-150 Hz. Suara ini mempunyai efek menenangkan," ujarnya. Suara dengkuran tersebut, menurut dia, mengeluarkan hormon endorfin yang dapat menenangkan kucing itu sendiri dan manusia di sekitarnya. Jadi coba saja, ketika kamu merasa tak nyaman, elus-elus kucing yang ada di sekitarmu!



Di postingan ini, aku ingin sedikit bercerita tentang kucing-kucing peliharaan kami. Ada 3 ekor kucing yang ikut tinggal di rumah kami. Pertama, 'Raden Mas Nyannyan Mbaureksa', atau yang biasa dipanggil 'Nyannyan'. Dia adalah kucing pertama yang hadir di rumah kami. Tepatnya Mei 2014, seorang teman dari Jakarta mengirimkan dua ekor anak kucing usia 2 bulanan; satu betina calico yang dipelihara oleh temanku, satu lagi jantan black solid yang akhirnya kuberi nama Nyannyan ini. Dia datang di saat yang tepat, saat aku berusaha move on dari mantan pacar yang... Sudahlah... Move on itu susah, Jendral! Begitu kalau kutirukan salah satu dialog dalam film propaganda terbesar dalam sejarah Indonesia.

Nyannyan adalah kucing yang penurut dan pintar. Dalam waktu tiga tahun bersama kami, ia sudah sering bolak-balik diajak pergi, termasuk ketika kami mudik ke Kota Malang. Dianya tenang-tenang saja, nongkrong di dashboard menikmati pemandangan. Yang lebih menarik, adalah kebiasaannya mengeong dini hari antara jam 2 sampai jam 3 pagi seperti yang telah kusebutkan di paragraf pertama. Suatu hari Si Ibuk berpesan ke Nyannyan, kira-kira, "Nanti ibuk dibangunkan ya buat sholat tahajud," entah bagaimana, pesan itu melekat di kepala Nyannyan hingga menjadikannya seekor alarm alamiah. Iya, dia benar-benar mengeong sambil mencakar-cakar pintu kamar di mana ibuku tidur. Setelah Ibuk terbangun, dia akan mengikutinya mengambil air wudhu, dan duduk menunggu tepat di samping sajadah. Ini yang sampai sekarang aku tak habis pikir. Karenanya, keluarga kami sangat menyayanginya, yang bahkan bisa membikin kami panik tak kira kala dia sakit atau suatu ketika hilang dari rumah.

Kucing kedua adalah 'Kimberly Ackerman', atau yang biasa dipanggil 'Kimi'. Sebenarnya ini bukan kucing kedua di rumah kami, sebelumnya ada kucing lain bernama Chelsea yang sayangnya mati karena penyakit ginjal setelah sebelumnya mendapat perawatan di klinik hewan. Oke, kembali soal Kimi, kucing ini datang ke rumah kami pada bulan Mei 2017 saat masih berusia 3 bulan. Karena ayah dan ibuk ingin menambah momongan kucing berwarna cerah, maka aku putuskan untuk mengadopsi Kimi dari sebuah cattery. Awalnya, Kimi diperkirakan berwarna white solid, pikirku bisa seimbang dengan Nyannyan menjadi simbol Yin Yang, hehe, meskipun seiring bertambah dewasa muncul motif almond dilute di sepanjang punggungnya. Kimi adalah kucing yang cantik, ya, benar-benar cantik dengan warna putih bersih dan hidung pink-nya. Hanya saja, dia hiperaktif dan sedikit susah menjinakannya. Sudah, begitu saja haha.

Kucing ketiga adalah 'Bodong'. Ia datang dengan misterius ke rumah kami sekitar bulan Juli 2017. Awalnya ibuk yang menemukannya di depan rumah, dan karena ada salah seorang tetangga yang ingin memelihara kucing, akhirnya diadopsilah si Bodong. Anehnya, seminggu setelah itu ia kembali ke rumah kami, yang pada akhirnya ku tahu kalau si tetangga tak benar-benar serius memeliharanya. Karena kasihan terhadap si kucing kecil, akhirnya ayah mengizinkannya untuk ikut tinggal di rumah kami. Sejak saat itu ia dinamai 'Bodong' karena udelnya yang memang benar-benar bodong. Nama lengkapnya sih 'Kim Bo Dong' karena menurutku dia datang tiba-tiba dari Korea. Suka-suka aku yang mengira dan memberi nama lah...

Bodong adalah kucing yang pintar, hanya dalam waktu singkat ia sudah terbiasa dengan namanya. Di manapun ia berada, asal bisa mendengar suara kami memanggil namanya, dia akan segera datang mengusap-usapkan kepalanya. Nggak jarang juga dia meninggalkan barang-barang entah daun, ranting, atau serangga di depan rumah, mungkin sebagai oleh-oleh setelah bermain dan tanda terima kasih untuk kami telah mengizinkannya tinggal. Dari segala suka cita, ada satu hal sedih yang terjadi padanya. Sekitar akhir September, dia pulang dalam keadaan sekarat karena keracunan. Dokter sudah tak bisa menanganinya, hanya berharap pada daya tahan si kucing. Tapi kami belum menyerah, kami usahakan kehidupannya dengan memberikan air kelapa, susu, dan bubur bayi. 3 hari dalam masa koma, akhirnya dia mulai bisa mereapon panggilan. Seiring berjalannya waktu, kondisinya membaik, hanya saja sebagian dari anggota tubuh kirinya seperti mengalami lumpuh permanen. Kasihan... Tapi tetap, Bodong adalah kucing yang pintar. Pesan untuk kalian, jangan suka ngeracun tikus sembarangan!!! Salah-salah bisa makhluk lain yang kena.

Itulah sedikit cerita tentang kucing-kucing yang ada di rumah kami. Dari ketiganya, mana yang paling jadi kesayangan? Ketiganya kami perlakukan sama. Ya, apa gunanya teriak anti rasis dan fasis kalau sama kucing sendiri masih membeda-bedakan, ya kan? Hehe.

Saturday, 7 October 2017

Reika Baggy Buggy Zine

Belakangan aku berpikir untuk kembali membagikan dan menyebarkan gratis zine-zine yang pernah kubuat seperti saat pertama kali bersenang-senang dengan media ini. Sejauh ini, ada setidaknya 5 judul zine yang pernah kubuat kalau aku tak salah ingat (link menyusul kalau sudah ada versi digitalnya), salah satu judul yang bisa kalian dapat adalah ini; "Reika Baggy Buggy Zine"!

Reika Baggy Buggy Zine #1 dan #2

Sekilas tentang "Reika Baggy Buggy Zine" ; adalah mini zine yang awalnya dinamai "Reika Strikes Again" dan dibagikan gratis sebagai ucapan terima kasih buat teman-teman yang membeli merch karyaku, ataupun dibagikan langsung saat teman-teman bertemu denganku, dengan catatan aku sedang membawa kopiannya pada saat itu. Pada awalnya, mini zine ini berisi kumpulan komikstrip dari @Amaliareika yang dicetak fotokopian dan dibagikan di beberapa event yang aku turut  menghadirinya, tapi ada sedikit perubahan di edisi keduanya; di mana selanjutnya ia memuat tulisan-tulisan cerita bikin senang, interview dengan kucing, music corner sembarangan, dan lain sebagainya yang dikerjakan suka-suka Reika. Intinya Reika ingin berbagi kebahagiaan dalam masing-masing 12-16 halaman.

Kalau kalian menginginkan, minta saja langsung ke aku! Kalau masih ada kopiannya ya ambil saja, kalau habis ya kopi sendiri aku pinjamkan masternya heheu, trade dengan zine punyamu juga bakal bikin aku semakin senang. Kalau tidak memungkinkan bagi kita bersua dan berkirim ria, bisa kamu download versi digitalnya melalui link yang tersedia di bawah ini , boleh kamu cetak, perbanyak, dan bagikan suka-suka ke teman-teman dengan riang gembira karena apalah arti copyright di skena alternative media, yang kalau kata Chris Atton (2002) lebih mengedepankan persebaran seluas-luasnya. Ah serius amat... 

Sudah ya, mari merayakan kebahagiaan :) Oh iya, ini link downloadnya:


Saturday, 17 June 2017

Panjang Umur Zinester Bandel



Sebuah drawing berjudul "Panjang Umur Zinester Bandel", tinta bak di atas kertas dan olah digital.


Bulan Ramadhan seperti ini mengingatkanku pada kegiatan masa kecil, di mana aku dan teman-teman - mungkin kalian juga, diwajibkan mengisi buku kegiatan Ramadhan selama sebulan penuh, entah anak-anak jaman sekarang masih melakukannya tidak, aku tak tahu. Aku ingat, dulu buku-buku kami penuh dengan gambar yang dibuat iseng sembari mendengarkan kultum, entah komik, doodle, ilustrasi, dan sebagainya. Tak jarang muncul suatu kebanggaan jika gambar kita mendapat suatu pujian saat satu sama lain saling bertukar lihat. Tak jarang juga ada berbagai pesan yang kita selipkan dan kita suka ketika orang lain mencoba memahami artinya. Sungguh menyenangkan.

Kalau dipikirkan sekarang, kita sudah dibuat dekat dengan kegiatan bikin-bikin zine sejak usia dini. Salah satu contohnya ya buku kegiatan Ramadhan ini. Dalam buku cetak lo-standard itu kita merangkum isi kuktum, see! Ini seperti gabungan dari mereview dan menulis straight news kalau boleh kupakai sedikit bahasa jurnalistik. Saat kita bertanya ini-itu pada Pak Ustadz untuk melengkapi catatan kita, hey, ini tak jauh beda dengan kita melakukan interview! Saat kita coret-coret halaman kosongnya dengan gambar, kita tengah mengerjakan bagian desain dan layout. Tak jarang kita minta teman yang lebih jago menggambar untuk turut menghiasinya, saat itu kita menumbuhkan semangat kolektif dan kolaborasi. Genap sebulan, hell yeah, kita punya buku kita sendiri lengkap dengan segala isinya! Dan itu kita kerjakan sendiri, sungguh erat dengan etos DIY. Meskipun saat itu kita tak paham soal zine itu apa, tapi kalau dipikir sekarang, wah mirip juga ya proses kreatif yang ada di dalamnya... Seandainya aku bisa kembali ke masa lalu, ingin kukumpulkan buku-buku itu, kuperbanyak dan kudistribusikan mandiri di jaman ini, haha. Betapa bahagia.

Berawal dari masa SMA, aku mulai berkenalan dengan salah satu media alternatif ini dan sadar bahwa aku menyukainya. Akhir masa SMA, untuk mengisi kekosongan waktuku usai ujian, aku mulai iseng membuat zine-ku sendiri. Saat itu, untuk membuat zine pertamaku yang kunamai MIND, kucari materi baik via internet atau media cetak apapun untuk kemudian kususun seabsurd dan semau aku. Cukup menyenagkan buatku, terbukti zine itu bisa bertahan sampai 8 issue meskipun sebenarnya tak layak juga disebut sebagai issue karena tak ada hal spesifik yang benar-benar kubahas. Semua mengalir apa adanya dan benar-benar sesukanya, haha. Sah-sah saja, tak ada yang salah.Selanjutnya, zine kedua, ketiga, dan seterusnya mulai kubuat tematik dan sedikit lebih serius. Sedikit saja karena tetap lebih banyak senang-senangnya haha. Sempat berhenti karena kesibukan kuliah dan lain sebagainya, saat ini kembali aku dan beberapa teman dari Papaya Klub juga tengah mengerjakan sebuah zine yang entah kapan selesainya. Lalu ke depannya, aku tengah mengumpulkan niat lilahita'ala untuk menulis tesis terkait media alternatif yang jadi bagian dari perjalanan hidupku ini , tsaaaaahh~, meskipun kutahu mungkin bakal susah mendapat approval di kampus yang sedikit kolot ini, aku mohon doanya...
.
Terakhir, panjang umur zinester bandel!!!
.
.
.
.
.
.
.
Solo, Juni 2017 - ditulis saat tengah galau memikirkan tesis dan jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan.

Monday, 9 January 2017

Hidup Dan Monster Legend



Belakangan aku sedang keranjingan dengan sebuah game battle Monster Legend. Yah, sebenarnya aku bukanlah seorang gamer yang paham ini itu dan bukan juga orang yang rela menghabiskan berjam-jam waktuku untuk bermain game, tapi harus kuakui kalau game yang kumainkan kali ini adalah candu.

Sedikit tentang Monster Legend, game ini adalah tipe battle RPG berbasis facebook, android, dan ios, di mana kita berperan sebagai seorang Monster Master. Tugas kita sebagai Monster Master adalah mengelola pulau dan mengembangkan monster-monster yang kita pelihara di pulau kita untuk menyelesaikan berbagai challenge yang ada. Harus kuakui, untuk sekelas mobile game, developer game ini cukup bangsat! Perlu kamu tahu kalau aku adalah tipe orang yang akan berkata kasar ketika terpukau pada sesuatu. Aku sedang tak ingin mereview sebuah game, jadi aku tak perlu menjelaskan kenapa kusebut game ini candu.

Singkat kata, ada stage-stage challenge yang harus dilalui seiring dengan meningkatnya levelmu. Yang menarik, kita bisa kembali memasuki stage itu di masa mendatang setelah kita menyelesaikannya. Jadi, semacam introspeksi. Ini bagian yang kusuka, ketika levelku cukup tinggi, sesekali aku masuki stage sebelumnya yang saat itu kurasa sangat sulit dan membuatku frustasi bahkan ingin berhenti memainkannya. Lalu apa yang kudapatkan, seiring dengan bertambahnya level monsterku, stage-stage yang sebelumnya itu seperti bukan apa-apa. Blar!!! Sekali serang sudah aku menang. Bisa kamu bayangkan apa yang kurasakan? Stage yang dulu mati-matian kumenangkan, kini bisa dengan sangat mudah kutakhlukan!!!

Begitu pula hidup. Coba kamu sejenak bayangkan, hal apa yang dulu kamu perjuangkan mati-matian, membenturkan kepalamu pada kefrustasian, dan hampir menyerah pada keadaan! Katakanlah, skripsi. Ya, dulu aku sangat terdesak oleh hal ini. Dikejar-kejar waktu dan dihantui dosen pembimbing pun penguji membuatku mengumpat hampir tiap hari. Tapi akhirnya, dengan kesabaran dan perjuangan, aku bisa melewatinya. Lalu apa korelasinya dengan game Monster Legend?

Begini, saat ini aku terdaftar aktif sebagai mahasiswa S2 di sebuah kampus negeri dengan tugas-tugasnya yang menyiksa di tengah kesibukanku mengelola It's Banana! . Sering kali tiap malam sebelum tidur aku berpikir, aku masih hidup ya dengan semua kesibukan yang kualami. Kalau sudah begitu, sering aku membayangkan dulu skripsi yang kueluh-eluhkan setiap hari hampir tak ada apa-apanya jika dibanding kesibukan saat ini. Setelah itu aku tertawa, menyadari bahwa levelku sudah lebih tinggi dari sebelumnya.

Kuasumsikan aku ini monster yang terus berkembang dalam game Monster Legend. Aku butuh makan, aku butuh berusaha, aku butuh perjuangan, aku butuh pengalaman, dan aku butuh dukungan dari monster-monster lain di sekitarku untuk menaikkan levelku terus menjadi lebih tinggi. Pada dasarnya, hidup adalah sebuah perjuangan. Kita berjuang dan berjuang untuk sebuah pencapaian, sampai pada akhirnya kita sadar perjuangan yang kita lakukan telah menempa kita menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya. Selalu begitu, percayalah bahwa perjuangan takkan menghianati. Jadi, selamat berjuang monster-monster di luar sana, tapi ingat, istirahat sejenak bukanlah sebuah dosa!

Tuesday, 3 January 2017

Milestone 2016 - 2017

"Milestone" - Chanchanscraw, 2017



Biar seperti orang-orang, aku rasa menulis rangkuman milestone selama 2016 penting juga setelah sebelumnya tentang resolusi yang tidak terlalu muluk, agar menjadi introspeksi dan pengingat untuk selalu bersyukur dan bangkit lagi kalau terjatuh. Belum telat kan? Telat pun suka-suka aku yang bikin.

2016 adalah tahun yang menakjubkan dan mungkin jadi sebenar-benarnya batu loncatan untukku terjun ke masyarakat. Banyak hal terjadi di tahun yang kuawali dengan kelulusan program sarjanaku. Ya, aku dinyatakan lulus dari prodi Ilmu Komunikasi Sebelas Maret University awal Januari tahun lalu. Setelahnya, aku sedikit punya waktu untuk melakukan hal-hal yang kusuka, banyak-banyak menggambar, memproduksi beberapa Merch untuk tambahan uang jajan, dan jalan-jalan hingga bertemu teman-teman baru di tiap persinggahannya. Benar-benar mengasyikkan, terutama bagian bertemu teman-teman, aku suka!! Di tahun ini pula aku dan temanku memulai It's Banana! dan Solocult yang percayalah itu tak semudah kelihatannya, kami cukup bersakit-sakit ria di tahun ini. Hmm, lalu... Melanjutlan studi pascasarjana mungkin tidak terlalu menyenangkan buatku yang kurang suka pendidikan formal, tapi mungkin cukup pantas untuk dicatat dalam list peristiwa penting di tahun 2016-ku karena ini termasuk salah satu bentuk memenuhi harapan si ayah. Ya, intinya saat ini aku masih terjebak di kelas-kelas perkuliahan untuk mendapat gelar magisterku beberapa saat ke depan. Teman-teman bertanya, "Nggak capek kuliah terus?", dan hanya kujawab dengan senyuman kecut, hummm...

2016 juga menjadi tahun lahirnya kolektif seni yang liar dan entah mau dibawa ke mana bernama @papaya.klub . Entah sih apa tujuan akhirnya, yang kutahu orang-orang keren ada di dalamnya, haha. Selanjutnya, ah, iya, menonton live dan sedikit berbincang bersama Four Get Me A Nots yang merupakan salah satu band favoritku juga tak boleh dilewatkan selain bertemu dengan orang yang sebenarnya nggak unik-unik banget tapi aku suka, @najlafnh .

Akhirnya aku berterima kasih untuk semua yang kudapat di tahun 2016, untuk semua yang datang dan pergi, yang lalu lalang, yang membantu, yang mendukung, semua, termasuk kalian yang suka nge-like foto-foto dan baca tulisan-tulisan kurang faedah baik di caption instagram maupun blog ku. Terima kasih~

Sunday, 1 January 2017

Resolusi

Gambar oleh @mujixmujix


Gambar ini dibuat oleh salah satu kenalanku, Mujiyono, -biasa kupanggil Mas Mujix- , sebagai ucapan terima kasih telah membeli dan memberi sedikit review tentang komiknya, "Proposal untuk Presiden". Entah bagaimana Mas Mujix menuliskan "Make love not war" di gambar potraitku yang ia buat, mungkin karena aku yang memakai kacamata bulat dan sweater turtleneck mengingatkannya pada mendiang John Lennon, entahlah. Kupikir quote itu sangat mewaki tulisanku tentang resolusi dalam postingan ini. Tak perlu muluk-muluk, resolusiku di tahun baru adalah untuk menebar positive vibes, tetap waras di jaman yang semakin edan. Sudah, itu saja. Semoga tahun ini jadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya... Semesta memberkati... Selamat tahun baru

Tuesday, 9 August 2016

Semua Pekerja Keren di Skena-nya



Semakin dewasa, aku -mustinya kamu juga- makin paham bahwa semua pekerjaan itu keren, dengan begitu sudah sepantasnya jika semua pekerjaan dihargai sesuai nilainya, apapun itu. Misalnya gini, pagi tadi aku pijet karena masuk angin, -duh aku merasa gagal menjadi anggota PKI; Perkumpulan Kakak Indie, karena masuk angin setelah semalam ngegigs- kalau dipikir kan cuma mijet ya, bisa dilakukan sendiri, nyatanya? Aku minta orang lain yang emang kerjaannya mijet, karena aku tau dia punya skill mijet yang lebih dariku. Sebagai remaja yang cinta orang tua, pernah dong aku mijetin Si Ibu. Dari situ aku sadar, kalau mijet tak sesimpel itu, selain musti ngerti urutan uratnya juga capek di tangan. That's why aku butuh tukang pijet.

Contoh lain, ngecat. Beberapa hari belakangan aku dan temanku +Daniel Revelino  sibuk ngecat untuk persiapan *uhuk* studio kami. Kalau dilihat, ngecat itu perkara gampang kan, celupkan kuas, oles-oles, tunggu kering. Nyatanya? Tangan dan leher kami pegal-pegal dibuatnya! Bahkan aku sempat teriak histeris kesakitan saat setetes soda api yang kami pakai sebagai remover melayang ke mataku. That's why orang bayar tukang cat untuk ngecat rumahnya. Karena apa? Tentu karena tukang cat punya kemampuan lebih baik di bidang itu.

Dari dulu Ayah dan Ibu selalu menekankan padaku, sebisa mungkin jangan nawar untuk harga sebuah jasa, dan syukur sampai sekarang aku masih bisa mengaplikasikan wejangan tersebut. Inilah yang kusebut dengan menghargai pekerjaan di awal tadi, karena kita bukan orang yang serba bisa. Siapa yang menentukan harga? Menurutku mereka sebagai pekerja lah yang berhak. Mereka yang paling tahu berapa nilai jasa yang mereka tawarkan. Daripada menawar, alangkah lebih bijak jika kau sebut saja budget yang kau punya, tanyakan dengan nilai segini apa yang bisa kau dapatkan! Jangan malah mempermalukan diri dengan menawar, ingat, kau bukan orang yang serba bisa! Kau mau menggunakan jasanya karena dia mampu melakukan apa yang NGGAK BISA kau lakukan sendiri, jadi tau dirilah! Lain cerita kalau kau membandingkan antara satu pekerja dengan pekerja lain di ranah yang sama, lalu kau pilih harga yang paling murah, itu hakmu.

Yah pada akhirnya, sama-sama bekerja, sama-sama cari uang untuk makan, saling menghargai lah, karena masing-masing pekerja keren di skenanya. Jadi, masih mau bilang, "Gratisin lah, cuma gitu doang!" ?




Note: Aku sengaja menggunakan kata "skena" untuk menggantikan kata "ranah" karena aku suka. Ya, begitulah.

Tuesday, 3 May 2016

We only do cool shit!



"Hey kau yang muda, teruslah berkarya! Selagi muda, takhlukkanlah dunia! - Sudahi saja pestamu dan luangkan waktu melakukan sesuatu untuk masa depanmu!" ~Silampukau

Penggalan lirik dari lagu "Hei" milik duo folk asal Surabaya; Silampukau tersebut seperti ingin kami jadikan pegangan kedua setelah "Nggak semua orang keren ada di Jakarta"-nya Kelik Klan. It's Banana! itu dua orang, sepasang. We're not gays and not into it, tapi tetap saja It's Banana! itu sepasang. Sepasang pengangguran? Enak saja! Kami adalah sepasang pemuda pemuja Paul Arden yang penuh dengan mimpi. Ya, bisa dibilang kami adalah partime-dreamer, tapi tenang, another half-part-nya tetap kami gunakan untuk merealisasikan mimpi-mimpi itu tadi.

Orang di luar mungkin dengan remeh melihat, betapa santainya hidup kami ketika teman-teman seangkatan kami hilir mudik sibuk mencari pekerjaan tetap, sedangkan kami berdua masih sempat-sempatnya blabbering soal idealisme dan mimpi yang tampaknya makin basi dibicarakan di era ini. Hello, mereka cuman nggak lihat saja betapa di belakang kami berdarah-darah bergulat melawan resiko. Membenturkan kepala pada kefrustasian. Diperas baik ide, tenaga, bahkan ehemm uang. Nombok? Pastilah!! Tapi tenang, kami tidak lantas bunuh diri karena itu semua. Kami ini pemuda tabah dan ikhlas yang selalu percaya bahwa tak ada yang instan, semoga usia belum tua saat kami mencapainya. Kami ini pemuda yang masih terus berpikir mau bikin apa untuk makan apa. Kami ini Chandra Eka Privandani dan Daniel Revelino Arsono. Kami ini... Keren, dan kau musti percaya itu. We don't do advertising, we only do cool shit!!




Catatan: It's Banana! adalah nama sebuah creative agency yang saya rintis bersama kawan saya terhitung mulai Februari 2016. Banyak yang kami lalui, banyak darah yang mengucur kalau majas hiperbol diaplikasikan, tapi puji semesta raya, sampai tulisan ini dibuat kami telah mampu meng-hire dua anggota lain. We do believe that we'll grow bigger from now on.

Tuesday, 26 April 2016

Idealis?



Situ mau baca, silahkan. Apa ya, kita hidup di era dan negara dengan pola pikir macam itu. Pernah saya dengar di suatu seminar kreatif sebuah statement yang kira-kira begini, "Anak muda, jangan pernah lepaskan idealismemu! Kalau sudah kehilangan itu artinya kamu kehilangan jalan. Ikutilah passion-mu selagi muda!", entah bagaimana tepatnya tapi kira-kira seperti itulah. Tentu saja bagi pemuja passion seperti saya, dengan senang hati mengamininya. 

Lulus kuliah, saya tetap mencoba memegang erat hal itu, nyatanya saya masih berkutat dengan bajingan ini; Daniel Revelino , berjudi di ladang lain -yang lebih terjal konturnya dan tentu menantang- ketika ladang job fair dipenuhi rekan-rekan seangkatan dengan pakaian rapi, rambut klimis bagi yang pria, make up minimalis alih-alih biar tampak manis bagi yang wanita, tapi tetap, dengan muka berminyak karena keringat di venue yang penuh dan sesak.

Bukan masalah cari kerja yang sering saya dan teman saya -yang namanya tertera sebelumnya- pertanyakan, tapi perihal bagaimana mereka para fresh-graduate-job-seeker ini seakan dengan mudahnya kehilangan pegangan; Anak komunikasi, daftar bank. Anak hukum, daftar bank. Anak desain interior, daftar bank. Udah, semua jurusan saja daftar bank apapun hobi, konsentrasi studi, dan keahliannya. Mustinya kampus-kampus lebih banyak sediakan materi perbankan saja ya agar ilmunya tidak mubadzir di tengah ladang yang kian gersang karena diinjak-injak banyak orang.

Bukan merasa sok keren dan merendahkan, tapi ya namanya kegelisahan, dan ini blog pribadi saya, jadi wajar untuk mengungkapkan. Bagi pemuja passion seperti saya, mengidolakan orang-orang yang berjalan di jalan mereka harus berjalan adalah suatu keharusan pun kesenangan. Jadi kondisi macam itu tadi terasa sedikit menyebalkan.

Tapi, yah,, namanya hidup sih ya. Seiring berjalannya waktu kita tidak bisa lantas menyalahkan dan men-judge rekan-rekan yang perlahan melepaskan idealismenya itu salah, lalu kita merasa lebih benar dan mulia derajadnya dibanding mereka. Hidup itu pilihan, dan melepas idealisme termasuk salah satu bentuk dari memilih. Kalau di tulisannya yang dimuat pada www.siksakampus.com, teman saya  tadi menganalogikan mengejar passion itu seperti Kapten Tsubasa yang tengah menggiring bola dan berusaha mencetak angka, maka menurut saya Tsubasa berhak melipir di tengah lapangan menuju kerumunan, terus lari peduli setan, dan jajan di warung sebelah stadion. Suka-suka Tsubasa wong itu hidupnya :)
.

Solo, 26 April 2016 di depan komputer sembari menyembah Paul Arden.