Friday, 19 June 2026

Review Novel "Namaku Alam" Karya Leila S Chudori: Ketika Sejarah Tidak Dikenang, Melainkan Diwariskan

 

Setelah sukses dengan Pulang, Ibu Leila S. Chudori kembali membawa pembaca ke semesta yang sama melalui Namaku Alam. Namun siapa pun yang datang dengan ekspektasi akan menemukan sebuah novel sejarah yang sama kompleks, luas, dan politisnya seperti Pulang sebaiknya menyesuaikan harapannya terlebih dahulu.

Karena pada dasarnya, Namaku Alam tidaklah seberat dan sekompleks itu.

Novel ini memilih jalan yang berbeda dibanding pendahulunya. Jika Pulang berbicara tentang eksil, sejarah politik, dan pergolakan identitas dalam skala besar, maka Namaku Alam lebih tertarik mengikuti perjalanan personal Segara Alam sejak masa kanak-kanak hingga remaja. Keluarga, persahabatan, cinta pertama, kegelisahan masa sekolah, dan pencarian jati diri menjadi fokus utama dalam cerita.

Sejarah dan politik tidak lantas absen dalam novel ini, tetapi kali ini ia lebih sering hadir sebagai latar belakang yang membentuk siapa Alam itu sendiri.


Sekilas Tentang Namaku Alam

Secara garis besar, novel ini mengikuti kehidupan Segara Alam, putra dari Hananto Prawiro yang memikul beban sejarah politik Indonesia pasca 1965. Seiring pertumbuhannya, Alam berusaha memahami dirinya sendiri di tengah berbagai pertanyaan tentang keluarga, masa lalu, dan identitas yang terus mengikutinya.

Alih-alih menyajikan peristiwa politik secara langsung, Bu Leila mengajak pembaca melihat bagaimana dampak sejarah bekerja dalam kehidupan sehari-hari seseorang yang lahir setelah peristiwa itu terjadi.


Bukan Hanya Soal Sejarah, Melainkan Dampaknya

Salah satu kritik yang mungkin muncul terhadap Namaku Alam adalah kurangnya eksplorasi sejarah jika dibandingkan dengan novel pendahulunya, Pulang. Namun setelah selesai membaca, saya justru merasa bahwa keputusan tersebut dilakukan secara tepat dan sadar.

Bu Leila memang tidak sedang berusaha mengulang apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Ia tidak lagi berfokus pada tragedi politik sebagai peristiwa, melainkan pada bagaimana peristiwa tersebut terus melekat dalam kehidupan orang-orang yang mewarisi akibatnya.

Dalam konteks ini, sejarah berfungsi sebagai struktur yang membentuk kehidupan tokoh-tokohnya. Ia tidak selalu hadir secara eksplisit, tetapi pengaruhnya terasa di hampir setiap aspek kehidupan Alam. Akibatnya, Namaku Alam terasa lebih intim, lebih personal, dan di sisi lain lebih ringan.


Membaca Namaku Alam Melalui Kacamata Postmemory

Salah satu pendekatan yang menarik untuk membaca novel ini adalah konsep postmemory yang diperkenalkan oleh Marianne Hirsch.

"The generation after remembers through stories, images, and behaviors."

Secara sederhana, postmemory menjelaskan bagaimana generasi berikutnya dapat mewarisi pengalaman traumatis yang tidak sepenuhnya mereka alami sendiri. Trauma berpindah melalui cerita keluarga, ingatan kolektif, kebiasaan, ketakutan, dan berbagai konsekuensi sosial yang terus bertahan dari generasi ke generasi.

Dalam kasus Alam, posisinya bisa jadi lebih kompleks. Ia memang tidak secara langsung mengalami semua rentetan tragedi politik yang menimpa ayahnya, tetapi ia tetap mengalami berbagai dampak sosial dan psikologis yang ditinggalkan oleh peristiwa tersebut.

Ditambah lagi, kemampuan photographic memory yang dimiliki Alam, yang justru ia lihat sebagai sebagai sebuah kutukan alih-alih sebuah kemampuan jenius. Bayangkan, betapa ngerinya ketika anak berusia 3 tahun ditodong senapan tepat di wajahnya oleh aparat negara, dan itu membekas jelas di ingatannya.

Masa lalu keluarganya bukan sekadar cerita yang ia dengar, melainkan sesuatu yang terus membentuk cara ia memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. Karena itu, Namaku Alam dapat dibaca sebagai novel tentang trauma yang diwariskan, bukan sekadar sejarah yang diceritakan ulang.


Pencarian Identitas Seorang Remaja

Selain trauma antargenerasi, tema lain yang sangat kuat dalam novel ini adalah pencarian identitas.

Jika melihatnya melaluo kacamata teori perkembangan psikososial Erik Erikson, Alam berada dalam fase Identity vs Role Confusion, yaitu fase ketika seseorang berusaha menjawab pertanyaan paling mendasar dalam hidupnya:

"Siapa sebenarnya diriku?"

Pertanyaan tersebut menjadi semakin rumit ketika identitas pribadi terus dibayangi oleh sejarah keluarga.

Alam tidak hanya berusaha memahami siapa dirinya sebagai seorang individu, tetapi juga harus berhadapan dengan identitas yang diwariskan kepadanya. Menurut saya, di sinilah konflik terbesar novel ini sebenarnya berada.

Bukan pada politik. Bukan pula pada sejarah. Melainkan pada usaha seorang manusia untuk menentukan dirinya sendiri di tengah berbagai narasi yang telah lebih dulu disusun oleh orang lain.


Detail Masih Menjadi Kekuatan Terbesar Bu Leila

Terlepas dari tema-tema besar yang diangkat, alasan utama saya selalu menikmati karya Bu Leila S. Chudori akan tetap selalu sama: kemampuannya membangun detail.

Bu Leila memiliki kemampuan luar biasa untuk menghidupkan ruang, percakapan, suasana, dan emosi tokoh-tokohnya. Detail-detail kecil yang mungkin tampak sepele justru membuat dunia dalam novel terasa nyata dan dapat dipercaya.

Ketika banyak novel sejarah berfokus pada peristiwa besar, Bu Leila justru sering kali berhasil memperlihatkan bagaimana sejarah memengaruhi kehidupan sehari-hari manusia biasa. Setiap karakter ciptaannya memiliki kedalaman yang setara, bahkan kita bisa membayangkan bagaimana kehidupan seorang karakter di luar buku, meskipun ia bukan merupakan karakter utama.

Lalu, apakah Namaku Alam menarik untuk dibaca Jawabannya: YA, TENTU SAJA!

Bukan karena ia menawarkan kompleksitas sejarah yang sama dengan Pulang. Sebaliknya, Namaku Alam menarik untuk dibaca karena keberhasilannya mengubah sejarah besar menjadi kisah yang sangat personal.

Novel ini menunjukkan bahwa dampak sebuah peristiwa politik tidak berhenti ketika peristiwa itu selesai. Ia terus hidup dalam keluarga, ingatan, hubungan sosial, dan identitas generasi berikutnya.

Jika Pulang berbicara tentang mereka yang mengalami sejarah, maka Namaku Alam berbicara tentang mereka yang mewarisi akibatnya.

Dan mungkin di situlah letak kekuatan sebenarnya. Karena kadang-kadang sejarah tidak dikenang. Ia diwariskan.

Saturday, 26 December 2020

Kalender 2021 Gratis

2020 menjadi tahun yang benar-benar bizzare dari tahun-tahun sebelumnya, tentunya karena pandemi Covid19 mewabah. Bagi semua orang yang terdampak, Covid memang brengsek -- meskipun tidak lebih brengsek dari bajingan-bajingan yang bersenang-senang di atasnya, termasuk orang-orang yang tega korupsi dana sosial. Saya heran, diberi makan apa orang-orang ini, dibesarkan dengan cara bagaimana, dan diisi apa otak mereka kok bisa-bisanya tumbuh jadi manusia hina... Tapi sudahlah, saya tidak sedang berniat untuk nge-rant di sini, melainkan sebaliknya; bersyukur karena saya masih hidup, bersyukur karena kita semua masih sehat.


2020 memang benar-benar bizzare, di samping hal-hal kelam yang rasanya ingin dibuang saja dari ingatan, tidak sedikit pula hal-hal baik yang bisa diambil pelajaran. Saya bersyukur dengan adanya lockdown, saya jadi bisa lebih banyak berkumpul dengan keluarga karena kami semua WFH. Saya jadi punya lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi hal baru, seperti bermain bass, menulis lagu, menemukan pasar baru dalam menggambar, dan sebagainya. Banyak pencapaian-pencapaian tak terduga yang justru datang di tahun yang penuh dengan segala keanehannya ini, dan saya yakin kalian pun menemukannya. Untuk itu, saya ingin lebih bersyukur atas apa yang saya alami selama setahun belakangan.


Kebahagiaan akan lebih nikmat jika dibagikan dan dirasakan bersama. Tadinya saya bingung, bagaimana cara membagikan kabar baik pada kalian di saat kita semua berjauhan, sampai suatu ketika saya terpikir untuk membagikannya lewat karya yang mungkin akan sedikit berguna bagi kalian mengingat hari ini tanggal berapa dan besok mau apa. Dengan ini saya ingin menyampaikan kalau 2020 saya baik-baik saja dengan segala masalah yang ada, dan saya berharap serta yakin kalian juga... Semoga tahun depan akan jadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya...


DOWNLOAD KALENDER 2021




Berikut adalah preview Kalender 2021 yang bisa kalian download gratis dan cetak mandiri dengan meng-klick link "Download Kalender 2021" di atas.

Friday, 8 June 2018

Kabar Baik

Lebaran identik dengan kebersamaan dan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang terkasih. Nggak jarang, momen ini digunakan oleh sebagian dari kita untuk berbagi angpao THR untuk kerabat dan anak-anak. Berbagai desain amplop lucu bertebaran dan dijual bebas, sayangnya, sejauh yang kualami desainnya begitu-begitu saja dan tampak membosankan. Untuk anak-anak dan orang awam, mungkin hal ini tak begitu penting. Tapi untuk kita-kita yang memutuskan untuk terjun di industri kreatif, hal ini sama pentingnya dengan pandangan kritis terhadap daftar menu makanan yang tata visualnya tabrak lari. Heheu~

Sampai akhirnya tahun lalu salah satu temanku, Audianarayani merilis artwork seri amplop lebaran yang disebarkan secara cuma-cuma. Hal ini jadi menarik buatku -- bagaimana teman-teman artis merilis amplop-amplop lebaran versi mereka sendiri. Beberapa menjualnya sebagai merchandise, beberapa lainnya memilih untuk tetap membagikannya gratis, entah dengan alasan berbagi, bersenang-senang, atau apalah, bebas -- dan aku memilih opsi yang kedua.

Yap, di lebaran kali ini, aku mau berbagi sebuah desain amplop yang kukerjakan di sela-sela kesibukan kerja. Konsepnya sederhana --biasa juga karena banyak rekan-rekan artworker yang bermain dengan cara ini juga-- merupakan karya plesetan dari desain kemasan Kopi Kapal Api. Alasannya simpel, kopi ini yang sering kali kuminum sembari bekerja, jadi tiap hari lihatnya bungkus-bungkus  ini juga, haha.

Kabar Baik - Designed by Chanchanscraw, based on the original version owned by PT Kapal Api.
Not for commercial use.
Kabar Baik - Designed by Chanchanscraw, based on the original version owned by PT Kapal Api.
Not for commercial use.

Nah, buat kalian yang ingin menggunakannya, dapat didownload dengan gratis template-nya melalui link berikut ini:

Download Template Amplop Kabar Baik


Silahkan dicetak, dilipat-lipat, direkatkan dengan lem, dan digunakan untuk berbagi kebahagiaan :D Gunakan dengan bijak, ya! Tidak untuk diperjual-belikan. Panjang umur senang-senang~

Friday, 12 January 2018

Bodong


We first met about 7 months ago, not too long for us to become best friends. He came to our home along with his father, that time he was just 3 or 4 months old I guess. At first, he was just a shy lil cat. He was hiding while his father roaming around looking for some foods. My mom who saw them first then gave them some snacks and water, no need a long time they have already been so close to us. Day after day they lived in our car port til one of our neighbors​ told us to adopt them. Since we already have two cats at home, so we approved his request. Two day after that, we heard a cat meowing continuously. I searched then I found that this lil cat from before was on our roof asking for help, but that time he was alone without his father. I wondered if he escaped from the neighbor's home just to go back here. My mom asked me to help him since he looked so scared to jump down, and that moment when I helped him was the first time he got forever home and became a part of our family.

We gave him some medical treatment  first like pirantel pamoat, antiflea, and antibiotics since he came back with a wound below his mouth. We wanted him to become an healthy cat so that he wouldn't bring disease to our Nyannyan and Kimi. Long story shortened, my mom called him "Bodong", and it became his name since he actually has a bulge of navel which called 'bodong' referred to Javanese language. He looked so glad with his new name. Everytime we called, he would come running then rubbed his head against our hand or feet. 

Day by day passed by, he officially lived here in our home and his old wound below his mouth has already totally healed. We never discriminated him against the other two just because he was the only local domestic cat here, they got the same treat one another, so he was also given a necklace coloured blue which I thought it suits his fur color.  The most interesting thing about our togetherness is the fact that Bodong was so clever and loyal cat. He would come just by heard our call even when he was about too far and we couldn't see each other, just by a name called he would run to us. He would follow us when we wanted him to follow even without a harness, and he would move his ass out even when he was on sleep just because we ordered him to. He often brought us a present even it was just a random dry leafs, an insect, plastic bag, or whatever he got, just to show how he was grateful to live with us. He often meowing to called my mom to show something like it was a proof that he was a loyal kid. Amongst the 3 of cats, he became the most closest one to my dad that even made Nyannyan felt jealousy sometimes. Time flight, in about 2 months he became a handsome young-adult cat with so fine red fur and well muscled body. He even bravely fought a dog to protect a bowl of catfood in our porch. Yeah it was about our Bodong! 

But sadly, this is the last day of him. After 5 days fought against distemper, finally he passed away right on the sixth day. The doctor said that the fifth day was the line between life and death for cats infected by panleukopenia. And he survived until that day.

He's such a hella strong boy. He even survived from a half death because of raticide before. But this time he prefer to go to the rainbow bridge. Maybe it's the best for him, he's no longer in pain.

Rest in peace my friend, Bodong,... See you when I see you on the rainbow bridge :')

Sunday, 7 January 2018

Kapan Kawin?



Alkisah, ada seorang ukhti yang bercerita tentang pengalaman rekan lelakinya yang bernama Oki. Dikisahkan si Oki ini adalah seorang lelaki yang sering membantu dalam pelaksanaan acara pernikahan teman-temannya. Suatu saat, bertemulah ia dengan seorang mahasiswi semester akhir bernama Nisa. Si Oki pun bertanya, "Mbak, sudah siap kawin?" yang kemudian dijawab oleh Nisa, "Belum, saya ingin membahagiakan orang tua saya dengan menyelesaikan skripsi dan lanjut kuliah lebih tinggi."

Singkat cerita, obrolan keduanya tentang pernikahan berlanjut, di mana pemikiran cupet si Oki beranggapan bahwa menunda nikah untuk kuliah bukannya akan membahagiakan orang tua si Nisa, justru bakal menempatkan mereka pada keresahan, bahkan kekecewaan -- jika sampai akhirnya Nisa jadi perawan tua karena tak ada lagi laki-laki muda yang mau melamar perempuan matang dan terlalu mapan dari segi pendidikan. Minder katanya...

Mendengar cerita ini, tetiba tanganku gatel ingin 'ngeplaki' orang bernama Oki ini. Alasannya; pertama, Oki ini siapa? Teman dekat bukan, apalagi keluarga, kok berani-beraninya nyampurin urusan orang lain tentang pernikahan yang harusnya personal dan sangat sakral, bedebah. Dia bahkan tak mengenal si Nisa ataupun tahu bagaimana latar belakangnya. Sok tau nian ia sebagai manusia?

Kedua, siapa pula si Oki ini kok bisa-bisanya menggeneralisir bahwa semua orang tua bakal bahagia kalau anaknya nikah muda? Survey dari mana? Riset model apa? Toh jaman sekarang nggak jarang orang tua yang ingin anaknya sekolah tinggi, encourage anaknya buat sekolah ke luar negeri, biar apa? Biar pintar dan ndak ndak mudah terpengaruh basa-basi busuk laki-laki insecure macam si Oki ini. 

Ketiga, kalau alasannya segerakan menikah untuk menghindari zina, lha po rumangsamu semua orang nikah cuma karena pikiran bakal ewe'an yang berkecamuk sampai tak tertahankan, yang satu-satunya jalan untuk menghindarinya agar tak dosa adalah dengan segera menikah? Kuwi lak pikiranmu sing cupet lan dibuntel cawet!! Please, Oki, ndak semua orang yang menunda nikah semesum itu. Menikah bukan perihal bisa ena-ena tanpa label zina yang berujung dosa -- lebih kepada bagaimana menyatukan dua keluarga dari dua manusia yang pada akhirnya mengikat janji untuk saling setia. Aku yakin sudah banyak pemuda jaman sekarang paham akan hal ini, nggak melulu secupet pemikiranmu.

Keempat, serelijius apa sih si Oki ini sampai bawa-bawa agama buat nyampurin urusan yang bukan haknya? Justru orang-orang macam Oki inilah yang sesungguhnya meragukan kebesaran dan kehendak Tuhan akan konsep "JODOH". Lha rumangsamu semakin tua umur perempuan, semakin tinggi pendidikannya, semakin berilmu dia, terus Tuhan jadi ndak mampu atau ndak mau ngasih dia jodoh? Rumangsamu Tuhan ki mak comblang ecek-ecek? Ojok takabur Ki, Oki!!! Lha wong nenek-nenek yang berumur lebih dari dua per tiga abad saja diberikan oleh Tuhan jodoh pemuda umur belasan. Kowe ki terlalu sombong dengan meragukan kebesaran Tuhan, ki!

Terakhir, kalau si Oki bilang mana ada laki-laki muda yang mau sama perempuan tua yang mapan pendidikannya, bakal lebih banyak mindernya... Hellaaaaaww,, perempuan mapan dan cerdas juga ndak bakal mau sama laki-laki cemen dan minim kualitet model njenengan!

Haduh... Aku jadi ngerant terus bingung mengakhirinya. Lagipula, siapa pula aku? Kenal Oki aja endak kok ngomen dan nanya-nanya... Lagipula cerita yang dikisahkan sang ukhti mungkin hanyalah fiktif belaka, maka tulisanku juga tak spesifik menunjuk Oki yang mana. Ya sudah lah, ditutup saja... Tapi sebelum itu, aku punya sedikit saran tuk kalian yang mungkin suatu saat bertemu rangorang macam si Oki ini... Dekati dan rangkul dia, sibak rambutnya dengan penuh kelembutan karena mungkin mereka adalah tipe orang yang kurang kasih sayang, dekatkan kepalamu, lalu bisikkan di kupingnya dengan penuh rasa khidmad, "HILIH KINTHIL~"