"Tak ada jiwa yang bermasalah. Yang ada hanyalah pikiran-pikiran yang dibatasi oleh aturan dan dogma.
Apakah kehendak bebas benar-benar ada? Apakah manusia bebas benar-benar ada? Okky Madasari mengemukan pertanyaan-pertanyaan besar dari manusia dan kemanusiaan dalam novel ini.
Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani, dihadirkan pergulatan manusia dalam mencari kebebasan dan melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan.
Ekspektasi Awal Yang Keliru
Ketika mulai membaca Pasung Jiwa karya Okky Madasari, saya mengira novel ini akan berfokus pada isu transgender atau gender non-konformitas. Dugaan itu tentu bukan tanpa alasan. Sinopsis buku serta berbagai review mengatakan demikian. Selain itu, tokoh utama, Sasana, sejak awal memang digambarkan memiliki pergulatan dengan identitas dirinya sebagai laki-laki yang tidak sesuai dengan ekspektasi sosial di sekitarnya, hingga ia memilih untuk tampil sebagai perempuan demi mengejar kebebasan yang diimpikannya.
Namun setelah memasuki pertengahan novel hingga akhirnya menutup halaman terakhir, saya menyadari bahwa isu gender hanyalah pintu masuk. Gerbang awal untuk menyusuri pertanyaan demi pertanyaan filosofis yang coba disuguhkan penulis. Hingga saya sadar, pertanyaan yang sesungguhnya diajukan novel ini jauh lebih besar:
Apakah manusia benar-benar hidup sesuai kehendaknya sendiri, atau hanya menjalankan peran yang dipilihkan oleh orang lain?
Di titik inilah Pasung Jiwa berubah dari sekadar novel tentang pergolakan identitas menjadi novel tentang kebebasan yang jauh lebih luas.
Ketika Gagasan Lebih Penting daripada Atmosfer
Hal pertama yang cukup mengusik pengalaman membaca saya adalah gaya penceritaan Okky Madasari yang terasa sangat cepat.
Sebagai penggemar fiksi sejarah dan juga pembaca yang menyukai novel dengan detail psikologis yang kaya, serta pembangunan dunia yang mendalam, saya sering merasa cerita yang disajikan bergerak terlalu tergesa-gesa. Tokoh berpindah dari satu fase kehidupan ke fase berikutnya tanpa banyak jeda refleksi serta eksplorasi detail yang mendalam. Padahal novel ini bergerak di tengah berbagai konteks sosial, politik, dan sejarah Indonesia yang sebenarnya sangat menarik untuk dieksplorasi lebih jauh. Sehingga, di awal saya merasakan kurangnya kedalaman karakter dan koneksi antara pembaca dengan masing-masing tokoh yang dimunculkan.
Banyak novel bertema identitas atau sejarah sosial berusaha membuat pembacanya "tinggal" di dalam dunia yang mereka bangun. Mereka mengajak pembaca merasakan suasana, mencium bau jalanan, memahami ketakutan tokoh, hingga mengenal ruang sosial tempat cerita berlangsung.
Sementara dalam Pasung Jiwa, saya merasa peristiwa-peristiwa sering kali berfungsi hanya sebagai kendaraan untuk menyampaikan gagasan.
Tokoh bergerak.
Konflik muncul.
Situasi berubah.
Namun semua itu terasa sangat diarahkan untuk mengantarkan pembaca pada pertanyaan filosofis tertentu. Akibatnya, atmosfer terkadang terasa kalah penting dibanding pesan yang ingin disampaikan.
Meski demikian, pendekatan ini memiliki kelebihan tersendiri. Novel menjadi lebih mudah diakses oleh pembaca umum karena tidak tenggelam dalam detail yang berlebihan. Okky tampaknya lebih tertarik mengajak pembaca berpikir daripada mengajak pembaca berlama-lama menikmati dunia yang ia bangun.
Sasana dan Kebebasan yang Terrampas Sejak Kecil
Pada lapisan paling permukaan, Pasung Jiwa memang dapat dibaca sebagai kisah seorang individu yang berjuang melawan norma gender. Sasana hidup dalam lingkungan yang terus menerus menentukan bagaimana ia harus menjadi laki-laki;
Keluarga memiliki definisi sendiri.
Masyarakat memiliki definisi sendiri.
Lingkungan memiliki definisi sendiri.
Tidak ada ruang bagi Sasana untuk mendefinisikan dirinya sendiri.
Dalam perspektif sosiologi, kondisi ini mengingatkan pada konsep "social construction of reality" dari Peter Berger dan Thomas Luckmann. Mereka berpendapat bahwa identitas manusia tidak lahir dalam ruang kosong. Sejak kecil, kita menerima berbagai definisi mengenai apa yang dianggap normal, baik, pantas, dan benar. Namun, masalah muncul ketika definisi-definisi tersebut berubah menjadi penjara.
Sasana adalah representasi individu yang mulai mempertanyakan konstruksi sosial tersebut. Ia mempertanyakan apakah lingkungannya yang salah karena tidak sesuai dengan dirinya, atau justru dirinya yang salah karena tidak sesuai dengan lingkungannya? Ia tidak sekadar mencari identitas. Ia mempertanyakan dan mencari kebebasan.
Cak Jek; Sebuah Antitesa dari Sasana yang Nyatanya Jauh Lebih Tragis
Meskipun Sasana adalah tokoh utama dalam novel ini, namun karakter yang tak kalah menarik untuk dibahas dan sangat membekas bagi saya justru Cak Jek. Bahkan dalam tulisan ini saya berani mengatakan bahwa tokoh paling tragis dalam Pasung Jiwa bukanlah Sasana. Melainkan Cak Jek.
Sejak awal Sasana sadar bahwa dirinya terpasung. Ia tahu ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Ia tahu ada yang salah dengan lingkungannya. Dan ia tahu dirinya sedang terjebak. Karena itu sepanjang cerita ia terus berusaha mencari jalan keluar.
Sebaliknya, Cak Jek tidak pernah merasa dirinya terpasung.
Ia merasa ia hidup bebas. Ia merasa bisa menentukan pilihannya sendiri. Ia merasa telah menemukan tujuan hidup. Ia merasa menemukan identitas. Ia merasa menemukan tempat dalam masyarakat.
Tapi justru di situlah tragedinya...
Karena perlahan dan pada akhirnya ia berubah menjadi bagian dari sistem yang sebelumnya tidak pernah ia wakili.
Ketika akhirnya menjadi bagian dari kelompok yang melakukan persekusi terhadap orang-orang yang berbeda, termasuk Sasana yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri, atau bahkan Memed dan Leman -- dua sahabat seperjuangannya di jalanan dulu, Cak Jek tidak lagi tampak sebagai sosok yang bebas dan merdeka.
Ia menjadi simbol dari seseorang yang mengira dirinya bebas, padahal hanya berpindah dari satu bentuk penjara ke bentuk penjara yang lain. Ia tak sadar bahwa ia membangun pasung bagi jiwanya sendiri, dan menurut saya ini sangat tragis.
Membaca Cak Jek Melalui Kacamata Foucault
Perubahan Cak Jek menjadi jauh lebih menarik jika dibaca menggunakan pisau analisis pemikiran Michel Foucault. Foucault berpendapat bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja melalui paksaan langsung. Sering kali manusia justru ikut mereproduksi kekuasaan karena merasa memperoleh manfaat darinya;
Kekuasaan memberi identitas.
Kekuasaan memberi rasa aman.
Kekuasaan memberi posisi sosial.
Akibatnya seseorang bisa merasa bebas ketika sebenarnya ia sedang tunduk pada sistem yang lebih besar dan memenjarakannya. Inilah yang saya lihat pada Cak Jek.
Ia tidak dipaksa menjadi bagian dari struktur tersebut. Ia justru masuk dengan sukarela. Dan karena itulah tragedinya terasa lebih menyakitkan (dan sangat menyebalkan bagi saya). Sasana tahu bahwa dirinya sedang melawan penjara, sedangkan Cak Jek bahkan tidak menyadari bahwa ia sedang membangunnya untuk dirinya sendiri.
Pasung yang Tidak Selalu Berbentuk Rantai
Judul Pasung Jiwa menjadi sangat menarik jika dilihat dari sudut pandang ini. Pasung dalam novel ini tidak selalu berbentuk larangan atau kekerasan fisik. Kadang pasung hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus dan sulit disadari:
Ekspektasi keluarga.
Norma sosial.
Norma agama.
Kondisi politik.
Pengakuan kelompok.
Fanatisme.
Keinginan diterima.
Ketakutan terhadap perbedaan.
Ironisnya, dalam realita sosial, banyak bentuk pasung tersebut justru terasa nyaman. Ia memberikan rasa aman. Ia memberikan identitas. Ia memberikan kepastian. Oleh karena itu manusia sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang terbelenggu.
Kritik Pribadi
Jika ada satu kritik terbesar yang saya miliki terhadap Pasung Jiwa, maka itu adalah bagian akhirnya. Masalahnya bukan karena ending terbuka. Saya tidak keberatan dengan open ending, banyak karya sastra besar justru berakhir dengan meninggalkan pertanyaan. Masalahnya adalah besarnya konflik yang dibangun dalam novel ini terasa tidak sebanding dengan ruang yang diberikan untuk menyelesaikannya.
Ketika konflik Sasana dan Cak Jek mencapai titik puncak yang sangat menarik, halaman yang tersisa sudah tidak banyak. Jujur saja pada puncak konflik ini saya dibuat sangat kesal pada plot twist yang akhirnya terjadi (saya benar-benar tidak pernah membayangkan sebelumnya terkait twist ini), hingga mencak-mencak pada kelakuan Cak Jek.
Namun, sebagai pembaca saya mulai memiliki firasat bahwa cerita ini tidak akan memiliki cukup ruang untuk mengembangkan konsekuensi emosional dari semua peristiwa yang sudah terjadi.
Dan ternyata memang demikian.
Saya merasa novel ini masih membutuhkan satu bab tambahan, atau bahkan beberapa puluh halaman lagi untuk kemudian menutupnya. Bukan untuk memberikan jawaban pasti, melainkan untuk memberi kesempatan kepada konflik yang sudah dibangun agar benar-benar bernapas.
Akibatnya, konklusi yang muncul terasa lebih seperti kebutuhan untuk mengakhiri cerita daripada puncak yang tumbuh secara organik dari seluruh perjalanan sebelumnya.
Namun...
Jika menilik dari kutipan berikut;
"Kebebasan baru ada jika ketakutan sudah tak ada."
Saya rasa novel ini memang sudah dapat diakhiri. Meskipun kembali lagi, saya mengharapkan konklusi yang jauh lebih dalam setelah sedemikian rupa konflik dibangun. Terlebih, betapa kesalnya saya pada Cak Jek membuat saya tak puas jika ia hanya menyelesaikannya dengan tangisan, kamu boleh tidak sependapat mengingat ini adalah pendapat pribadi saya.
Kesimpulan: Novel Tentang Kebebasan yang Menyamar sebagai Novel Tentang Gender Non-konform
Terlepas dari kritik yang saya miliki, Pasung Jiwa tetap berhasil melakukan satu hal yang sangat penting. Novel ini memunculkan berbagai tanda tanya di otak saya, dan terus saya pikirkan setelah selesai membacanya.
Dan bagi saya, itu adalah salah satu tanda karya yang berhasil dan sangat saya nikmati.
Karena pada akhirnya, Pasung Jiwa bukanlah novel yang sekadar bertanya bagaimana rasanya menjadi berbeda. Novel ini bertanya sesuatu yang jauh lebih mengganggu:
Apakah kita benar-benar bisa bebas?
Ataukah kita hanya sedang memilih bentuk pasung yang paling nyaman untuk kita tinggali?
Mungkin itulah alasan mengapa karakter yang paling membekas bagi saya di novel ini justru bukan Sasana, melainkan Cak Jek.
Sebab banyak orang mungkin tidak pernah menjadi Sasana, tetapi sangat mungkin suatu hari menjadi Cak Jek tanpa pernah menyadarinya. Dan jujur saya takut menjadi Cak Jek selanjutnya.




