Showing posts with label #ChanChanSokBijak. Show all posts
Showing posts with label #ChanChanSokBijak. Show all posts

Saturday, 26 December 2020

Kalender 2021 Gratis

2020 menjadi tahun yang benar-benar bizzare dari tahun-tahun sebelumnya, tentunya karena pandemi Covid19 mewabah. Bagi semua orang yang terdampak, Covid memang brengsek -- meskipun tidak lebih brengsek dari bajingan-bajingan yang bersenang-senang di atasnya, termasuk orang-orang yang tega korupsi dana sosial. Saya heran, diberi makan apa orang-orang ini, dibesarkan dengan cara bagaimana, dan diisi apa otak mereka kok bisa-bisanya tumbuh jadi manusia hina... Tapi sudahlah, saya tidak sedang berniat untuk nge-rant di sini, melainkan sebaliknya; bersyukur karena saya masih hidup, bersyukur karena kita semua masih sehat.


2020 memang benar-benar bizzare, di samping hal-hal kelam yang rasanya ingin dibuang saja dari ingatan, tidak sedikit pula hal-hal baik yang bisa diambil pelajaran. Saya bersyukur dengan adanya lockdown, saya jadi bisa lebih banyak berkumpul dengan keluarga karena kami semua WFH. Saya jadi punya lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi hal baru, seperti bermain bass, menulis lagu, menemukan pasar baru dalam menggambar, dan sebagainya. Banyak pencapaian-pencapaian tak terduga yang justru datang di tahun yang penuh dengan segala keanehannya ini, dan saya yakin kalian pun menemukannya. Untuk itu, saya ingin lebih bersyukur atas apa yang saya alami selama setahun belakangan.


Kebahagiaan akan lebih nikmat jika dibagikan dan dirasakan bersama. Tadinya saya bingung, bagaimana cara membagikan kabar baik pada kalian di saat kita semua berjauhan, sampai suatu ketika saya terpikir untuk membagikannya lewat karya yang mungkin akan sedikit berguna bagi kalian mengingat hari ini tanggal berapa dan besok mau apa. Dengan ini saya ingin menyampaikan kalau 2020 saya baik-baik saja dengan segala masalah yang ada, dan saya berharap serta yakin kalian juga... Semoga tahun depan akan jadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya...


DOWNLOAD KALENDER 2021




Berikut adalah preview Kalender 2021 yang bisa kalian download gratis dan cetak mandiri dengan meng-klick link "Download Kalender 2021" di atas.

Friday, 8 June 2018

Kabar Baik

Lebaran identik dengan kebersamaan dan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang terkasih. Nggak jarang, momen ini digunakan oleh sebagian dari kita untuk berbagi angpao THR untuk kerabat dan anak-anak. Berbagai desain amplop lucu bertebaran dan dijual bebas, sayangnya, sejauh yang kualami desainnya begitu-begitu saja dan tampak membosankan. Untuk anak-anak dan orang awam, mungkin hal ini tak begitu penting. Tapi untuk kita-kita yang memutuskan untuk terjun di industri kreatif, hal ini sama pentingnya dengan pandangan kritis terhadap daftar menu makanan yang tata visualnya tabrak lari. Heheu~

Sampai akhirnya tahun lalu salah satu temanku, Audianarayani merilis artwork seri amplop lebaran yang disebarkan secara cuma-cuma. Hal ini jadi menarik buatku -- bagaimana teman-teman artis merilis amplop-amplop lebaran versi mereka sendiri. Beberapa menjualnya sebagai merchandise, beberapa lainnya memilih untuk tetap membagikannya gratis, entah dengan alasan berbagi, bersenang-senang, atau apalah, bebas -- dan aku memilih opsi yang kedua.

Yap, di lebaran kali ini, aku mau berbagi sebuah desain amplop yang kukerjakan di sela-sela kesibukan kerja. Konsepnya sederhana --biasa juga karena banyak rekan-rekan artworker yang bermain dengan cara ini juga-- merupakan karya plesetan dari desain kemasan Kopi Kapal Api. Alasannya simpel, kopi ini yang sering kali kuminum sembari bekerja, jadi tiap hari lihatnya bungkus-bungkus  ini juga, haha.

Kabar Baik - Designed by Chanchanscraw, based on the original version owned by PT Kapal Api.
Not for commercial use.
Kabar Baik - Designed by Chanchanscraw, based on the original version owned by PT Kapal Api.
Not for commercial use.

Nah, buat kalian yang ingin menggunakannya, dapat didownload dengan gratis template-nya melalui link berikut ini:

Download Template Amplop Kabar Baik


Silahkan dicetak, dilipat-lipat, direkatkan dengan lem, dan digunakan untuk berbagi kebahagiaan :D Gunakan dengan bijak, ya! Tidak untuk diperjual-belikan. Panjang umur senang-senang~

Sunday, 7 January 2018

Kapan Kawin?



Alkisah, ada seorang ukhti yang bercerita tentang pengalaman rekan lelakinya yang bernama Oki. Dikisahkan si Oki ini adalah seorang lelaki yang sering membantu dalam pelaksanaan acara pernikahan teman-temannya. Suatu saat, bertemulah ia dengan seorang mahasiswi semester akhir bernama Nisa. Si Oki pun bertanya, "Mbak, sudah siap kawin?" yang kemudian dijawab oleh Nisa, "Belum, saya ingin membahagiakan orang tua saya dengan menyelesaikan skripsi dan lanjut kuliah lebih tinggi."

Singkat cerita, obrolan keduanya tentang pernikahan berlanjut, di mana pemikiran cupet si Oki beranggapan bahwa menunda nikah untuk kuliah bukannya akan membahagiakan orang tua si Nisa, justru bakal menempatkan mereka pada keresahan, bahkan kekecewaan -- jika sampai akhirnya Nisa jadi perawan tua karena tak ada lagi laki-laki muda yang mau melamar perempuan matang dan terlalu mapan dari segi pendidikan. Minder katanya...

Mendengar cerita ini, tetiba tanganku gatel ingin 'ngeplaki' orang bernama Oki ini. Alasannya; pertama, Oki ini siapa? Teman dekat bukan, apalagi keluarga, kok berani-beraninya nyampurin urusan orang lain tentang pernikahan yang harusnya personal dan sangat sakral, bedebah. Dia bahkan tak mengenal si Nisa ataupun tahu bagaimana latar belakangnya. Sok tau nian ia sebagai manusia?

Kedua, siapa pula si Oki ini kok bisa-bisanya menggeneralisir bahwa semua orang tua bakal bahagia kalau anaknya nikah muda? Survey dari mana? Riset model apa? Toh jaman sekarang nggak jarang orang tua yang ingin anaknya sekolah tinggi, encourage anaknya buat sekolah ke luar negeri, biar apa? Biar pintar dan ndak ndak mudah terpengaruh basa-basi busuk laki-laki insecure macam si Oki ini. 

Ketiga, kalau alasannya segerakan menikah untuk menghindari zina, lha po rumangsamu semua orang nikah cuma karena pikiran bakal ewe'an yang berkecamuk sampai tak tertahankan, yang satu-satunya jalan untuk menghindarinya agar tak dosa adalah dengan segera menikah? Kuwi lak pikiranmu sing cupet lan dibuntel cawet!! Please, Oki, ndak semua orang yang menunda nikah semesum itu. Menikah bukan perihal bisa ena-ena tanpa label zina yang berujung dosa -- lebih kepada bagaimana menyatukan dua keluarga dari dua manusia yang pada akhirnya mengikat janji untuk saling setia. Aku yakin sudah banyak pemuda jaman sekarang paham akan hal ini, nggak melulu secupet pemikiranmu.

Keempat, serelijius apa sih si Oki ini sampai bawa-bawa agama buat nyampurin urusan yang bukan haknya? Justru orang-orang macam Oki inilah yang sesungguhnya meragukan kebesaran dan kehendak Tuhan akan konsep "JODOH". Lha rumangsamu semakin tua umur perempuan, semakin tinggi pendidikannya, semakin berilmu dia, terus Tuhan jadi ndak mampu atau ndak mau ngasih dia jodoh? Rumangsamu Tuhan ki mak comblang ecek-ecek? Ojok takabur Ki, Oki!!! Lha wong nenek-nenek yang berumur lebih dari dua per tiga abad saja diberikan oleh Tuhan jodoh pemuda umur belasan. Kowe ki terlalu sombong dengan meragukan kebesaran Tuhan, ki!

Terakhir, kalau si Oki bilang mana ada laki-laki muda yang mau sama perempuan tua yang mapan pendidikannya, bakal lebih banyak mindernya... Hellaaaaaww,, perempuan mapan dan cerdas juga ndak bakal mau sama laki-laki cemen dan minim kualitet model njenengan!

Haduh... Aku jadi ngerant terus bingung mengakhirinya. Lagipula, siapa pula aku? Kenal Oki aja endak kok ngomen dan nanya-nanya... Lagipula cerita yang dikisahkan sang ukhti mungkin hanyalah fiktif belaka, maka tulisanku juga tak spesifik menunjuk Oki yang mana. Ya sudah lah, ditutup saja... Tapi sebelum itu, aku punya sedikit saran tuk kalian yang mungkin suatu saat bertemu rangorang macam si Oki ini... Dekati dan rangkul dia, sibak rambutnya dengan penuh kelembutan karena mungkin mereka adalah tipe orang yang kurang kasih sayang, dekatkan kepalamu, lalu bisikkan di kupingnya dengan penuh rasa khidmad, "HILIH KINTHIL~"

Wednesday, 3 January 2018

Najib Martil

Najib Rifa'Abdullah a.k.a Najib Martil

Beberapa tahun lalu saya mengenal seorang pemuda bernama Najib dari sebuah kelas sharing yang saya adakan bersama beberapa teman lain. Tulisan ini akan menjadi sangat membosankan dan membuat saya tampak sebagai seorang hipokrit seandainya saya terus-terusan memuji dan menulis hal baik tentangnya, oleh karenanya tidak saya lakukan. Awalnya, saya yang memang merupakan orang yang cenderung 'risinan' kalau kata orang Jawa merasa jengkel dengan kelakuan sobat yang satu ini. Bagaimana tidak, ketika teman-temannya yang lain sibuk mengutarakan pendapat dalam brainstorming dia justru diam seakan tak menunjukkan sedikitpun kesinambungan, the fuck ur still here?!! Tapi akhirnya, kali kedua, tiga, empat, dan pertemuan-pertemuan selanjutnya, barulah saya sadar kalau ada kesungguhan dan keuletan dalam dirinya. Hal itu juga yang membuat saya dan rekan saya yang saat itu tengah merintis sebuah start up untuk merekrutnya daripada kandidat lain.

Najib bersama tim SOLOCULT.COM tengah mengerjakan shooting content 'Teng-Teng Crit' bersama Band Fisip Meraung

Beberapa waktu bekerja bersama kami, tak jarang Najib membuat saya dan rekan saya jengkel karena manajemen waktunya yang sorry to say anak kos banget, tapi itu semua terbayar dengan loyalitas yang ditunjukkan, keuletan, sifat ringan tangan, dan sikap lucunya -- apa adanya, slengean, tapi suka salting kalau jadi pusat perhatian. Saat itu, hari-hari di tim kami terasa menyenangkan, apalagi kalau bukan karena adanya Najib sebagai bahan 'ceng-cengan'. Hal ini juga yang membuatnya mendapat begitu banyak nama julukan seperti Najib Gumo'ong, Najib Fushtang, Genji Jowo, dan sebagainya, namun yang paling mengena bagi saya adalah Najib Martil, mengingat di suatu kesempatan ia tampil dengan kombinasi rambut dan muka yang menyerupai hiu martil, seram...

Beberapa bulan lalu setelah wisudanya, saya dengar dia kembali ke Jakarta, kota asalnya. Terakhir kali kami berjumpa adalah di kampus, saat itu saya dengar ia tengah mengurus syarat-syarat kuliah ekstensi. Masih tetap sama dengan converse putih lusuh, jaket jeans yang kelewat belel sampai banyak sobekan di sana-sini, dan gelang-gelang yang hampir tak pernah dilepas dia meneriaki saya, "Bajingaaaan suwe ora ketemu, Mas!" yang tentu saja saya jawab dengan umpatan pula, "Asuuuu,, kowe jare wes ora neng Solo!" yang kemudian dilanjutkan dengan dia menghampiri saya, menyalami, dan memberi pelukan. Ya, pelukan persaudaraan yang seandainya ada aktivis CELUP di situ lalu mengambil foto kami pasti akan saya hajar mukanya saat itu juga.

Saya dan Najib dalam suatu projek desain website.
Tak pernah menyangka kalau pertemuan yang singkat dan tanpa soto -- makanan favorit kami di saat sore hari sepulang dari kantor dengan perut keroncongan -- itu akan menjadi pertemuan terakhir saya dengannya, setelah malam tadi saya mendapat kabar dari rekan saya bahwa ia telah meninggal dunia. 

Bagaimana tidak gemetar ketika kamu mendapat kabar tentang meninggalnya orang yang ikut ambil bagian dalam proses pendewasaanmu 2-3 tahun belakangan, yang ikut jadi teman saat jatuh dan bangun, yang bahkan tempo hari ia masih meninggalkan like pada postingan instagrammu --ya dia memang termasuk orang yang paling rajin memberikan like pada postingan saya-- tapi sekarang dia telah pergi mendahului kita semua.

Kematian memang merupakan hal yang tidak pernah terduga, oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita selalu mengingat dengan berbuat baik selagi kita hidup dan bisa...

Selamat jalan sobat, @najibrifaa . Semoga diberikan ketenangan di sana. Tetaplah rajin membantu bila nanti di sana ketemu orang-orang baru! Beri mereka japa-japa dan ajak tertawa dengan guyonan klasik 'fushtang'-mu yang sangat tidak lucu tapi bikin saya tak bisa menolak untuk tertawa. Bertemanlah dengan orang-orang di sana jika ada, dan tetap loyal seperti biasanya! Semesta selalu memberkatimu...

Tuesday, 2 January 2018

Pulang



Pulang menjadi kata yang cukup kompleks tergantung pada konteks. Pulang tidak selalu identik dengan bahagia, tak selalu juga identik dengan sedih. Pulang tak selalu ke rumah, rumah tak juga selalu jadi tempatmu pulang.

Aku adalah orang yang selalu merindukan rumah, karenanya aku akan sangat bahagia jika suatu ketika pulang setelah lama berpergian. Tapi pulang tak selalu bahagia pula buatku yang di lain kesempatan berarti aku harus meninggalkan perempuanku.

Tahun baru adalah momen di mana berkumpulnya keluargaku. Kepulangan mereka ke kota asal kami menjadi momen menyenangkan yang ditunggu-tunggu. Setelahnya, kepulangan mereka kembali ke kotanya masing-masing menjadi momen yang sarat akan kesepian.

Pulang menjadi benar-benar kompleks dan kontradiktif. 

Pulang tak selalu identik dengan rumah. Perempuanmu, laki-lakimu, akan jadi tempatmu pulang di manapun mereka berada. Meskipun itu bukan di rumah. Tuhan, Pangeran, Dewa, dan apapun itu entitas maha, akan jadi tempatmu pulang pada akhirnya...

Kalau ada...

Monday, 1 January 2018

2018 and I'm still alive



Kalau diingat-ingat, 2017 menjadi tahun yang lumayan berat buatku, yang bahkan sampai hari terakhir pun aku berada dalam kondisi yang kurang sehat, heheu. Aku memulai tahun ini dengan optimistis tinggi, tapi banyak hal tak terduga terjadi :) syukurnya, aku masih hidup sampai saat ini, dan kata orang bijak, masa lalu dan pengalaman adalah guru yang paling berharga. Tahun depan biar jadi kejutan, tak perlu mengumbar resolusi, jalani saja dengan sepenuh hati, ciyaaaa~ Selamat tahun baru, semoga hari-harimu menyenangkan! Kamu semua keren bisa bertahan di dunia yang semakin absurd ini :* Salam...

Monday, 13 November 2017

Against Gender Stereotyping



Kalau dipikir-pikir, yang sebenarnya dirugikan oleh adanya budaya patriarki dengan segala ke-seksisannya itu bukan cuma pihak perempuan yang dalam berbagai kajian sering diposisikan tidak setara; seakan hanya menjadi second sex dan kaum yang termarjinalkan. Laki-laki pun. Misalnya, budaya patriarki melahirkan stereotipe laki-laki dominan, di mana laki-laki harus selalu tampak kuat, perkasa, jantan, blablabla. Sejak kecil sudah ditanamkan pada kita jika anak laki-laki nggak elok untuk menangis, anak laki-laki haram hukumnya menjadi cengeng dan 'cilik atine', padahal apa salahnya menangis? Wong menurut teori ego defense mechanism, menangis itu salah satu bentuk pertahanan diri yang natural bagi manusia tanpa memandang apa jenis kelamin dan gendernya.

Contoh lain, memasak. Sedari kecil kita diarahkan bahwa anak laki-laki main mobil-mobilan, dan anak perempuan masak-masakan. Anak laki-laki yang main masak-masakan bareng teman perempuannya segera dianggap menyimpang. Padahal, apa salahnya laki-laki yang memang suka memasak? Menjadi chef tak lantas membuat teman punk-ku Henry yang badannya penuh dengan tato kehilangan jati dirinya sebagai lelaki, berlaku juga bagi chef lain tentunya.

Contoh lain lagi, kaitannya dengan foto dalam postingan ini; bicara soal busana, perempuan mendapat prifilej sedikit lebih tinggi dalam hal ini di mana mereka mendapat lebih kebebasan untuk mengeksplorasi pakaian, seperti misalnya perempuan yang tampil boyish dengan ripped jeans, jaket kulit, dan sneakers akan dipandang keren,, tapi untuk lelaki yang ingin memakai rok dan put some make up on his face akan dicap sebagai banci (dalam konotasi negatif, padahal bagiku definisi banci ini sendiri masih terlalu nggrambyang dan bias), dan sering dikaitkan dengan label penyuka sesama jenis, gay, homo. Padahal pakaian di sini tidak berkorelasi dengan preferensi seksual. Mau bukti? Coba tanyakan ke aku apa cuma karena didandanin selayaknya perempuan kemudian aku mendadak suka laki-laki,, duh, kasihan pacarku Najla  kalau begitu...

Kalau memang laki-laki ingin memakai rok, apa salahnya gitu? Di Skotlandia dikenal 'kilt', gaya berbusana tradisional di mana laki-laki mengenakan rok bermotif tartan, -- di Jawa pun, laki-laki biasa memakai kain jarik, bukan celana, so what? Contoh ketidak adilan lain banyak, dan tentu saja itu tak hanya menyerang salah satu jenis kelamin saja. Mengutip sepenggal kalimat dari hasil wawancaraku dengan salah satu ilustrator kebanggaan Dewo Shake'n'Soap, "Patriarki itu tai!!!".

Wednesday, 18 October 2017

Sebelum Tidur Zine #Issue 1

Sebelum Tidur Zine Issue1

Seperti yang sudah kubilang sebelumnya bahwa aku berencana kembali menggratiskan zine-zine ku, maka terjadilah. "Sebelum Tidur" adalah zine yang kubikin sekitar 1 atau 2 tahun lalu aku kurang begitu ingat. Sebenarnya bukan cuma aku yang bikin sih, dalam zine ini aku cuma berperan sebagai editor dan distributor. Untuk isinya, kolektif. Sekilas tentang "Sebelum Tidur", zine ini berisi tulisan-tulisan ringan baik cerpen, prosa, maupun essay serta ikustrasi-ilustrasi lucu yang diharapkan bisa menjadi teman sebelum kamu-kamu tidur, sesuai namanya, emesh yha... Untuk issue 1-nya, kami berbicara tentang sebuah tema besar, "hujan". Alasannya? Karena aku suka saja... Issue kedua dari zine ini sedang dalam proses pengerjaan, akan segera kusebar seperti kuman ketika aku selesai mengerjakan semuanya. Ya, itu saja, namanya juga sekilas kan ya...

Sangat terbuka bagi kamu yang mau trade dengan zine lain, biar koleksi aku nambah juga heheu. Untuk kasus ini kamu bisa hubungi aku via email atau instagram yang alamatnya tertera di tab section blog ini. Kalau tidak ya kamu fotokopi sendiri saja aku pinjamkan master-nya, karena jujur aku tinggal menyimpan dua kopian dalam foto di atas ini saja, sudah habis dibagi-bagi tiap aku pergi. Atau kalau kamu tidak menghendaki fotokopi karena pemborosan penggunaan kertas masuk dalam area concern global warming, kamu bisa akses dan download versi digitalnya melalui link download berikut ini:


Sudah, sekiranya sekian saja postingan kali ini, salam...

Cara Membuat Wet Food Kucing DIY

Pernah ngalamin kucing kalian tiba-tiba menurun nafsu makannya? Mungkin bisa karena si kucing bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Itu pula yang dialami oleh kucing-kucingku. Tak jarang mereka mendadak berkurang nafsu makannya. Bagi seorang pecinta kucing, hal yang demikian pastilah jadi masalah, tentu saja aku termasuk di antaranya. Suatu hari, dari beberapa sumber yang kudapatkan, rasa bosan kucing terhadap makanannya juga bisa menjadi penyebab menurunnya nafsu makan. Oleh karenanya, kucoba mengganti pakannya dengan pakan basah. Benar saja, mereka lahap memakannya. Aku suka melihatnya. Tapi, kalau dipikir-pikir, harga pakan basah cukup tinggi juga jika dibandingkan dengan pakan kering berbentuk kibbles. Apalagi untukku yang seorang remaja miskin, bisa makin miskin aku kalau harus merogoh kocek lebih dalam hanya untuk keperluan pakan, di saat kebutuhan lain juga kian menghimpit tak kenal kasihan. 

Suatu hari, aku bertanya pada dokter hewan langganan kucing-kucingku tentang makanan organik apa yang bagus diberikan dan bisa didapat dengan harga yang lebih ekonomis. Si dokter pun memberi tahu, bahwa kita bisa mengombinasikan bahan-bahan pangan organik sebagai pakan selingan kucing. Akhirnya, panggilan jiwaku sebagai seorang pecinta kucing dan etos DIY yang selalu kugembar-gemborkan agar menjadi seorang punk yang kaffah membawaku untuk mencoba membuat sendiri menu makanan untuk kucing-kucingku. Berbekal resep yang disarankan si dokter, aku mulai belanja ke tukang sayur tradisional karena tak mau melanggengkan kapitalisme supermarket, halah prek! Pencitraan biar tampak kekirian!  Beberapa ibu menanyaiku dengan sedikit menyimpan keheranan, "Mau masak apa, mas?", "Emang bisa masak sendiri, mas?", dan lain sebagainya. Pikirku, biar saja lelaki berbelanja dan memasak, apa salahnya? Stereotipe gender memang sesuatu yang memuakkan dan mesti dilawan. Singkat cerita, aku berhasil membuat pakan kucing sendiri dan 'anak-anak'-ku suka!

Nah, di postingan kali ini (entah kenapa) aku ingin berbagi tips membuat makanan kucing sendiri, khususnya wet food berdasar apa yang pernah kubuat ini ya. Sebenarnya tips ini sudah banyak bertebaran di dunia maya, tapi apa salahnya, wong aku ingin sharing?!! Ya, sekali-sekali agar postingan di sini sedikit berguna bagi pengunjung normies lah ya...

Oke, pertama sediakan alat dan bahannya:


  1. Kompor, di sini aku pakai kompor punya si ibuk. Iya lah, wong aku tinggalnya juga sama ibuk.
  2. Panci dan apapun yang bisa dipakai untuk mengaduk. Tapi jangan sekop, kita sedang tidak akan mengaduk semen sebagai bahan bangunan.
  3. Wadah. Pakai apapun boleh, mau gelas, piring, baskom, akuarium, kolam renang, terserah.
  4. Tempe. Di sini aku beli sepotongnya Rp 1000,- dan memang aku cuma pakai sepotong.
  5. Ikan. Lebih baik ikan laut, karena aromanya lebih menyengat. Di sini aku pakai ikan pindang, biasanya dijual satu box isi dua, aku beli sih harganya cuma Rp 7000,-
  6. Bubuk agar-agar plain. Harganya sekitar 3-4000, murah kok! Ingat, yang plain ya!! Plain means tawar, nggak ada rasanya. Kita nggak lagi sedang bikin es buah.

Udah, itu aja sih kayaknya. Dari bahan yang dibeli, kira-kira kita hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 12.000, ya mentok mabelasribu lah. Murah sekali bukan?! Udah murah, DIY pula, wah rasanya aku sedang menantang kapitalisme korporat. Yo, fuck you!!!

Oke, selanjutnya cara membuat...



1. Rebus 4 gelas air. Setelah mendidih, masukan tempe dan ikan pindang yang telah disiapkan. Tunggu sekitar 15 menit sampai kira-kira matang.

2. Tiriskan tempe dan ikan pindang, pindahkan ke wadah lain. Airnya jangan dibuang, soalnya kaldu dari ikan ini lumayan menyengat baunya untuk merangsang nafsu makan kucing.

3. Tumbuk tempe dan ikan hingga lembut, lalu campurkan hingga jadi adonan. Bisa juga menggunakan blender kalau kamu malas dan memang ada blendernya, hehe.

4. Rebus kembali air kaldu yang sebelumnya disimpan, masukkan serbuk agar-agar, dan aduk rata!

5. Setelah mendidih, masukan adonan tempe dan ikan, aduk-aduk hingga rata.

6. Tuangkan adonan yang sudah merata ke dalam wadah, lalu tunggu hingga mengeras.

7. Jadi deh, kasih makan si kucing, sisanya bisa disimpan di kulkas.

Untuk pemberian selanjutnya, lebih baik dicampur dengan sedikit air panas, lalu dihancurkan agar aroma ikan lebih menyengat. Nah, kira-kira begitulah cara sederhana membuat sendiri wetfood untuk kucing kita. Dari bahan-bahan yang tadi kupaparkan, aku bisa membuat 3 kaleng (kaleng kemasan wetfood kucing 400gr) wetfood loh. Hemat banget kan?! Selain hemat juga sehat, karena tanpa pengawet dan pewarna, serta kita bisa memantau bahan apa saja dan cara membuatnya. Disamping itu, kita juga bisa menjadi pecinta kucing yang ngepang!!! Udah ah,.. Selamat mencoba!

Wednesday, 8 February 2017

F A C E


"Tukang telat!! Kamu tau nggak sih aku udah nunggu dari jam berapa?!"


"Sorry... Pesawatnya yang telat, bukan aku."


"Sorry sorry apaan?! Gimana bisa pesawat yang telat?! Cari-cari alesan deh!"


"Serius. Aku bahkan udah ada di bandara dua jam sebelum jad-…”


"Shut the fuck up!”


“Eh?”


“Hahaha, udah! Udah! Iya, iya, percaya! Apa deh terserah kamu!", belum selesai menjelaskan alasan keterlambatanku, gadis itu sudah memotong dengan tawa keras sebagaimana yang kukenal dulu seraya tumpah ke arahku. Ya, gadis itu adalah adikku. Adik yang harus terpisah jauh dariku karena orang tua kami berpisah lima tahun lalu.


Ini adalah pertemuan pertama kami sejak saat itu. "Langsung ke venue?", tanyaku.


"Nggak. Open gate masih nanti jam tujuh. Mau cari apa di sana? Check sound juga udah tadi," jawabnya sambil lalu di depanku. Aku sengaja pergi ke negara ini untuk menghadiri undangannya. Hari ini, hari pertama band-nya menggelar konser pembuka tour perilisan album barunya. Hari ini adalah miliknya. Ya, adikku adalah seorang front-girl dari salah satu band rock yang cukup berpengaruh di skenanya, jadi tak perlu heran kalau mereka memiliki live tour mereka sendiri.


"Hei, kau tahu? Dalam hal ini aku merasa benar-benar tertinggal."


"Maksudmu?"


"Kau ingat, kau mulai bermain gitar karena siapa? Dan sekarang, kau jauh lebih bersinar dariku! You've made it, and it makes me look like a loser."


"Jangan baper ah! You've been my favorite role model, and it will last forever!!", katanya sembari berbalik dan menepuk bahuku.


"Umurmu? 20 kan?"


"Kalau kamu ingat 5 tahun yang lalu umurku 15 dan nilai matematikamu nggak jelek-jelek banget, harusnya hitunganmu benar. Kenapa?"


"Nggak... Kau sudah dewasa.”


“Lalu?”


“Hmm… Wajahmu, kau kelihatan beda dari sebelumnya."


"Hey, puberty done right! Cantik kan?", jawabnya diikuti tawa kami berdua. Harus kuakui wajah adikku memang tampak jauh berbeda. Ia yang sekarang sudah tampak cukup dewasa. Cantik. Tapi bukan hanya perubahan fisik yang kulihat, lebih dari itu. Ya. Senyum yang menghiasi wajahnya kali ini adalah senyum yang benar-benar penuh percaya diri. Senyum yang mengisyaratkan ketegaran dan kekuatan. Beda dengan senyumnya dulu, bulan-bulan terakhir kami bersama sebelum akhirnya kami terpisah beda benua.


Pada dasarnya, adikku adalah gadis periang. Dia bisa menjadi anak yang sangat nekat, tapi juga cengeng dalam waktu yang bersamaan. Kontradiktif? Memang. Aku ingat, ketika kecil dulu kami sering bermain petak umpet di halaman belakang. Ketika tiba gilirannya jaga, ia akan mencariku ke manapun tempat yang terpikir olehnya. Kolong mobil, rumah tetangga, kandang ayam, semak-semak, banyak. Tak jarang terlalu jauh dan justru aku yang harus mencarinya, sampai kutemukan ia menangis karena tak kunjung menemukanku atau terjatuh saat berlarian mencariku. Tapi pada akhirnya, selalu senyum yang kudapati pada wajahnya.


Senyum itu yang kusuka.


Beranjak remaja, aku menyadari ada yang berubah pada senyum di wajahnya. Itu adalah saat di mana ketidak harmonisan mulai muncul di antara orang tua kami. Kami yang sudah mampu berpikir logis tentu saja tak bisa dibohongi atas semua yang terjadi. Tapi apa yang bisa kami perbuat? Tak ada, selain menyalurkan kegelisahan pada hal lain, salah satunya musik.


"Dek, kau percaya? Semuanya bakal baik-baik aja," kala itu, sering kali aku berusaha menenangkannya ketika ia mulai tampak bersedih. Dia hanya mengangguk, berusaha menahan tangis, dan mencoba tersenyum. Memang pada akhirnya masih saja senyum yang ia tinggalkan di wajahnya, tak beda dari waktu-waktu sebelumnya, meskipun aku tahu, ada kesedihan di balik senyum itu. Ada kelemahan. Ada ketakutan, benci, marah, banyak. Sampai akhirnya saat itu tiba...





----------





"Encore! Encore! We want more! We want more!", kudengar ribuan penonton berteriak kompak. Lagu terakhir dalam set list telah ia bawakan, ini artinya akhir dari pertunjukan. Aku yang berada di baris paling depan dapat dengan jelas menyaksikan bagaimana senyum tergambar di wajah adikku satu-satunya. Senyum yang benar-benar puas, menghiasi wajahnya dengan penuh kebanggaan.


Source: google - This image is just an illustration, It's Specialthanks' front girl Misaki.


"Okay, we'll give you one last song as an encore. You want it, right?", tanyanya yang disambut penonton dengan teriakkan.


"But before that, I want to ask you, can I do a collaboration with one of my favorite hero?"


"Kay, I think you let me do the last song with him. You know? He's such a great guitarist even though he has never made his own name, haha.” Para penonton menyambut tawanya.


“He’s cool, but I’m hot af! You know even the cold ice will melt down in a hot temperature, right?!” Lagi-lagi penonton menyambutnya dengan tawa. Pun denganku, kupikir ia tak pernah berubah, kebiasaannya melontarkan candaan yang mengejek itu.


“But you know, he’s my hero. He's the one who taught me how to play a guitar. And he's my brother. Come on, kak! Let's kick some ass!!!", dia menunjukku. Serentak, semua mata tertuju kepadaku. 


“What the…” dia masih saja spontan dan penuh kejutan. Diiringi sorak sorai penonton, stage crew membantuku untuk naik ke atas panggung.


Kini aku berada di atas panggung. Mungkin yang termegah yang pernah kuinjak selama aku bermusik. "Ini gila! Aku nggak ada persiapan!", protesku padanya.


"Santai. I know you can do it because you're my brother! We're still connected, right?", jawabnya santai sembari menyerahkan Gibson SG yang segera di-set efek dan sound-nya. “Aku bahkan masih ingat seri gitar favoritmu,” katanya sambil lalu menuju ke depan stand mikrofon miliknya. Saat itulah aku benar-benar yakin bahwa perubahan bukan hanya terjadi pada fisiknya, pada wajahnya, jauh lebih kompleks, ia berubah kembali menjadi adikku yang dulu, yang nekat dan penuh percaya diri as if she never hurt and down before.


"As the special guest, what if we give him a right to choose what to play?", tanya adikku pada penonton yang segera disambut dengan sorak sorai.


"So, what do you want to play, bro?"


"What if we do a cover of BECK's 'FACE'?", jawabku di depan mikrofon sembari memetik senar gitarku, mengecek sudahkah sesuai dengan yang kuinginkan.


"Beck? You mean 'Mongolian Chop Squad’?"


"Yeah, what else?"


"Okay, this is the last song from us, FACE!"





-----



Large lips in the motion

Tryin to keep blaming on

As I say reason I’m late on

Find you turning, laughing and smiling



Running over sometimes

Feels like you leave me behind

Now you don’t have to mind it

Find you shining every day by day



Sing it up, my sister!

In this world which everyone is lonely

Everything will be fine someday



Remember playin in the backyard

Hiding myself in garage

Since you never could catch me

Found you crying, weeping in darkness



Sing it up, my sister!

In this world which everyone is lonely

Everything will be fine someday



Some other day







Ditulis setahun yang lalu untuk program 365kata dengan tema "wajah".

Monday, 9 January 2017

Hidup Dan Monster Legend



Belakangan aku sedang keranjingan dengan sebuah game battle Monster Legend. Yah, sebenarnya aku bukanlah seorang gamer yang paham ini itu dan bukan juga orang yang rela menghabiskan berjam-jam waktuku untuk bermain game, tapi harus kuakui kalau game yang kumainkan kali ini adalah candu.

Sedikit tentang Monster Legend, game ini adalah tipe battle RPG berbasis facebook, android, dan ios, di mana kita berperan sebagai seorang Monster Master. Tugas kita sebagai Monster Master adalah mengelola pulau dan mengembangkan monster-monster yang kita pelihara di pulau kita untuk menyelesaikan berbagai challenge yang ada. Harus kuakui, untuk sekelas mobile game, developer game ini cukup bangsat! Perlu kamu tahu kalau aku adalah tipe orang yang akan berkata kasar ketika terpukau pada sesuatu. Aku sedang tak ingin mereview sebuah game, jadi aku tak perlu menjelaskan kenapa kusebut game ini candu.

Singkat kata, ada stage-stage challenge yang harus dilalui seiring dengan meningkatnya levelmu. Yang menarik, kita bisa kembali memasuki stage itu di masa mendatang setelah kita menyelesaikannya. Jadi, semacam introspeksi. Ini bagian yang kusuka, ketika levelku cukup tinggi, sesekali aku masuki stage sebelumnya yang saat itu kurasa sangat sulit dan membuatku frustasi bahkan ingin berhenti memainkannya. Lalu apa yang kudapatkan, seiring dengan bertambahnya level monsterku, stage-stage yang sebelumnya itu seperti bukan apa-apa. Blar!!! Sekali serang sudah aku menang. Bisa kamu bayangkan apa yang kurasakan? Stage yang dulu mati-matian kumenangkan, kini bisa dengan sangat mudah kutakhlukan!!!

Begitu pula hidup. Coba kamu sejenak bayangkan, hal apa yang dulu kamu perjuangkan mati-matian, membenturkan kepalamu pada kefrustasian, dan hampir menyerah pada keadaan! Katakanlah, skripsi. Ya, dulu aku sangat terdesak oleh hal ini. Dikejar-kejar waktu dan dihantui dosen pembimbing pun penguji membuatku mengumpat hampir tiap hari. Tapi akhirnya, dengan kesabaran dan perjuangan, aku bisa melewatinya. Lalu apa korelasinya dengan game Monster Legend?

Begini, saat ini aku terdaftar aktif sebagai mahasiswa S2 di sebuah kampus negeri dengan tugas-tugasnya yang menyiksa di tengah kesibukanku mengelola It's Banana! . Sering kali tiap malam sebelum tidur aku berpikir, aku masih hidup ya dengan semua kesibukan yang kualami. Kalau sudah begitu, sering aku membayangkan dulu skripsi yang kueluh-eluhkan setiap hari hampir tak ada apa-apanya jika dibanding kesibukan saat ini. Setelah itu aku tertawa, menyadari bahwa levelku sudah lebih tinggi dari sebelumnya.

Kuasumsikan aku ini monster yang terus berkembang dalam game Monster Legend. Aku butuh makan, aku butuh berusaha, aku butuh perjuangan, aku butuh pengalaman, dan aku butuh dukungan dari monster-monster lain di sekitarku untuk menaikkan levelku terus menjadi lebih tinggi. Pada dasarnya, hidup adalah sebuah perjuangan. Kita berjuang dan berjuang untuk sebuah pencapaian, sampai pada akhirnya kita sadar perjuangan yang kita lakukan telah menempa kita menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya. Selalu begitu, percayalah bahwa perjuangan takkan menghianati. Jadi, selamat berjuang monster-monster di luar sana, tapi ingat, istirahat sejenak bukanlah sebuah dosa!

Tuesday, 3 January 2017

Milestone 2016 - 2017

"Milestone" - Chanchanscraw, 2017



Biar seperti orang-orang, aku rasa menulis rangkuman milestone selama 2016 penting juga setelah sebelumnya tentang resolusi yang tidak terlalu muluk, agar menjadi introspeksi dan pengingat untuk selalu bersyukur dan bangkit lagi kalau terjatuh. Belum telat kan? Telat pun suka-suka aku yang bikin.

2016 adalah tahun yang menakjubkan dan mungkin jadi sebenar-benarnya batu loncatan untukku terjun ke masyarakat. Banyak hal terjadi di tahun yang kuawali dengan kelulusan program sarjanaku. Ya, aku dinyatakan lulus dari prodi Ilmu Komunikasi Sebelas Maret University awal Januari tahun lalu. Setelahnya, aku sedikit punya waktu untuk melakukan hal-hal yang kusuka, banyak-banyak menggambar, memproduksi beberapa Merch untuk tambahan uang jajan, dan jalan-jalan hingga bertemu teman-teman baru di tiap persinggahannya. Benar-benar mengasyikkan, terutama bagian bertemu teman-teman, aku suka!! Di tahun ini pula aku dan temanku memulai It's Banana! dan Solocult yang percayalah itu tak semudah kelihatannya, kami cukup bersakit-sakit ria di tahun ini. Hmm, lalu... Melanjutlan studi pascasarjana mungkin tidak terlalu menyenangkan buatku yang kurang suka pendidikan formal, tapi mungkin cukup pantas untuk dicatat dalam list peristiwa penting di tahun 2016-ku karena ini termasuk salah satu bentuk memenuhi harapan si ayah. Ya, intinya saat ini aku masih terjebak di kelas-kelas perkuliahan untuk mendapat gelar magisterku beberapa saat ke depan. Teman-teman bertanya, "Nggak capek kuliah terus?", dan hanya kujawab dengan senyuman kecut, hummm...

2016 juga menjadi tahun lahirnya kolektif seni yang liar dan entah mau dibawa ke mana bernama @papaya.klub . Entah sih apa tujuan akhirnya, yang kutahu orang-orang keren ada di dalamnya, haha. Selanjutnya, ah, iya, menonton live dan sedikit berbincang bersama Four Get Me A Nots yang merupakan salah satu band favoritku juga tak boleh dilewatkan selain bertemu dengan orang yang sebenarnya nggak unik-unik banget tapi aku suka, @najlafnh .

Akhirnya aku berterima kasih untuk semua yang kudapat di tahun 2016, untuk semua yang datang dan pergi, yang lalu lalang, yang membantu, yang mendukung, semua, termasuk kalian yang suka nge-like foto-foto dan baca tulisan-tulisan kurang faedah baik di caption instagram maupun blog ku. Terima kasih~

Sunday, 1 January 2017

Resolusi

Gambar oleh @mujixmujix


Gambar ini dibuat oleh salah satu kenalanku, Mujiyono, -biasa kupanggil Mas Mujix- , sebagai ucapan terima kasih telah membeli dan memberi sedikit review tentang komiknya, "Proposal untuk Presiden". Entah bagaimana Mas Mujix menuliskan "Make love not war" di gambar potraitku yang ia buat, mungkin karena aku yang memakai kacamata bulat dan sweater turtleneck mengingatkannya pada mendiang John Lennon, entahlah. Kupikir quote itu sangat mewaki tulisanku tentang resolusi dalam postingan ini. Tak perlu muluk-muluk, resolusiku di tahun baru adalah untuk menebar positive vibes, tetap waras di jaman yang semakin edan. Sudah, itu saja. Semoga tahun ini jadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya... Semesta memberkati... Selamat tahun baru

Tuesday, 9 August 2016

Semua Pekerja Keren di Skena-nya



Semakin dewasa, aku -mustinya kamu juga- makin paham bahwa semua pekerjaan itu keren, dengan begitu sudah sepantasnya jika semua pekerjaan dihargai sesuai nilainya, apapun itu. Misalnya gini, pagi tadi aku pijet karena masuk angin, -duh aku merasa gagal menjadi anggota PKI; Perkumpulan Kakak Indie, karena masuk angin setelah semalam ngegigs- kalau dipikir kan cuma mijet ya, bisa dilakukan sendiri, nyatanya? Aku minta orang lain yang emang kerjaannya mijet, karena aku tau dia punya skill mijet yang lebih dariku. Sebagai remaja yang cinta orang tua, pernah dong aku mijetin Si Ibu. Dari situ aku sadar, kalau mijet tak sesimpel itu, selain musti ngerti urutan uratnya juga capek di tangan. That's why aku butuh tukang pijet.

Contoh lain, ngecat. Beberapa hari belakangan aku dan temanku +Daniel Revelino  sibuk ngecat untuk persiapan *uhuk* studio kami. Kalau dilihat, ngecat itu perkara gampang kan, celupkan kuas, oles-oles, tunggu kering. Nyatanya? Tangan dan leher kami pegal-pegal dibuatnya! Bahkan aku sempat teriak histeris kesakitan saat setetes soda api yang kami pakai sebagai remover melayang ke mataku. That's why orang bayar tukang cat untuk ngecat rumahnya. Karena apa? Tentu karena tukang cat punya kemampuan lebih baik di bidang itu.

Dari dulu Ayah dan Ibu selalu menekankan padaku, sebisa mungkin jangan nawar untuk harga sebuah jasa, dan syukur sampai sekarang aku masih bisa mengaplikasikan wejangan tersebut. Inilah yang kusebut dengan menghargai pekerjaan di awal tadi, karena kita bukan orang yang serba bisa. Siapa yang menentukan harga? Menurutku mereka sebagai pekerja lah yang berhak. Mereka yang paling tahu berapa nilai jasa yang mereka tawarkan. Daripada menawar, alangkah lebih bijak jika kau sebut saja budget yang kau punya, tanyakan dengan nilai segini apa yang bisa kau dapatkan! Jangan malah mempermalukan diri dengan menawar, ingat, kau bukan orang yang serba bisa! Kau mau menggunakan jasanya karena dia mampu melakukan apa yang NGGAK BISA kau lakukan sendiri, jadi tau dirilah! Lain cerita kalau kau membandingkan antara satu pekerja dengan pekerja lain di ranah yang sama, lalu kau pilih harga yang paling murah, itu hakmu.

Yah pada akhirnya, sama-sama bekerja, sama-sama cari uang untuk makan, saling menghargai lah, karena masing-masing pekerja keren di skenanya. Jadi, masih mau bilang, "Gratisin lah, cuma gitu doang!" ?




Note: Aku sengaja menggunakan kata "skena" untuk menggantikan kata "ranah" karena aku suka. Ya, begitulah.

Tuesday, 3 May 2016

We only do cool shit!



"Hey kau yang muda, teruslah berkarya! Selagi muda, takhlukkanlah dunia! - Sudahi saja pestamu dan luangkan waktu melakukan sesuatu untuk masa depanmu!" ~Silampukau

Penggalan lirik dari lagu "Hei" milik duo folk asal Surabaya; Silampukau tersebut seperti ingin kami jadikan pegangan kedua setelah "Nggak semua orang keren ada di Jakarta"-nya Kelik Klan. It's Banana! itu dua orang, sepasang. We're not gays and not into it, tapi tetap saja It's Banana! itu sepasang. Sepasang pengangguran? Enak saja! Kami adalah sepasang pemuda pemuja Paul Arden yang penuh dengan mimpi. Ya, bisa dibilang kami adalah partime-dreamer, tapi tenang, another half-part-nya tetap kami gunakan untuk merealisasikan mimpi-mimpi itu tadi.

Orang di luar mungkin dengan remeh melihat, betapa santainya hidup kami ketika teman-teman seangkatan kami hilir mudik sibuk mencari pekerjaan tetap, sedangkan kami berdua masih sempat-sempatnya blabbering soal idealisme dan mimpi yang tampaknya makin basi dibicarakan di era ini. Hello, mereka cuman nggak lihat saja betapa di belakang kami berdarah-darah bergulat melawan resiko. Membenturkan kepala pada kefrustasian. Diperas baik ide, tenaga, bahkan ehemm uang. Nombok? Pastilah!! Tapi tenang, kami tidak lantas bunuh diri karena itu semua. Kami ini pemuda tabah dan ikhlas yang selalu percaya bahwa tak ada yang instan, semoga usia belum tua saat kami mencapainya. Kami ini pemuda yang masih terus berpikir mau bikin apa untuk makan apa. Kami ini Chandra Eka Privandani dan Daniel Revelino Arsono. Kami ini... Keren, dan kau musti percaya itu. We don't do advertising, we only do cool shit!!




Catatan: It's Banana! adalah nama sebuah creative agency yang saya rintis bersama kawan saya terhitung mulai Februari 2016. Banyak yang kami lalui, banyak darah yang mengucur kalau majas hiperbol diaplikasikan, tapi puji semesta raya, sampai tulisan ini dibuat kami telah mampu meng-hire dua anggota lain. We do believe that we'll grow bigger from now on.

Tuesday, 26 April 2016

Idealis?



Situ mau baca, silahkan. Apa ya, kita hidup di era dan negara dengan pola pikir macam itu. Pernah saya dengar di suatu seminar kreatif sebuah statement yang kira-kira begini, "Anak muda, jangan pernah lepaskan idealismemu! Kalau sudah kehilangan itu artinya kamu kehilangan jalan. Ikutilah passion-mu selagi muda!", entah bagaimana tepatnya tapi kira-kira seperti itulah. Tentu saja bagi pemuja passion seperti saya, dengan senang hati mengamininya. 

Lulus kuliah, saya tetap mencoba memegang erat hal itu, nyatanya saya masih berkutat dengan bajingan ini; Daniel Revelino , berjudi di ladang lain -yang lebih terjal konturnya dan tentu menantang- ketika ladang job fair dipenuhi rekan-rekan seangkatan dengan pakaian rapi, rambut klimis bagi yang pria, make up minimalis alih-alih biar tampak manis bagi yang wanita, tapi tetap, dengan muka berminyak karena keringat di venue yang penuh dan sesak.

Bukan masalah cari kerja yang sering saya dan teman saya -yang namanya tertera sebelumnya- pertanyakan, tapi perihal bagaimana mereka para fresh-graduate-job-seeker ini seakan dengan mudahnya kehilangan pegangan; Anak komunikasi, daftar bank. Anak hukum, daftar bank. Anak desain interior, daftar bank. Udah, semua jurusan saja daftar bank apapun hobi, konsentrasi studi, dan keahliannya. Mustinya kampus-kampus lebih banyak sediakan materi perbankan saja ya agar ilmunya tidak mubadzir di tengah ladang yang kian gersang karena diinjak-injak banyak orang.

Bukan merasa sok keren dan merendahkan, tapi ya namanya kegelisahan, dan ini blog pribadi saya, jadi wajar untuk mengungkapkan. Bagi pemuja passion seperti saya, mengidolakan orang-orang yang berjalan di jalan mereka harus berjalan adalah suatu keharusan pun kesenangan. Jadi kondisi macam itu tadi terasa sedikit menyebalkan.

Tapi, yah,, namanya hidup sih ya. Seiring berjalannya waktu kita tidak bisa lantas menyalahkan dan men-judge rekan-rekan yang perlahan melepaskan idealismenya itu salah, lalu kita merasa lebih benar dan mulia derajadnya dibanding mereka. Hidup itu pilihan, dan melepas idealisme termasuk salah satu bentuk dari memilih. Kalau di tulisannya yang dimuat pada www.siksakampus.com, teman saya  tadi menganalogikan mengejar passion itu seperti Kapten Tsubasa yang tengah menggiring bola dan berusaha mencetak angka, maka menurut saya Tsubasa berhak melipir di tengah lapangan menuju kerumunan, terus lari peduli setan, dan jajan di warung sebelah stadion. Suka-suka Tsubasa wong itu hidupnya :)
.

Solo, 26 April 2016 di depan komputer sembari menyembah Paul Arden.

Sunday, 21 June 2015

Good Morning, Kids...



Pagi itu hangat. Waktu menunjukkan pukul 8 dan tentu saja itu jam 8 pagi, karena sudah saya sebut di kalimat sebelumnya. Saya sudah bangun, sudah mandi, tapi belum makan. Nanti saja di kampus, pikir saya.

Motor saya nyalakan, pakai kontak dan distarter tentunya. Mau ke mana saya? Tentu saja ke kampus, kan sudah saya sebut juga sebelumnya.

Berjalanlah motor saya dengan saya di atasnya. Terus berjalan, sampai saya melewati sebuah taman kanak-kanak yang bisa saya lihat banyak anak-anak di sana, namanya juga taman kanak-kanak. Saya melewatinya. Tapi tiba-tiba saja saya ingin mampir sebentar entah untuk apa. Saya balik arah motor saya dan berhenti di depan taman kanak-kanak tersebut. Saya diam. Mengamati.






“Good morning kids, how do you feel to have been slid out to this world? I wish it was not so bad, but I think no way you feel that way…”



Mereka terlihat bahagia. Mereka siapa? Tentu saja anak-anak yang saya amati. Tapi tidak dengan ibu-ibu yang mengantarkannya. Kenapa? Mana saya tau. Sudahlah, lupakan ibu-ibu yang beberapa mengamati si saya yang mungkin tampak begitu urakan di mata mereka. Biarin. Yang penting kata pacar saya, saya keren. Emang punya pacar? Dulu sih, sekarang enggak.

Kembali ke anak-anak. Mereka masih tampak bahagia seperti yang saya katakan sebelumnya. Terlihat dari senyum dan tawa. Serta senda gurau yang dilontarkan antara satu dan lainnya. Ada yang berkerumun seperti muda-mudi masa kini di suatu gigs yang menampilkan band yang mungkin mereka sukai. Ada yang menyendiri, sibuk dengan dunianya sendiri, mungkin berkomunikasi dengan alien. Ada yang berlarian. Ada yang bergelantungan, tapi bukan di pohon randu karena berbahaya, melainkan di sebuah apa ya itu namanya mainan-mainan yang sering diletakkan di taman kanak-kanak, itulah.

Dalam hati saya bertanya, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pikirkan? Bisa terus tertawa-tawa di dunia yang seringkali mengintimidasi ini. Tidakkah mereka resah? Tidakkah mereka takut? Sepertinya tidak, karena mereka bukan saya yang tengah resah menyelesaikan skripsi, isu durjana mahasiswa masa kini. Yang tengah takut menghadapi revisi itu, anu, dan ini. 



“Good morning kids, how does it feel to have been kicked out to this world? I wish you like the morning sun, it’s one of the most beautiful things…”



Saya masih berpikir. Apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan. Sepertinya hanya hal-hal yang membuat bahagia. Misalnya? Bermain, tidur siang, bercanda, slenge’an, jajan, menggambar, berkhayal, anu, anu, dan anu.

Dalam hati saya mulai merasa iri.

Kenapa saya harus merasa iri? Karena mereka santai. Dan bahagia. Memang saya tidak bahagia? Sorry, saya juga bahagia. Saya lahir di keluarga yang lumaya keren dengan orang tua yang cukup keren. Saya punya teman-teman yang keren. Saya menjalani hobi yang cukup keren. Dan sepertinya orang-orang melihat cara saya menjalani hidup adalah lumayan keren. Iya, katanya saya santai, apa adanya, ngikutin passion, dan apalah yang kelihatannya keren gitu buat mereka. Padahal kan Cuma kelihatannya ya. Dan kelihatannya dari mereka. Belum terbukti validitasnya karena mereka belum mengkroscek langsung ke saya. Huh, dasar manusia!

Saya memang bahagia, setidaknya cukup bahagia. Bisa lahir di dunia yang membahagiakan buah karya Tuhan Yang Maha Kuasa, meskipun seringkali buah karyanya ini mengintimidasi juga.

Tapi…

Tapi…

Bukan berarti saya sebahagia yang kalian lihat biasanya. Kalau digali, di dalam saya yang kata kalian selalu bahagia ini terdapat keresahan-keresahan, ketakutan, kesemruwengan, keinian, keituan, keanuan, dan ke-kata benda-an lainnya.



“You’d come to know as you grow up this world is full of shit!”



Hidup ini nggak melulu lurus dan membahagiakan kayak yang dialami mereka yang saat ini saya lihat. Mereka itu lho, anak-anak itu. Setidaknya mereka belum. Belum apa? Belum tahu kalau nyatanya hidup ini… Hidup ini... Kompleks... Penuh dengan ini dan itu. Makanya mereka bahagia terus.

Nggak kayak saya, nggak kayak kamu, nggak kayak kita yang katanya dewasa. Yang mulai mikir ini, anu, dan itu. Yang mungkin mulai lupa caranya menikmati matahari pagi karena keburu berangkat ke kantor atau masih tidur gegara lembur semalam. Yang mungkin mulai lupa kalau sebenarnya apa saja bisa ditertawakan. Misal, bu dosen yang susah ditemui, lucu, mungkin dia sedang sibuk piknik ke planet venus. Atau, si mantan yang sudah peluk-pelukan sama orang lain, lucu, mungkin orang lainnya teletabis jadi enak buat peluk-pelukan. Atau, apalah, ketawain aja!

Akhirnya saya tertawa. Karena apa? Karena hidup saya lucu, hidup kamu lucu, hidup kita yang katanya dewasa lucu. Kalau dibandingkan dengan mereka, anak-anak, hidup kita lucu, hidup mereka enggak. Karena hidup kita kompleks, lebih banyak yang bisa ditertawakan. Sedangkan hidup mereka, lurus, gitu-gitu aja, semuanya bahagia.



“So I wish you don’t grow up, and I wish you don’t get hurt, and I wish you don’t notice that the world is shit!”



Saya tidak tertawa lagi. Sudah cukup. Sekarang saya merasa kasihan karena posisinya kini dibalik. Saya bisa belajar menikmati hidup dari mereka, anak-anak. Tapi mereka kasihan. Iya dong kasihan. Kasihan karena mereka yang polos, tanpa beban, dan tentunya tanpa bekal, nantinya akan mengalami kompleksnya hidup seperti apa yang saya dan kita alami. Mereka nggak akan lagi terus-terusan tertawa dan cuma melakukan hal-hal yang membahagiakan, kasihan…



“And I wish you don’t be sad, but I’m not so afraid cause you won’t be like me…”



Tapi jangan sedih, namanya juga hidup… Semua mengalami. Saya, kamu, dan kita pernah menjadi seperti mereka, bahagia, tanpa beban, dan pipis di celana. Suatu saat, mereka ganti yang akan menjadi seperti kita, dewasa, banyak masalah, mikir ini, anu, itu, tua, dan sebagainya.

Rasanya sudah cukup mengamati anak-anak ini. Saya sudah tidak merasa iri. Saya sudah mengucap syukur.

Waktu menunjukkan pukul 9. Masih pagi. Tapi saya punya janji di kampus jam sembilan pagi. Berarti saya sudah telat? Ya sudah… Yang penting saya bahagia.

Motor saya nyalakan, pakai kontak dan distarter tentunya. Mau ke mana saya? Tentu saja ke kampus, kan sudah saya sebut juga sebelumnya. Dan paragraf ini hanya meng-copy alinea dua…








Solo, 21 Juni 2015
Sedang mendengarkan "Good Morning, Kids"-nya Ellegarden.
Sering tertekan meskipun tampak bahagia dan sedang belajar untuk bahagia yang benar-benar bahagia.


Saturday, 10 January 2015

Solanin, Kebosanan, dan Keharusan

Fanart by: Chanchanscraw



Hidup itu membosankan? Iya, ketika kamu nggak jadi dirimu sendiri...
Hidup itu kejam? Iya. Kadang dia maksa kamu buat jadi orang lain...
Pekerjaan yang kamu jalani kadang nggak sejalan sama minatmu.
Perkuliahan yang kamu tempuh kadang nggak sesuai sama harapanmu.
Hal-hal di sekitarmu kadang nggak sesuai dengan idealisme mu.
Tapi tetep harus kamu jalani itu semua, karena, ya gitu... Tuntutan... Keharusan... Hidup itu kejam... 


Jalani... Semua akan jadi lebih berarti ketika kamu tetap jadi dirimu sendiri di tengah semua kepalsuan itu, tetap ngikutin passion-mu, dan tetap mencari jawaban, "kenapa sih kamu hidup?"... 




____________________________





Ya, setidaknya itu yang saya ambil dari "Solanin", film besutan Takahiro Miki yang diadaptasi dari sebuah manga slice of life karya Inio Asano. Jujur, saya sempat merasa bosan ketika menyaksikan film ini, dari menit awal film tersebut hingga memasuki bagian tengah cuma menampilkan kebosanan hidup tanpa konflik yang bisa buat kamu bilang "oh, film ini gini toh". Bahkan saya sempat meninggakan film ini di tengah jalan sampai beberapa hari, hingga akhirnya saya lanjutin nonton lagi dan dapat apa yang saya tulis sebelumnya. Sepertinya saya harus mohon maaf kalau sebelumnya saya mengamini perkataan teman saya bahwa "Solanin itu kriuk banget, nggak greget." :)




Sedang nggak ingin nulis panjang-panjang, apalagi ngereview. Cuma quick writing di tengah kesemruwengan dewasa ini.

Wednesday, 10 December 2014

Rock n Roll : Sebuah Cara Pandang

"Metu sek yoh golek udut. Eh, kowe ora ngerokok ya?" (Keluar dulu yuk cari rokok. Eh, kamu nggak ngerokok ya?)

"Ora ndes, wes mandeg ket mbiyen-mbiyen." (Enggak bro, udah berhenti dari dulu.)

"Wah, kowe i padahal rock n roll lho men, tapi ora ngerokok." (Wah, padahal kamu rock n roll, man, tapi nggak ngerokok)

"Haha, rock n roll kui cara pandang ndes, ora sekedar lifestyle." (Haha, rock n roll itu cara pandang bro, bukan sekedar lifestyle.)

"Yoi, dudu mung gaya hidup." (Yoi, bukan cuma gaya hidup.)



-------------



Ketika pertama kali mendengar frasa 'Rock n Roll', apa yang pertama kali muncul di pikiranmu? Rebel? Musik keras? Band? Nggak rapi? Gondrong, jaket kulit, jaket jeans, ripped jeans, boots? Rokok? Beer? Kalau sekedar hal-hal itu, mungkin bisa dibilang saya sudah hampir khatam.




Bukan. Bukan sekedar itu. Kutipan-kutipan di atas adalah petikan obrolan saya bersama dengan sahabat lama saya, rekan band saya di kala remaja, Jono. Belum berubah, hal yang biasa kami bicarakan kala bertemu nggak pernah jauh dari musik, seni, masa lalu, masa depan, dan yang terpenting dan terdengar keren adalah soal idealisme. Ya, mumpung masih muda, idealis adalah suatu kewajiban. Kesamaan hobby, selera dalam berkesenian, dan beberapa cara pandang membuat kami dengan mudah kembali ke masa lalu, mulai dari jaman di mana kami masih berseragam putih abu-abu dan aktif memuja skena 'batu' dan 'logam', hingga perubahan-perubahan yang terjadi pada teman-teman lainnya seperti si ini yang sangat kami sayangkan karirnya: masih aktif nge-band di skena Jejepangan barsama sebuah band visual kei dengan make up dan gaya sissy di tiap penampilannya, atau si itu yang kini fokus mendalami agama tapi bagi kami cenderung kebablasan, atau si itu juga yang sibuk pacaran: oke yang ini dimaklumi.

Jauh, ke sana kemari, sampai pada titik di mana kami berdua mengamini sebuah kalimat dari No Use For A Name dalam Not Your Savior-nya, "Everyone changed, everyone's cool, everyone sucks!" dan berlanjut pada sebuah kesamaan pandangan dengan Ellegarden dalam Perfect Day-nya, "How come no one stays the same? It feels like I'm a primitive." Benar, rasanya seperti kami masih terperangkap pada idealisme kuno yang entah kapan akan runtuh. "Mereka yang mulai dewasa atau kita yang masih gini-gini aja," ungkap Jono sejalan dengan dua kutipan sebelumnya.

Ya, beginilah saya. Beginilah kami. Tapi bukan berarti kami terhenti pada masa itu. Kami bahkan sudah punya tujuan masing-masing, apa yang akan dilakukan setelah lulus dari penjara bertajuk kampus ini. Yang jelas kami akan terus hidup dengan apa yang kami pandang sebagai rock n roll tadi. Oke, tulisan ini jadi meluber ke mana-mana, yeah my bad, kebiasaan saya yang suka nulis tanpa kerangka dan konsep. Kembali ke rock n roll. Saya, dan mungkin Jono, kami yang dulu, sama dengan orang kebanyakan. Ketika pertama kali mendengar kata rock n roll, yang terbersit di kepala kami adalah gaya hidup yang keras dan liar, bebas, memberontak. Pokoknya terlihat keren! Kami di masa itu bahkan dengan bodohnya memproklamirkan bahwa kami cuma akan mendengarkan musik rock, terutama rock lawas. Rokok, ripped jeans, jaket kulit, beer, dan sesaji rock sebangsanya bukanlah suatu hal yang asing. Bodoh? Iya. Tanpa menunjukkan kemunafikan, kami pernah menjadi orang-orang dengan pandangan sesempit itu. Labil? Ya memang lagi umurnya...

Yah, masa lalu adalah salah satu hal yang paling mudah untuk ditertawakan...

Waktu berjalan, kami yang sekarang adalah kami 4 tahun dari saat itu. Semakin banyaknya insight, semakin luasnya pandangan, berubah pula cara menjalani hidup. Kembali ke kutipan percakapan awal, saya sebut sebelumnya bahwa rock n roll itu adalah cara pandang. Ya, kalau dibilang rock itu gaya hidup, saya menganggapnya lebih! Persis seperti kata Dewey Finn, seorang tokoh fiksi dalam film School of Rock buah peran dari Jack Black, yang kira-kira berpesan, "Rock bukan tentang menjadi bajingan, blablablah," sayang saya lupa bagaimana tepatnya dan saya sedang tak banyak waktu untuk kembali mencarinya. Lagipula film itu sudah terlanjur hilang dari hard disk komputer saya. Benar, seandainya rock n roll cuma dikaitkan dengan hal-hal yang saya sebutkan di awal tulisan ini, tentu saja semua bajingan di luar sana bisa dibilang adalah seorang rocker. Tapi tidak, kalaupun iya, hanya bungkusnya saja yang bertajuk rock.

Sejalan dengan perkataan Dewey, saya pun menganggap bahwa rock n roll adalah sebuah cara pandang. Memang 'rebel' adalah dasar dari cara pandang ini, tapi rebel nggak melulu soal pemberontakan secara negatif dan radikal seperti kebanyakan pemikiran. Mungkin benar kalau musik keras, beer, rambut gondrong, gaya serampangan, dan lain sebagainya adalah suatu bentuk dari pemberontakan, tapi bukan itu esensinya, hal-hal itu tadi hanya sebagian kecil dari pemberontakan yang diusung oleh semangat rock n roll itu sendiri. Sama persis seperti punk yang diidentikkan dengan street, yang padahal street hanyalah sebuah irisan kecil dari keseluruhan punk beserta idealismenya. Rebel yang saya maksud di sini adalah rebel yang sifatnya memberontak dari sebuah tatanan yang itu-itu saja, yang memenjarakan kebebasan untuk menjadi 'lebih maju' karena sifatnya yang statis, persis seperti rebel yang dimaksud oleh Paul Arden dalam bukunya It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be.

Ketika Jono bilang, "Wah, padahal kamu rock n roll, man, tapi nggak ngerokok," dengan cepat saya jawab bahwa rock adalah soal cara pandang, bukan sekedar gaya-gayaan. Oke, asumsikan cara berpenampilan saya saat itu (di mana saya sangat suka memakai ripped jeans, boots, dan jaket jeans belel, ditambah dengan rambut yang saya biarkan memanjang) dengan gaya hidup rock n roll, benar, saya memang mengadopsi style rock n roll dalam berpenampilan, tapi rock bagi saya nggak berhenti begitu saja di persoalan style dan musik yang saya dengarkan. Rock bagi saya lebih kepada bagaimana kamu menyikapi hidup. Saya ambil contoh, saya lebih menganggap orang-orang di skena indie sebagai rockers (meskipun mereka nggak melulu terlihat sangar atau mengusung musik rock di band besutannya) daripada para personil The Rock Indonesia. Kurang jelas? Intinya cara hidup mereka lebih mengusung semangat rebel dari rock n roll itu sendiri.

Lalu, kaitannya dengan teman-teman yang saya ceritakan sebelumnya? Yah, mungkin di mata kami mereka yang sekarang nggak se-rock n roll dulu, nggak se-rock n roll Jono yang masih bermusik keras sembari menghisap rokok atau nggak se-rock n roll saya yang masih gini-gini aja menyibukkan diri dengan apalah 'do it yourself' stuff-nya. Tapi kembali lagi ke cara pandang... Mungkin jalan yang mereka tempuh belakangan sudah mengandung esensi 'rebel' bagi mereka sendiri yang menjadikannya tetap nge-rock di jalannya masing-masing. Mungkin saja cara si ini membesarkan band visual kei-nya dengan cara independen yang ngerock banget meskipun penampilannya 'yucks', atau si itu yang sibuk mendalami agama dengan slogannya "santri rock n roll", atau si itu lagi yang juga ngegombalin pacarnya dengan lagu-lagu rock klasik... Nggak ada yang tau selain mereka sendiri yang menjalani, yang jelas rock adalah soal cara pandang... At least for me...

Hah, sudahlah... Kebiasaan saya... Nggantung...





Chandra - Solo, 10 Desember 2014. Sedang sangat suka pada The Velvet Underground.