Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Wednesday, 18 October 2017

Sebelum Tidur Zine #Issue 1

Sebelum Tidur Zine Issue1

Seperti yang sudah kubilang sebelumnya bahwa aku berencana kembali menggratiskan zine-zine ku, maka terjadilah. "Sebelum Tidur" adalah zine yang kubikin sekitar 1 atau 2 tahun lalu aku kurang begitu ingat. Sebenarnya bukan cuma aku yang bikin sih, dalam zine ini aku cuma berperan sebagai editor dan distributor. Untuk isinya, kolektif. Sekilas tentang "Sebelum Tidur", zine ini berisi tulisan-tulisan ringan baik cerpen, prosa, maupun essay serta ikustrasi-ilustrasi lucu yang diharapkan bisa menjadi teman sebelum kamu-kamu tidur, sesuai namanya, emesh yha... Untuk issue 1-nya, kami berbicara tentang sebuah tema besar, "hujan". Alasannya? Karena aku suka saja... Issue kedua dari zine ini sedang dalam proses pengerjaan, akan segera kusebar seperti kuman ketika aku selesai mengerjakan semuanya. Ya, itu saja, namanya juga sekilas kan ya...

Sangat terbuka bagi kamu yang mau trade dengan zine lain, biar koleksi aku nambah juga heheu. Untuk kasus ini kamu bisa hubungi aku via email atau instagram yang alamatnya tertera di tab section blog ini. Kalau tidak ya kamu fotokopi sendiri saja aku pinjamkan master-nya, karena jujur aku tinggal menyimpan dua kopian dalam foto di atas ini saja, sudah habis dibagi-bagi tiap aku pergi. Atau kalau kamu tidak menghendaki fotokopi karena pemborosan penggunaan kertas masuk dalam area concern global warming, kamu bisa akses dan download versi digitalnya melalui link download berikut ini:


Sudah, sekiranya sekian saja postingan kali ini, salam...

Wednesday, 8 February 2017

F A C E


"Tukang telat!! Kamu tau nggak sih aku udah nunggu dari jam berapa?!"


"Sorry... Pesawatnya yang telat, bukan aku."


"Sorry sorry apaan?! Gimana bisa pesawat yang telat?! Cari-cari alesan deh!"


"Serius. Aku bahkan udah ada di bandara dua jam sebelum jad-…”


"Shut the fuck up!”


“Eh?”


“Hahaha, udah! Udah! Iya, iya, percaya! Apa deh terserah kamu!", belum selesai menjelaskan alasan keterlambatanku, gadis itu sudah memotong dengan tawa keras sebagaimana yang kukenal dulu seraya tumpah ke arahku. Ya, gadis itu adalah adikku. Adik yang harus terpisah jauh dariku karena orang tua kami berpisah lima tahun lalu.


Ini adalah pertemuan pertama kami sejak saat itu. "Langsung ke venue?", tanyaku.


"Nggak. Open gate masih nanti jam tujuh. Mau cari apa di sana? Check sound juga udah tadi," jawabnya sambil lalu di depanku. Aku sengaja pergi ke negara ini untuk menghadiri undangannya. Hari ini, hari pertama band-nya menggelar konser pembuka tour perilisan album barunya. Hari ini adalah miliknya. Ya, adikku adalah seorang front-girl dari salah satu band rock yang cukup berpengaruh di skenanya, jadi tak perlu heran kalau mereka memiliki live tour mereka sendiri.


"Hei, kau tahu? Dalam hal ini aku merasa benar-benar tertinggal."


"Maksudmu?"


"Kau ingat, kau mulai bermain gitar karena siapa? Dan sekarang, kau jauh lebih bersinar dariku! You've made it, and it makes me look like a loser."


"Jangan baper ah! You've been my favorite role model, and it will last forever!!", katanya sembari berbalik dan menepuk bahuku.


"Umurmu? 20 kan?"


"Kalau kamu ingat 5 tahun yang lalu umurku 15 dan nilai matematikamu nggak jelek-jelek banget, harusnya hitunganmu benar. Kenapa?"


"Nggak... Kau sudah dewasa.”


“Lalu?”


“Hmm… Wajahmu, kau kelihatan beda dari sebelumnya."


"Hey, puberty done right! Cantik kan?", jawabnya diikuti tawa kami berdua. Harus kuakui wajah adikku memang tampak jauh berbeda. Ia yang sekarang sudah tampak cukup dewasa. Cantik. Tapi bukan hanya perubahan fisik yang kulihat, lebih dari itu. Ya. Senyum yang menghiasi wajahnya kali ini adalah senyum yang benar-benar penuh percaya diri. Senyum yang mengisyaratkan ketegaran dan kekuatan. Beda dengan senyumnya dulu, bulan-bulan terakhir kami bersama sebelum akhirnya kami terpisah beda benua.


Pada dasarnya, adikku adalah gadis periang. Dia bisa menjadi anak yang sangat nekat, tapi juga cengeng dalam waktu yang bersamaan. Kontradiktif? Memang. Aku ingat, ketika kecil dulu kami sering bermain petak umpet di halaman belakang. Ketika tiba gilirannya jaga, ia akan mencariku ke manapun tempat yang terpikir olehnya. Kolong mobil, rumah tetangga, kandang ayam, semak-semak, banyak. Tak jarang terlalu jauh dan justru aku yang harus mencarinya, sampai kutemukan ia menangis karena tak kunjung menemukanku atau terjatuh saat berlarian mencariku. Tapi pada akhirnya, selalu senyum yang kudapati pada wajahnya.


Senyum itu yang kusuka.


Beranjak remaja, aku menyadari ada yang berubah pada senyum di wajahnya. Itu adalah saat di mana ketidak harmonisan mulai muncul di antara orang tua kami. Kami yang sudah mampu berpikir logis tentu saja tak bisa dibohongi atas semua yang terjadi. Tapi apa yang bisa kami perbuat? Tak ada, selain menyalurkan kegelisahan pada hal lain, salah satunya musik.


"Dek, kau percaya? Semuanya bakal baik-baik aja," kala itu, sering kali aku berusaha menenangkannya ketika ia mulai tampak bersedih. Dia hanya mengangguk, berusaha menahan tangis, dan mencoba tersenyum. Memang pada akhirnya masih saja senyum yang ia tinggalkan di wajahnya, tak beda dari waktu-waktu sebelumnya, meskipun aku tahu, ada kesedihan di balik senyum itu. Ada kelemahan. Ada ketakutan, benci, marah, banyak. Sampai akhirnya saat itu tiba...





----------





"Encore! Encore! We want more! We want more!", kudengar ribuan penonton berteriak kompak. Lagu terakhir dalam set list telah ia bawakan, ini artinya akhir dari pertunjukan. Aku yang berada di baris paling depan dapat dengan jelas menyaksikan bagaimana senyum tergambar di wajah adikku satu-satunya. Senyum yang benar-benar puas, menghiasi wajahnya dengan penuh kebanggaan.


Source: google - This image is just an illustration, It's Specialthanks' front girl Misaki.


"Okay, we'll give you one last song as an encore. You want it, right?", tanyanya yang disambut penonton dengan teriakkan.


"But before that, I want to ask you, can I do a collaboration with one of my favorite hero?"


"Kay, I think you let me do the last song with him. You know? He's such a great guitarist even though he has never made his own name, haha.” Para penonton menyambut tawanya.


“He’s cool, but I’m hot af! You know even the cold ice will melt down in a hot temperature, right?!” Lagi-lagi penonton menyambutnya dengan tawa. Pun denganku, kupikir ia tak pernah berubah, kebiasaannya melontarkan candaan yang mengejek itu.


“But you know, he’s my hero. He's the one who taught me how to play a guitar. And he's my brother. Come on, kak! Let's kick some ass!!!", dia menunjukku. Serentak, semua mata tertuju kepadaku. 


“What the…” dia masih saja spontan dan penuh kejutan. Diiringi sorak sorai penonton, stage crew membantuku untuk naik ke atas panggung.


Kini aku berada di atas panggung. Mungkin yang termegah yang pernah kuinjak selama aku bermusik. "Ini gila! Aku nggak ada persiapan!", protesku padanya.


"Santai. I know you can do it because you're my brother! We're still connected, right?", jawabnya santai sembari menyerahkan Gibson SG yang segera di-set efek dan sound-nya. “Aku bahkan masih ingat seri gitar favoritmu,” katanya sambil lalu menuju ke depan stand mikrofon miliknya. Saat itulah aku benar-benar yakin bahwa perubahan bukan hanya terjadi pada fisiknya, pada wajahnya, jauh lebih kompleks, ia berubah kembali menjadi adikku yang dulu, yang nekat dan penuh percaya diri as if she never hurt and down before.


"As the special guest, what if we give him a right to choose what to play?", tanya adikku pada penonton yang segera disambut dengan sorak sorai.


"So, what do you want to play, bro?"


"What if we do a cover of BECK's 'FACE'?", jawabku di depan mikrofon sembari memetik senar gitarku, mengecek sudahkah sesuai dengan yang kuinginkan.


"Beck? You mean 'Mongolian Chop Squad’?"


"Yeah, what else?"


"Okay, this is the last song from us, FACE!"





-----



Large lips in the motion

Tryin to keep blaming on

As I say reason I’m late on

Find you turning, laughing and smiling



Running over sometimes

Feels like you leave me behind

Now you don’t have to mind it

Find you shining every day by day



Sing it up, my sister!

In this world which everyone is lonely

Everything will be fine someday



Remember playin in the backyard

Hiding myself in garage

Since you never could catch me

Found you crying, weeping in darkness



Sing it up, my sister!

In this world which everyone is lonely

Everything will be fine someday



Some other day







Ditulis setahun yang lalu untuk program 365kata dengan tema "wajah".

Thursday, 27 November 2014

Katanya Cintamu Selamanya?

This artwork is inspired by Ellegarden's "A Thousand Smiles". It tells a story about a boy who met a girl with a thousand smiles. They loved each other. It occurred a dozen years later till the tragedy came up to their lifes. That boy killed his thousand smiles-girl by shooting her right in her head. Ugh!


Izinkan saya bercerita...

Tersebutlah Joni, seorang pemuda pangrok yang bertuhankan Sid Vicious, hidupnya penuh dengan kesemruwengan duniawi, hingga ia bertemu dengan Susi, gadis ibu kota penggemar Black Flag, putri pengusaha kaya raya.
Terkisahlah mereka berdua saling cinta, menghasilkan simbiosis mutualisme yang saling isi satu sama lain. Joni butuh Susi dan Susi butuh Joni. Tapi tidak dengan Haji Kohar, ayah Susi yang seorang pengusaha oseng-oseng rempelo ati. Ia tidak butuh si Joni. Baginya Joni adalah penyakit buat Susi. Sejak bertemu Joni, badan Susi jadi penuh dengan tattoo ngeri. Apa kata tetangga, anak seorang pengusaha kaya pengekspor oseng-oseng hingga ke negeri Paman Sam berhubungan dengan seorang pangrok jalanan.
Susi dikekang dan Joni diancam. Puluhan preman mengincar Joni yang kian lemah tanpa Susi. Setahun, dua tahun, lama. Susi hampir gila saat suatu malam Joni berhasil menyelinap masuk ke kamarnya. Tumpahlah segala bentuk rindu berbungkus sendu.
Susi tak kuasa, Joni menderita. Kesemruwengan menguasai jiwanya, mendikte lidahnya bertanya, "Sayang, katanya cintamu selamanya? Bagaimana jika kubuat jadi nyata?".
Pelan Susi mengangguk, tubuhnya gemetar saat Joni menodongkan Desert Eagle tepat di kepalanya. Tapi apadaya, cinta lebih besar dari rasa takutnya.
"DOR!!"
Satu peluru menembus kepalanya yang dipenuhi dengan bayang-bayang Joni.
"Sebentar, akan ku susul sayang," bisik Joni lirih sembari menodongkan pistol ke kepalanya sendiri. Belum sempat pelatuk ditarik, polisi sudah membekuk Joni dari balik kalutnya hati.
Huh!
Dasar polisi sial! Tak tau bagaimana cara mengubah sebuah kisah tragis jadi romantis!

Monday, 6 January 2014

A Thousand Smiles

Bolehkah saya bercerita tentang suatu hal? Cerita tentang seorang anak lelaki yang bertemu seorang gadis dengan seribu senyuman... Cerita tentang seorang anak lelaki yang pada akhirnya mencintai senyuman-senyuman dari sang gadis. Lelaki itu menghafal dan menamai setiap senyum milik sang gadis. Satu persatu, hingga seribu. Lelaki itu memenuhi ruang kamarnya dengan foto sang gadis. Saling berjajar. Bertumpukan. Hingga ribuan. Baginya, tak ada hal lain yang ditinggalkan sang gadis selain seribu senyuman...

Bolehkah saya melanjutkan ceritanya?

Tenang saja, ini bukan cerita yang menyedihkan...

Baiklah...

Suatu ketika, takdir berkata bahwa anak lelaki itu harus berpisah dengan gadisnya. Siapa yang bisa melawan takdir? Tuhan. Ya, sayangnya lelaki itu bukanlah Tuhan. Ia bahkan tak bisa memberikan pelukan terakhir sebelum perpisahan kepada sang gadis. Gadis dengan seribu senyuman. Barang sedetikpun, tak bisa. Dia hanya berbisik...

Kalian tahu apa yang ia bisikkan?

Baiklah, saya akan memberi tahukannya.

Ini isi bisikannya...

"There's nothing I will forget, nothing I won't forgive. I never thought I'd come to this, can't you see?"

Belum selesai begitu saja...

"So I wish you still grow up... You'd come to know as you grow up that this world is full of shit but still a beautiful one for us. And I wish you don't get hurt...  And I wish you don't be sad, but I'm not so affraid cause you won't be something shit like I used to be..."

Lelaki itu mulai tersenyum dalam bisiknya...

"Nothing I can regret, nothing I won't miss, but I can hide it for now cause you gave me a thousand ways to smile..."

"So I'm alright..."



Benar kan, ini bukan cerita sedih... Bukankah indah, sang gadis dengan seribu senyuman yang memberi seribu jalan bagi lelaki itu untuk tersenyum, dan sang lelaki yang menjadi pijakan awal bagi sang gadis untuk menggapai lebih banyak senyuman. Jauh lebih banyak daripada hanya seribu senyuman. :)

Thursday, 19 September 2013

Aku Harus Apa? (part 2)



Kau mungkin mendengar perkataanku, tapi belum tentu kau memahami maksudku. Kau mungkin bisa melihat senyumku, tapi kau tak bisa merasakan sakitku. Kau mungkin bisa membaca bibirku, tapi kau belum tentu bisa membaca pikiranku. Untuk mencintai sesuatu yang amat penting bagiku, ada kalanya aku membenturkan diri pada rasa sakit dan frustasi.

Tak bisa kupungkiri, aku hanyalah manusia biasa. Aku tak lebih dari seorang pemuda yang jauh dari kata sempurna. Aku tak sehebat yang kau bayangkan. Aku tak sekuat Kamen Rider Kiva, Ultraman Gaia, atau Bima Satria Garuda. Aku hanya seorang lelaki muda lengkap dengan batas-batasnya.

Jujur, aku lelah…

Aku lelah dengan kondisi kita. Aku lelah mendera luka. Aku lelah berpikir apa lagi yang musti kulakukan untuk bertahan. Aku lelah…

Tapi, jauh di lubuk hatiku, aku ingin terus bertahan.

Aku…

Takut kehilangan dirimu…

Melankolis? Ya, itulah aku sekarang…

Kontradiktif? Ya memang. Di satu sisi aku terlalu lelah, namun di sisi lain aku ingin terus bertahan. Bertahan menjalani semua bersamamu, meski sering kali aku merasa ini terlalu berat bagiku.

Aku takut…

Takut akan batas yang tak pernah kureka sebelumya. Takut akan batas yang disertakan Tuhan pada setiap apa yang diciptakan-Nya. Takut pada kekuatanku sendiri, sampai manakah ia, kekuatan itu, mampu bertahan untuk tetap tegar tak melewati batas lemahnya.

Aku takut…

Takut akan kenyamanan berada di dekatmu. Adakah perempuan lain yang rela jauh mengikutiku? Adakah perempuan lain yang mau larut bersama dalam ruang imajiku? Adakah perempuan yang mengerti cara membuatku nyaman sehebat dirimu?

Aku takut…

Apa aku mampu mempertahankan semua ini denganmu?

Aku bukan manusia super, aku butuh bantuan dan dukungan darimu… Mengertilah… Kalau bisa kau lihat senyumku, pahami juga sakitku! Kalau bisa kau baca bibirku, baca juga jalan pikiranku!

Aku takut…

Takut akan pertentangan dalam diriku…

Lalu, aku harus apa?







Wednesday, 18 September 2013

Aku Harus Apa? (part 1)



Masihkah kamu mencintaiku meskipun sering kali aku menyakitimu? Meskipun berulang kali aku meminta maaf untuk kesalahan-kesalahanku padamu? Meskipun tiap malam aku harus menangis sesenggukan di pundakmu? Meskipun tiap hari kamu harus habiskan waktumu untuk menenangkanku? Masihkah kamu mencintaiku meskipun aku tak bisa lagi seperti dulu?

Aku takut…

Aku takut kamu pergi meninggalkanku.

Kamu adalah lelaki kuat yang selalu ada untukku, menguatkanku di tengah keadaan lemahku. Menjagaku meskipun seringkali kamu lakukan itu dengan sikap posesifmu. Aku suka itu, dan karena itu pula lah aku takut kehilanganmu.

Adakah lelaki lain yang mampu mencintaiku sehebat kamu?

Ada kalanya kamu yang tampak lelah berkata, “Semua ada batasnya! Termasuk aku. Aku manusia biasa. Aku nggak sehebat yang kamu bayangkan! Aku nggak suka bertahan dalam kondisi seperti ini!”. Sungguh, aku berpikir kalimat lemah itu sangat tak pantas diucapkan olehmu. Kamu lelaki hebat, bahkan terlampau hebat dalam hal mencintaiku. Kamu, iya kamu! Bahkan jauh lebih hebat dari sosok apapun yang mereka sebut dengan super hero. Kamu super duper hero-ku, meskipun aku tak melihatmu memiliki sayap, berkostum baja, dan memiliki kekuatan istimewa seperti mereka yang dengan gagahnya muncul di layar kaca. Tapi kamu benar-benar hebat. Kamu benar-benar kuat dalam hal mencintaiku. Maka dari itu kalimat lemah barusan sungguh tak pantas keluar dari mulutmu.

Tapi…

Di sisi lain, jauh di dalam lubuk hatiku sadar benar bahwa aku mengiyakan perkataanmu. Kamu hanyalah manusia biasa, lengkap dengan batasan-batasan yang tentu saja sulit bagimu untuk tidak melampauinya. Lengkap dengan kelemahan-kelemahan yang sudah semestinya ada pada setiap manusia. Kontradiktif? Ya, memang. Di satu sisi aku memandangmu sebagai lelaki tanpa celah, namun di sisi lain aku melihatmu sebagai lelaki yang sudah tampak lemah mencoba bertahan untuk tidak keluar batas… Ironis…

Aku takut…

Aku takut kamu meninggalkanku…

Apa bisa kamu terus bertahan dalam keadaan kita yang seperti ini? Apa sanggup kamu selalu menguatkanku sementara aku diam hampir menyerah, hanya bersandar lemah pada topangan yang kamu berikan?

Aku takut…

Aku takut kamu menemukan seseorang lain yang juga mampu menguatkanmu. Seseorang lain yang tentunya tidak merepotkanmu seperti aku.

Aku takut…

Takut akan kalimat yang kau ucapkan. Kamu memang masih tampak kuat, bahkan setelah kamu mengucapkannya. Kamu belum berhenti melindungiku, kamu belum berhenti peduli padaku, kasih sayang dan perhatianmu belum berhenti tercurah padaku, dan kamu tampak tak kenal lelah dalam memperjuangkan hubungan kita…

Tapi, aku takut…

Karena aku sadar, aku benar-benar sadar… Sekuat apapun kamu di mataku, kamu tetaplah manusia biasa yang tentu saja ada batasnya…

Lalu, aku harus apa?






Thursday, 12 September 2013

Mencintaimu itu....





"To love what is precious to me I suffer inner struggles and frustation." 
-Four Get Me A Nots-










Mencintaimu itu....



Bersedia membantumu dalam keadaan dan dengan cara apapun itu...



Rela berkorban dan menderita demi kamu...



Bersabar menanggung kesalahan yang bahkan tidak benar-benar aku lakukan...
Meskipun tidak sesuai dengan harapan, mencoba bertahan untuk tetap menguatkanmu...



Tidak ingin tampak lemah di depanmu dalam memperjuangkan segalanya...





#NowPlaying Four Get Me A Nots - Determination

Sunday, 18 August 2013

On Genealogy of Masochism

Semuanya terjadi tanpa terkendali. Kedua tangannya memelukku. Erat... Semakin erat. Bahkan kini aku pun sulit untuk mengatur laju nafasku sendiri. Bibirnya yang pucat mulai mendekati bibirku. Dia menciumku. Dalam... Semakin dalam. Dapat kurasakan lidahnya yang hangat melumat lidahku. Taringnya yang tajam menggerat bibirku hingga tak sedikit darah yang mengalir dari koyakan yang tercipta olehnya.

Semakin lama dapat kurasakan lidahnya bergerak semakin dalam menyusuri rongga mulutku, tenggorokan, kerongkongan, dan setelahnya dapat kurasakan lidahnya menari di rongga dadaku. Andai saja mataku mengaplikasi teknologi X-Ray, mungkin saja dapat kulihat bagaimana lidahnya yang kian panjang meliuk bagai mamba menjalari rongga kerongkonganku. Aku masih terdiam, dengan mata terbelalak tak bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi, sementara jemari tangannya yang lentik dihiasi kuku dengan ujung lancip mulai mencakari punggungku. Tengkukku. Leherku. Menghasilkan sayatan-sayatan dalam yang sangat mudah kurasakan nyeri dan perihnya.

Tubuhku mulai basah. Basah dengan darah bercampur keringat yang dapat kuingat jelas bagaimana anyirnya. Tanpa kusadari sayatan-sayatan kukunya berpindah ke bagian depan tubuhku. Seketika ia cekal dadaku, membelahnya, merobek tepat di tengah semudah tangan anak-anak yang merobek selembar tisu menjadi dua. Ya, selemah itulah jaringan epidermis dan lapisan ototku yang tersusun menjadi daging baginya. Lemah dan rapuh. Tapi...

Aku belum mati.

Kini bisa kusaksikan lidahnya yang masuk melalui rongga mulutku menari keluar melewati celah lebar yang diciptakannya di dadaku. Ini gila. Bagaimana bisa mulut mungilnya menampung lidah sepanjang itu. Bagaimana cara dia menyimpannya? Dalam bentuk gulungan kah? Dilipatkah? Entahlah, ini semua diluar akal sehatku.

Ditariknya kembali lidahnya keluar melalui jalan yang sama, rongga kerongkongan, tenggorokan, dan mulutku. Entah karena dia mulai lelah atau bosan dengan permainan yang ia ciptakan. Kini bisa kusaksikan wajah cantiknya dengan bibir mungil tanpa lidah yang menjulur panjang tidak wajar. Permainannya berubah. Perhatiannya teralihkan. Kini kedua tangannya masuk ke dalam tubuhku. Tepat, melalui celah lebar yang sebelumnya ia ciptakan. Menembus dan mematahkan tulang dada dan iga yang menjadi pertahanan organ dalamku.

Persis seperti seorang anak mengobok-obok gelas akuariumnya, dilakukannya hal yang sama hanya berbeda media. Ditariknya keluar sebelah tangannya. Tapi tunggu, bukan sekedar tangan kosong. Itu jantungku. Ia keluarkan jantungku untuk kemudian menjilati dan... Memakannya! Sial! Dia memakan jantungku!!! Cipratan darah deras memancar dari organ pemompa dalam tubuhku itu ketika gigi-gigi tajam mengoyaknya... Tapi tunggu...

Aku belum mati...

Dapat kusaksikan ia menyeringai, menikmati kecapan demi kecapan mulutnya melumat jantungku satu-satunya. Lagi, tangan sebelahnya keluar dengan menggenggam ginjalku. Terus bergantian kedua tangannya keluar masuk tubuhku memindahkan semua isinya ke dalam mulut mungilnya. Semua. Jantung, ginjal, hati, menghisap usus-ususku, meminum darahku, bahkan memakan paru-paruku. Tapi tunggu...

Aku tidak mati...

Bisa kusaksikan ia tersenyum manis menikmati hidangan yang disiapkan Tuhan untuknya ; aku. Kini ditariknya keluar usus dua belas jari dari perutku. Baru kusadar ternyata sepanjang itu. Diikatkannya pada kedua tanganku, entah dengan maksud apa, mungkin menahanku supaya tidak meronta meskipun sedari tadi aku hanya diam takjub menyaksikan bahkan menikmati perbuatannya kepadaku. Aku tidak melawan. Aku tidak marah. Aku tidak kesal. Dan... Aku menikmatinya. Aku tidak mati...

Kini tanganku terikat. Dapat kalian bayangkan? Terikat erat dengan organ dalam kalian sendiri. Tapi kalian tidak mati. Dia tersenyum. Tak dapat kubayangkan kengerian apalagi yang akan dilakukannya pada tubuhku. Ya, tubuhku. Tapi tunggu... Tubuh bagian atasku kini tak lebih dari sekedar ruang kosong dengan bercak darah di sana-sini. Lalu apa lagi yang akan ia nikmati? Aku lupa kalau aku masih punya organ di bawah perutku hingga ia mengingatkannya dengan tatapan berbinar ke arah itu.
Aku tak dapat memikirkan apapun selain menyadari bahwa perhatiannya tertuju ke arah itu. 

Lalu...






Semuanya putih... Bahkan setelah kubuka mata dan kucoba mengedip-kedipkannya beberapa kali mengatur banyaknya cahaya yang musti masuk untuk kembali menormalkan pandanganku. Tapi sama... Semua putih... Apa aku mati? Apa aku bermimpi? Entahlah... Yang jelas saat ini tubuhku kembali utuh sama seperti sedia kala, sebelum gadis itu meluapkan kesenangannya padaku...






Solo, 18 Agustus 2013