Showing posts with label #KVLTquoteoftheday. Show all posts
Showing posts with label #KVLTquoteoftheday. Show all posts

Saturday, 26 December 2020

Kalender 2021 Gratis

2020 menjadi tahun yang benar-benar bizzare dari tahun-tahun sebelumnya, tentunya karena pandemi Covid19 mewabah. Bagi semua orang yang terdampak, Covid memang brengsek -- meskipun tidak lebih brengsek dari bajingan-bajingan yang bersenang-senang di atasnya, termasuk orang-orang yang tega korupsi dana sosial. Saya heran, diberi makan apa orang-orang ini, dibesarkan dengan cara bagaimana, dan diisi apa otak mereka kok bisa-bisanya tumbuh jadi manusia hina... Tapi sudahlah, saya tidak sedang berniat untuk nge-rant di sini, melainkan sebaliknya; bersyukur karena saya masih hidup, bersyukur karena kita semua masih sehat.


2020 memang benar-benar bizzare, di samping hal-hal kelam yang rasanya ingin dibuang saja dari ingatan, tidak sedikit pula hal-hal baik yang bisa diambil pelajaran. Saya bersyukur dengan adanya lockdown, saya jadi bisa lebih banyak berkumpul dengan keluarga karena kami semua WFH. Saya jadi punya lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi hal baru, seperti bermain bass, menulis lagu, menemukan pasar baru dalam menggambar, dan sebagainya. Banyak pencapaian-pencapaian tak terduga yang justru datang di tahun yang penuh dengan segala keanehannya ini, dan saya yakin kalian pun menemukannya. Untuk itu, saya ingin lebih bersyukur atas apa yang saya alami selama setahun belakangan.


Kebahagiaan akan lebih nikmat jika dibagikan dan dirasakan bersama. Tadinya saya bingung, bagaimana cara membagikan kabar baik pada kalian di saat kita semua berjauhan, sampai suatu ketika saya terpikir untuk membagikannya lewat karya yang mungkin akan sedikit berguna bagi kalian mengingat hari ini tanggal berapa dan besok mau apa. Dengan ini saya ingin menyampaikan kalau 2020 saya baik-baik saja dengan segala masalah yang ada, dan saya berharap serta yakin kalian juga... Semoga tahun depan akan jadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya...


DOWNLOAD KALENDER 2021




Berikut adalah preview Kalender 2021 yang bisa kalian download gratis dan cetak mandiri dengan meng-klick link "Download Kalender 2021" di atas.

Sunday, 7 January 2018

Kapan Kawin?



Alkisah, ada seorang ukhti yang bercerita tentang pengalaman rekan lelakinya yang bernama Oki. Dikisahkan si Oki ini adalah seorang lelaki yang sering membantu dalam pelaksanaan acara pernikahan teman-temannya. Suatu saat, bertemulah ia dengan seorang mahasiswi semester akhir bernama Nisa. Si Oki pun bertanya, "Mbak, sudah siap kawin?" yang kemudian dijawab oleh Nisa, "Belum, saya ingin membahagiakan orang tua saya dengan menyelesaikan skripsi dan lanjut kuliah lebih tinggi."

Singkat cerita, obrolan keduanya tentang pernikahan berlanjut, di mana pemikiran cupet si Oki beranggapan bahwa menunda nikah untuk kuliah bukannya akan membahagiakan orang tua si Nisa, justru bakal menempatkan mereka pada keresahan, bahkan kekecewaan -- jika sampai akhirnya Nisa jadi perawan tua karena tak ada lagi laki-laki muda yang mau melamar perempuan matang dan terlalu mapan dari segi pendidikan. Minder katanya...

Mendengar cerita ini, tetiba tanganku gatel ingin 'ngeplaki' orang bernama Oki ini. Alasannya; pertama, Oki ini siapa? Teman dekat bukan, apalagi keluarga, kok berani-beraninya nyampurin urusan orang lain tentang pernikahan yang harusnya personal dan sangat sakral, bedebah. Dia bahkan tak mengenal si Nisa ataupun tahu bagaimana latar belakangnya. Sok tau nian ia sebagai manusia?

Kedua, siapa pula si Oki ini kok bisa-bisanya menggeneralisir bahwa semua orang tua bakal bahagia kalau anaknya nikah muda? Survey dari mana? Riset model apa? Toh jaman sekarang nggak jarang orang tua yang ingin anaknya sekolah tinggi, encourage anaknya buat sekolah ke luar negeri, biar apa? Biar pintar dan ndak ndak mudah terpengaruh basa-basi busuk laki-laki insecure macam si Oki ini. 

Ketiga, kalau alasannya segerakan menikah untuk menghindari zina, lha po rumangsamu semua orang nikah cuma karena pikiran bakal ewe'an yang berkecamuk sampai tak tertahankan, yang satu-satunya jalan untuk menghindarinya agar tak dosa adalah dengan segera menikah? Kuwi lak pikiranmu sing cupet lan dibuntel cawet!! Please, Oki, ndak semua orang yang menunda nikah semesum itu. Menikah bukan perihal bisa ena-ena tanpa label zina yang berujung dosa -- lebih kepada bagaimana menyatukan dua keluarga dari dua manusia yang pada akhirnya mengikat janji untuk saling setia. Aku yakin sudah banyak pemuda jaman sekarang paham akan hal ini, nggak melulu secupet pemikiranmu.

Keempat, serelijius apa sih si Oki ini sampai bawa-bawa agama buat nyampurin urusan yang bukan haknya? Justru orang-orang macam Oki inilah yang sesungguhnya meragukan kebesaran dan kehendak Tuhan akan konsep "JODOH". Lha rumangsamu semakin tua umur perempuan, semakin tinggi pendidikannya, semakin berilmu dia, terus Tuhan jadi ndak mampu atau ndak mau ngasih dia jodoh? Rumangsamu Tuhan ki mak comblang ecek-ecek? Ojok takabur Ki, Oki!!! Lha wong nenek-nenek yang berumur lebih dari dua per tiga abad saja diberikan oleh Tuhan jodoh pemuda umur belasan. Kowe ki terlalu sombong dengan meragukan kebesaran Tuhan, ki!

Terakhir, kalau si Oki bilang mana ada laki-laki muda yang mau sama perempuan tua yang mapan pendidikannya, bakal lebih banyak mindernya... Hellaaaaaww,, perempuan mapan dan cerdas juga ndak bakal mau sama laki-laki cemen dan minim kualitet model njenengan!

Haduh... Aku jadi ngerant terus bingung mengakhirinya. Lagipula, siapa pula aku? Kenal Oki aja endak kok ngomen dan nanya-nanya... Lagipula cerita yang dikisahkan sang ukhti mungkin hanyalah fiktif belaka, maka tulisanku juga tak spesifik menunjuk Oki yang mana. Ya sudah lah, ditutup saja... Tapi sebelum itu, aku punya sedikit saran tuk kalian yang mungkin suatu saat bertemu rangorang macam si Oki ini... Dekati dan rangkul dia, sibak rambutnya dengan penuh kelembutan karena mungkin mereka adalah tipe orang yang kurang kasih sayang, dekatkan kepalamu, lalu bisikkan di kupingnya dengan penuh rasa khidmad, "HILIH KINTHIL~"

Wednesday, 3 January 2018

Najib Martil

Najib Rifa'Abdullah a.k.a Najib Martil

Beberapa tahun lalu saya mengenal seorang pemuda bernama Najib dari sebuah kelas sharing yang saya adakan bersama beberapa teman lain. Tulisan ini akan menjadi sangat membosankan dan membuat saya tampak sebagai seorang hipokrit seandainya saya terus-terusan memuji dan menulis hal baik tentangnya, oleh karenanya tidak saya lakukan. Awalnya, saya yang memang merupakan orang yang cenderung 'risinan' kalau kata orang Jawa merasa jengkel dengan kelakuan sobat yang satu ini. Bagaimana tidak, ketika teman-temannya yang lain sibuk mengutarakan pendapat dalam brainstorming dia justru diam seakan tak menunjukkan sedikitpun kesinambungan, the fuck ur still here?!! Tapi akhirnya, kali kedua, tiga, empat, dan pertemuan-pertemuan selanjutnya, barulah saya sadar kalau ada kesungguhan dan keuletan dalam dirinya. Hal itu juga yang membuat saya dan rekan saya yang saat itu tengah merintis sebuah start up untuk merekrutnya daripada kandidat lain.

Najib bersama tim SOLOCULT.COM tengah mengerjakan shooting content 'Teng-Teng Crit' bersama Band Fisip Meraung

Beberapa waktu bekerja bersama kami, tak jarang Najib membuat saya dan rekan saya jengkel karena manajemen waktunya yang sorry to say anak kos banget, tapi itu semua terbayar dengan loyalitas yang ditunjukkan, keuletan, sifat ringan tangan, dan sikap lucunya -- apa adanya, slengean, tapi suka salting kalau jadi pusat perhatian. Saat itu, hari-hari di tim kami terasa menyenangkan, apalagi kalau bukan karena adanya Najib sebagai bahan 'ceng-cengan'. Hal ini juga yang membuatnya mendapat begitu banyak nama julukan seperti Najib Gumo'ong, Najib Fushtang, Genji Jowo, dan sebagainya, namun yang paling mengena bagi saya adalah Najib Martil, mengingat di suatu kesempatan ia tampil dengan kombinasi rambut dan muka yang menyerupai hiu martil, seram...

Beberapa bulan lalu setelah wisudanya, saya dengar dia kembali ke Jakarta, kota asalnya. Terakhir kali kami berjumpa adalah di kampus, saat itu saya dengar ia tengah mengurus syarat-syarat kuliah ekstensi. Masih tetap sama dengan converse putih lusuh, jaket jeans yang kelewat belel sampai banyak sobekan di sana-sini, dan gelang-gelang yang hampir tak pernah dilepas dia meneriaki saya, "Bajingaaaan suwe ora ketemu, Mas!" yang tentu saja saya jawab dengan umpatan pula, "Asuuuu,, kowe jare wes ora neng Solo!" yang kemudian dilanjutkan dengan dia menghampiri saya, menyalami, dan memberi pelukan. Ya, pelukan persaudaraan yang seandainya ada aktivis CELUP di situ lalu mengambil foto kami pasti akan saya hajar mukanya saat itu juga.

Saya dan Najib dalam suatu projek desain website.
Tak pernah menyangka kalau pertemuan yang singkat dan tanpa soto -- makanan favorit kami di saat sore hari sepulang dari kantor dengan perut keroncongan -- itu akan menjadi pertemuan terakhir saya dengannya, setelah malam tadi saya mendapat kabar dari rekan saya bahwa ia telah meninggal dunia. 

Bagaimana tidak gemetar ketika kamu mendapat kabar tentang meninggalnya orang yang ikut ambil bagian dalam proses pendewasaanmu 2-3 tahun belakangan, yang ikut jadi teman saat jatuh dan bangun, yang bahkan tempo hari ia masih meninggalkan like pada postingan instagrammu --ya dia memang termasuk orang yang paling rajin memberikan like pada postingan saya-- tapi sekarang dia telah pergi mendahului kita semua.

Kematian memang merupakan hal yang tidak pernah terduga, oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita selalu mengingat dengan berbuat baik selagi kita hidup dan bisa...

Selamat jalan sobat, @najibrifaa . Semoga diberikan ketenangan di sana. Tetaplah rajin membantu bila nanti di sana ketemu orang-orang baru! Beri mereka japa-japa dan ajak tertawa dengan guyonan klasik 'fushtang'-mu yang sangat tidak lucu tapi bikin saya tak bisa menolak untuk tertawa. Bertemanlah dengan orang-orang di sana jika ada, dan tetap loyal seperti biasanya! Semesta selalu memberkatimu...

Tuesday, 2 January 2018

Pulang



Pulang menjadi kata yang cukup kompleks tergantung pada konteks. Pulang tidak selalu identik dengan bahagia, tak selalu juga identik dengan sedih. Pulang tak selalu ke rumah, rumah tak juga selalu jadi tempatmu pulang.

Aku adalah orang yang selalu merindukan rumah, karenanya aku akan sangat bahagia jika suatu ketika pulang setelah lama berpergian. Tapi pulang tak selalu bahagia pula buatku yang di lain kesempatan berarti aku harus meninggalkan perempuanku.

Tahun baru adalah momen di mana berkumpulnya keluargaku. Kepulangan mereka ke kota asal kami menjadi momen menyenangkan yang ditunggu-tunggu. Setelahnya, kepulangan mereka kembali ke kotanya masing-masing menjadi momen yang sarat akan kesepian.

Pulang menjadi benar-benar kompleks dan kontradiktif. 

Pulang tak selalu identik dengan rumah. Perempuanmu, laki-lakimu, akan jadi tempatmu pulang di manapun mereka berada. Meskipun itu bukan di rumah. Tuhan, Pangeran, Dewa, dan apapun itu entitas maha, akan jadi tempatmu pulang pada akhirnya...

Kalau ada...

Monday, 1 January 2018

2018 and I'm still alive



Kalau diingat-ingat, 2017 menjadi tahun yang lumayan berat buatku, yang bahkan sampai hari terakhir pun aku berada dalam kondisi yang kurang sehat, heheu. Aku memulai tahun ini dengan optimistis tinggi, tapi banyak hal tak terduga terjadi :) syukurnya, aku masih hidup sampai saat ini, dan kata orang bijak, masa lalu dan pengalaman adalah guru yang paling berharga. Tahun depan biar jadi kejutan, tak perlu mengumbar resolusi, jalani saja dengan sepenuh hati, ciyaaaa~ Selamat tahun baru, semoga hari-harimu menyenangkan! Kamu semua keren bisa bertahan di dunia yang semakin absurd ini :* Salam...

Monday, 13 November 2017

Against Gender Stereotyping



Kalau dipikir-pikir, yang sebenarnya dirugikan oleh adanya budaya patriarki dengan segala ke-seksisannya itu bukan cuma pihak perempuan yang dalam berbagai kajian sering diposisikan tidak setara; seakan hanya menjadi second sex dan kaum yang termarjinalkan. Laki-laki pun. Misalnya, budaya patriarki melahirkan stereotipe laki-laki dominan, di mana laki-laki harus selalu tampak kuat, perkasa, jantan, blablabla. Sejak kecil sudah ditanamkan pada kita jika anak laki-laki nggak elok untuk menangis, anak laki-laki haram hukumnya menjadi cengeng dan 'cilik atine', padahal apa salahnya menangis? Wong menurut teori ego defense mechanism, menangis itu salah satu bentuk pertahanan diri yang natural bagi manusia tanpa memandang apa jenis kelamin dan gendernya.

Contoh lain, memasak. Sedari kecil kita diarahkan bahwa anak laki-laki main mobil-mobilan, dan anak perempuan masak-masakan. Anak laki-laki yang main masak-masakan bareng teman perempuannya segera dianggap menyimpang. Padahal, apa salahnya laki-laki yang memang suka memasak? Menjadi chef tak lantas membuat teman punk-ku Henry yang badannya penuh dengan tato kehilangan jati dirinya sebagai lelaki, berlaku juga bagi chef lain tentunya.

Contoh lain lagi, kaitannya dengan foto dalam postingan ini; bicara soal busana, perempuan mendapat prifilej sedikit lebih tinggi dalam hal ini di mana mereka mendapat lebih kebebasan untuk mengeksplorasi pakaian, seperti misalnya perempuan yang tampil boyish dengan ripped jeans, jaket kulit, dan sneakers akan dipandang keren,, tapi untuk lelaki yang ingin memakai rok dan put some make up on his face akan dicap sebagai banci (dalam konotasi negatif, padahal bagiku definisi banci ini sendiri masih terlalu nggrambyang dan bias), dan sering dikaitkan dengan label penyuka sesama jenis, gay, homo. Padahal pakaian di sini tidak berkorelasi dengan preferensi seksual. Mau bukti? Coba tanyakan ke aku apa cuma karena didandanin selayaknya perempuan kemudian aku mendadak suka laki-laki,, duh, kasihan pacarku Najla  kalau begitu...

Kalau memang laki-laki ingin memakai rok, apa salahnya gitu? Di Skotlandia dikenal 'kilt', gaya berbusana tradisional di mana laki-laki mengenakan rok bermotif tartan, -- di Jawa pun, laki-laki biasa memakai kain jarik, bukan celana, so what? Contoh ketidak adilan lain banyak, dan tentu saja itu tak hanya menyerang salah satu jenis kelamin saja. Mengutip sepenggal kalimat dari hasil wawancaraku dengan salah satu ilustrator kebanggaan Dewo Shake'n'Soap, "Patriarki itu tai!!!".

Monday, 9 January 2017

Hidup Dan Monster Legend



Belakangan aku sedang keranjingan dengan sebuah game battle Monster Legend. Yah, sebenarnya aku bukanlah seorang gamer yang paham ini itu dan bukan juga orang yang rela menghabiskan berjam-jam waktuku untuk bermain game, tapi harus kuakui kalau game yang kumainkan kali ini adalah candu.

Sedikit tentang Monster Legend, game ini adalah tipe battle RPG berbasis facebook, android, dan ios, di mana kita berperan sebagai seorang Monster Master. Tugas kita sebagai Monster Master adalah mengelola pulau dan mengembangkan monster-monster yang kita pelihara di pulau kita untuk menyelesaikan berbagai challenge yang ada. Harus kuakui, untuk sekelas mobile game, developer game ini cukup bangsat! Perlu kamu tahu kalau aku adalah tipe orang yang akan berkata kasar ketika terpukau pada sesuatu. Aku sedang tak ingin mereview sebuah game, jadi aku tak perlu menjelaskan kenapa kusebut game ini candu.

Singkat kata, ada stage-stage challenge yang harus dilalui seiring dengan meningkatnya levelmu. Yang menarik, kita bisa kembali memasuki stage itu di masa mendatang setelah kita menyelesaikannya. Jadi, semacam introspeksi. Ini bagian yang kusuka, ketika levelku cukup tinggi, sesekali aku masuki stage sebelumnya yang saat itu kurasa sangat sulit dan membuatku frustasi bahkan ingin berhenti memainkannya. Lalu apa yang kudapatkan, seiring dengan bertambahnya level monsterku, stage-stage yang sebelumnya itu seperti bukan apa-apa. Blar!!! Sekali serang sudah aku menang. Bisa kamu bayangkan apa yang kurasakan? Stage yang dulu mati-matian kumenangkan, kini bisa dengan sangat mudah kutakhlukan!!!

Begitu pula hidup. Coba kamu sejenak bayangkan, hal apa yang dulu kamu perjuangkan mati-matian, membenturkan kepalamu pada kefrustasian, dan hampir menyerah pada keadaan! Katakanlah, skripsi. Ya, dulu aku sangat terdesak oleh hal ini. Dikejar-kejar waktu dan dihantui dosen pembimbing pun penguji membuatku mengumpat hampir tiap hari. Tapi akhirnya, dengan kesabaran dan perjuangan, aku bisa melewatinya. Lalu apa korelasinya dengan game Monster Legend?

Begini, saat ini aku terdaftar aktif sebagai mahasiswa S2 di sebuah kampus negeri dengan tugas-tugasnya yang menyiksa di tengah kesibukanku mengelola It's Banana! . Sering kali tiap malam sebelum tidur aku berpikir, aku masih hidup ya dengan semua kesibukan yang kualami. Kalau sudah begitu, sering aku membayangkan dulu skripsi yang kueluh-eluhkan setiap hari hampir tak ada apa-apanya jika dibanding kesibukan saat ini. Setelah itu aku tertawa, menyadari bahwa levelku sudah lebih tinggi dari sebelumnya.

Kuasumsikan aku ini monster yang terus berkembang dalam game Monster Legend. Aku butuh makan, aku butuh berusaha, aku butuh perjuangan, aku butuh pengalaman, dan aku butuh dukungan dari monster-monster lain di sekitarku untuk menaikkan levelku terus menjadi lebih tinggi. Pada dasarnya, hidup adalah sebuah perjuangan. Kita berjuang dan berjuang untuk sebuah pencapaian, sampai pada akhirnya kita sadar perjuangan yang kita lakukan telah menempa kita menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya. Selalu begitu, percayalah bahwa perjuangan takkan menghianati. Jadi, selamat berjuang monster-monster di luar sana, tapi ingat, istirahat sejenak bukanlah sebuah dosa!

Sunday, 1 January 2017

Resolusi

Gambar oleh @mujixmujix


Gambar ini dibuat oleh salah satu kenalanku, Mujiyono, -biasa kupanggil Mas Mujix- , sebagai ucapan terima kasih telah membeli dan memberi sedikit review tentang komiknya, "Proposal untuk Presiden". Entah bagaimana Mas Mujix menuliskan "Make love not war" di gambar potraitku yang ia buat, mungkin karena aku yang memakai kacamata bulat dan sweater turtleneck mengingatkannya pada mendiang John Lennon, entahlah. Kupikir quote itu sangat mewaki tulisanku tentang resolusi dalam postingan ini. Tak perlu muluk-muluk, resolusiku di tahun baru adalah untuk menebar positive vibes, tetap waras di jaman yang semakin edan. Sudah, itu saja. Semoga tahun ini jadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya... Semesta memberkati... Selamat tahun baru

Tuesday, 9 August 2016

Semua Pekerja Keren di Skena-nya



Semakin dewasa, aku -mustinya kamu juga- makin paham bahwa semua pekerjaan itu keren, dengan begitu sudah sepantasnya jika semua pekerjaan dihargai sesuai nilainya, apapun itu. Misalnya gini, pagi tadi aku pijet karena masuk angin, -duh aku merasa gagal menjadi anggota PKI; Perkumpulan Kakak Indie, karena masuk angin setelah semalam ngegigs- kalau dipikir kan cuma mijet ya, bisa dilakukan sendiri, nyatanya? Aku minta orang lain yang emang kerjaannya mijet, karena aku tau dia punya skill mijet yang lebih dariku. Sebagai remaja yang cinta orang tua, pernah dong aku mijetin Si Ibu. Dari situ aku sadar, kalau mijet tak sesimpel itu, selain musti ngerti urutan uratnya juga capek di tangan. That's why aku butuh tukang pijet.

Contoh lain, ngecat. Beberapa hari belakangan aku dan temanku +Daniel Revelino  sibuk ngecat untuk persiapan *uhuk* studio kami. Kalau dilihat, ngecat itu perkara gampang kan, celupkan kuas, oles-oles, tunggu kering. Nyatanya? Tangan dan leher kami pegal-pegal dibuatnya! Bahkan aku sempat teriak histeris kesakitan saat setetes soda api yang kami pakai sebagai remover melayang ke mataku. That's why orang bayar tukang cat untuk ngecat rumahnya. Karena apa? Tentu karena tukang cat punya kemampuan lebih baik di bidang itu.

Dari dulu Ayah dan Ibu selalu menekankan padaku, sebisa mungkin jangan nawar untuk harga sebuah jasa, dan syukur sampai sekarang aku masih bisa mengaplikasikan wejangan tersebut. Inilah yang kusebut dengan menghargai pekerjaan di awal tadi, karena kita bukan orang yang serba bisa. Siapa yang menentukan harga? Menurutku mereka sebagai pekerja lah yang berhak. Mereka yang paling tahu berapa nilai jasa yang mereka tawarkan. Daripada menawar, alangkah lebih bijak jika kau sebut saja budget yang kau punya, tanyakan dengan nilai segini apa yang bisa kau dapatkan! Jangan malah mempermalukan diri dengan menawar, ingat, kau bukan orang yang serba bisa! Kau mau menggunakan jasanya karena dia mampu melakukan apa yang NGGAK BISA kau lakukan sendiri, jadi tau dirilah! Lain cerita kalau kau membandingkan antara satu pekerja dengan pekerja lain di ranah yang sama, lalu kau pilih harga yang paling murah, itu hakmu.

Yah pada akhirnya, sama-sama bekerja, sama-sama cari uang untuk makan, saling menghargai lah, karena masing-masing pekerja keren di skenanya. Jadi, masih mau bilang, "Gratisin lah, cuma gitu doang!" ?




Note: Aku sengaja menggunakan kata "skena" untuk menggantikan kata "ranah" karena aku suka. Ya, begitulah.

Tuesday, 3 May 2016

We only do cool shit!



"Hey kau yang muda, teruslah berkarya! Selagi muda, takhlukkanlah dunia! - Sudahi saja pestamu dan luangkan waktu melakukan sesuatu untuk masa depanmu!" ~Silampukau

Penggalan lirik dari lagu "Hei" milik duo folk asal Surabaya; Silampukau tersebut seperti ingin kami jadikan pegangan kedua setelah "Nggak semua orang keren ada di Jakarta"-nya Kelik Klan. It's Banana! itu dua orang, sepasang. We're not gays and not into it, tapi tetap saja It's Banana! itu sepasang. Sepasang pengangguran? Enak saja! Kami adalah sepasang pemuda pemuja Paul Arden yang penuh dengan mimpi. Ya, bisa dibilang kami adalah partime-dreamer, tapi tenang, another half-part-nya tetap kami gunakan untuk merealisasikan mimpi-mimpi itu tadi.

Orang di luar mungkin dengan remeh melihat, betapa santainya hidup kami ketika teman-teman seangkatan kami hilir mudik sibuk mencari pekerjaan tetap, sedangkan kami berdua masih sempat-sempatnya blabbering soal idealisme dan mimpi yang tampaknya makin basi dibicarakan di era ini. Hello, mereka cuman nggak lihat saja betapa di belakang kami berdarah-darah bergulat melawan resiko. Membenturkan kepala pada kefrustasian. Diperas baik ide, tenaga, bahkan ehemm uang. Nombok? Pastilah!! Tapi tenang, kami tidak lantas bunuh diri karena itu semua. Kami ini pemuda tabah dan ikhlas yang selalu percaya bahwa tak ada yang instan, semoga usia belum tua saat kami mencapainya. Kami ini pemuda yang masih terus berpikir mau bikin apa untuk makan apa. Kami ini Chandra Eka Privandani dan Daniel Revelino Arsono. Kami ini... Keren, dan kau musti percaya itu. We don't do advertising, we only do cool shit!!




Catatan: It's Banana! adalah nama sebuah creative agency yang saya rintis bersama kawan saya terhitung mulai Februari 2016. Banyak yang kami lalui, banyak darah yang mengucur kalau majas hiperbol diaplikasikan, tapi puji semesta raya, sampai tulisan ini dibuat kami telah mampu meng-hire dua anggota lain. We do believe that we'll grow bigger from now on.

Tuesday, 26 April 2016

Idealis?



Situ mau baca, silahkan. Apa ya, kita hidup di era dan negara dengan pola pikir macam itu. Pernah saya dengar di suatu seminar kreatif sebuah statement yang kira-kira begini, "Anak muda, jangan pernah lepaskan idealismemu! Kalau sudah kehilangan itu artinya kamu kehilangan jalan. Ikutilah passion-mu selagi muda!", entah bagaimana tepatnya tapi kira-kira seperti itulah. Tentu saja bagi pemuja passion seperti saya, dengan senang hati mengamininya. 

Lulus kuliah, saya tetap mencoba memegang erat hal itu, nyatanya saya masih berkutat dengan bajingan ini; Daniel Revelino , berjudi di ladang lain -yang lebih terjal konturnya dan tentu menantang- ketika ladang job fair dipenuhi rekan-rekan seangkatan dengan pakaian rapi, rambut klimis bagi yang pria, make up minimalis alih-alih biar tampak manis bagi yang wanita, tapi tetap, dengan muka berminyak karena keringat di venue yang penuh dan sesak.

Bukan masalah cari kerja yang sering saya dan teman saya -yang namanya tertera sebelumnya- pertanyakan, tapi perihal bagaimana mereka para fresh-graduate-job-seeker ini seakan dengan mudahnya kehilangan pegangan; Anak komunikasi, daftar bank. Anak hukum, daftar bank. Anak desain interior, daftar bank. Udah, semua jurusan saja daftar bank apapun hobi, konsentrasi studi, dan keahliannya. Mustinya kampus-kampus lebih banyak sediakan materi perbankan saja ya agar ilmunya tidak mubadzir di tengah ladang yang kian gersang karena diinjak-injak banyak orang.

Bukan merasa sok keren dan merendahkan, tapi ya namanya kegelisahan, dan ini blog pribadi saya, jadi wajar untuk mengungkapkan. Bagi pemuja passion seperti saya, mengidolakan orang-orang yang berjalan di jalan mereka harus berjalan adalah suatu keharusan pun kesenangan. Jadi kondisi macam itu tadi terasa sedikit menyebalkan.

Tapi, yah,, namanya hidup sih ya. Seiring berjalannya waktu kita tidak bisa lantas menyalahkan dan men-judge rekan-rekan yang perlahan melepaskan idealismenya itu salah, lalu kita merasa lebih benar dan mulia derajadnya dibanding mereka. Hidup itu pilihan, dan melepas idealisme termasuk salah satu bentuk dari memilih. Kalau di tulisannya yang dimuat pada www.siksakampus.com, teman saya  tadi menganalogikan mengejar passion itu seperti Kapten Tsubasa yang tengah menggiring bola dan berusaha mencetak angka, maka menurut saya Tsubasa berhak melipir di tengah lapangan menuju kerumunan, terus lari peduli setan, dan jajan di warung sebelah stadion. Suka-suka Tsubasa wong itu hidupnya :)
.

Solo, 26 April 2016 di depan komputer sembari menyembah Paul Arden.

Monday, 7 March 2016

Sunday, 21 June 2015

Good Morning, Kids...



Pagi itu hangat. Waktu menunjukkan pukul 8 dan tentu saja itu jam 8 pagi, karena sudah saya sebut di kalimat sebelumnya. Saya sudah bangun, sudah mandi, tapi belum makan. Nanti saja di kampus, pikir saya.

Motor saya nyalakan, pakai kontak dan distarter tentunya. Mau ke mana saya? Tentu saja ke kampus, kan sudah saya sebut juga sebelumnya.

Berjalanlah motor saya dengan saya di atasnya. Terus berjalan, sampai saya melewati sebuah taman kanak-kanak yang bisa saya lihat banyak anak-anak di sana, namanya juga taman kanak-kanak. Saya melewatinya. Tapi tiba-tiba saja saya ingin mampir sebentar entah untuk apa. Saya balik arah motor saya dan berhenti di depan taman kanak-kanak tersebut. Saya diam. Mengamati.






“Good morning kids, how do you feel to have been slid out to this world? I wish it was not so bad, but I think no way you feel that way…”



Mereka terlihat bahagia. Mereka siapa? Tentu saja anak-anak yang saya amati. Tapi tidak dengan ibu-ibu yang mengantarkannya. Kenapa? Mana saya tau. Sudahlah, lupakan ibu-ibu yang beberapa mengamati si saya yang mungkin tampak begitu urakan di mata mereka. Biarin. Yang penting kata pacar saya, saya keren. Emang punya pacar? Dulu sih, sekarang enggak.

Kembali ke anak-anak. Mereka masih tampak bahagia seperti yang saya katakan sebelumnya. Terlihat dari senyum dan tawa. Serta senda gurau yang dilontarkan antara satu dan lainnya. Ada yang berkerumun seperti muda-mudi masa kini di suatu gigs yang menampilkan band yang mungkin mereka sukai. Ada yang menyendiri, sibuk dengan dunianya sendiri, mungkin berkomunikasi dengan alien. Ada yang berlarian. Ada yang bergelantungan, tapi bukan di pohon randu karena berbahaya, melainkan di sebuah apa ya itu namanya mainan-mainan yang sering diletakkan di taman kanak-kanak, itulah.

Dalam hati saya bertanya, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pikirkan? Bisa terus tertawa-tawa di dunia yang seringkali mengintimidasi ini. Tidakkah mereka resah? Tidakkah mereka takut? Sepertinya tidak, karena mereka bukan saya yang tengah resah menyelesaikan skripsi, isu durjana mahasiswa masa kini. Yang tengah takut menghadapi revisi itu, anu, dan ini. 



“Good morning kids, how does it feel to have been kicked out to this world? I wish you like the morning sun, it’s one of the most beautiful things…”



Saya masih berpikir. Apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan. Sepertinya hanya hal-hal yang membuat bahagia. Misalnya? Bermain, tidur siang, bercanda, slenge’an, jajan, menggambar, berkhayal, anu, anu, dan anu.

Dalam hati saya mulai merasa iri.

Kenapa saya harus merasa iri? Karena mereka santai. Dan bahagia. Memang saya tidak bahagia? Sorry, saya juga bahagia. Saya lahir di keluarga yang lumaya keren dengan orang tua yang cukup keren. Saya punya teman-teman yang keren. Saya menjalani hobi yang cukup keren. Dan sepertinya orang-orang melihat cara saya menjalani hidup adalah lumayan keren. Iya, katanya saya santai, apa adanya, ngikutin passion, dan apalah yang kelihatannya keren gitu buat mereka. Padahal kan Cuma kelihatannya ya. Dan kelihatannya dari mereka. Belum terbukti validitasnya karena mereka belum mengkroscek langsung ke saya. Huh, dasar manusia!

Saya memang bahagia, setidaknya cukup bahagia. Bisa lahir di dunia yang membahagiakan buah karya Tuhan Yang Maha Kuasa, meskipun seringkali buah karyanya ini mengintimidasi juga.

Tapi…

Tapi…

Bukan berarti saya sebahagia yang kalian lihat biasanya. Kalau digali, di dalam saya yang kata kalian selalu bahagia ini terdapat keresahan-keresahan, ketakutan, kesemruwengan, keinian, keituan, keanuan, dan ke-kata benda-an lainnya.



“You’d come to know as you grow up this world is full of shit!”



Hidup ini nggak melulu lurus dan membahagiakan kayak yang dialami mereka yang saat ini saya lihat. Mereka itu lho, anak-anak itu. Setidaknya mereka belum. Belum apa? Belum tahu kalau nyatanya hidup ini… Hidup ini... Kompleks... Penuh dengan ini dan itu. Makanya mereka bahagia terus.

Nggak kayak saya, nggak kayak kamu, nggak kayak kita yang katanya dewasa. Yang mulai mikir ini, anu, dan itu. Yang mungkin mulai lupa caranya menikmati matahari pagi karena keburu berangkat ke kantor atau masih tidur gegara lembur semalam. Yang mungkin mulai lupa kalau sebenarnya apa saja bisa ditertawakan. Misal, bu dosen yang susah ditemui, lucu, mungkin dia sedang sibuk piknik ke planet venus. Atau, si mantan yang sudah peluk-pelukan sama orang lain, lucu, mungkin orang lainnya teletabis jadi enak buat peluk-pelukan. Atau, apalah, ketawain aja!

Akhirnya saya tertawa. Karena apa? Karena hidup saya lucu, hidup kamu lucu, hidup kita yang katanya dewasa lucu. Kalau dibandingkan dengan mereka, anak-anak, hidup kita lucu, hidup mereka enggak. Karena hidup kita kompleks, lebih banyak yang bisa ditertawakan. Sedangkan hidup mereka, lurus, gitu-gitu aja, semuanya bahagia.



“So I wish you don’t grow up, and I wish you don’t get hurt, and I wish you don’t notice that the world is shit!”



Saya tidak tertawa lagi. Sudah cukup. Sekarang saya merasa kasihan karena posisinya kini dibalik. Saya bisa belajar menikmati hidup dari mereka, anak-anak. Tapi mereka kasihan. Iya dong kasihan. Kasihan karena mereka yang polos, tanpa beban, dan tentunya tanpa bekal, nantinya akan mengalami kompleksnya hidup seperti apa yang saya dan kita alami. Mereka nggak akan lagi terus-terusan tertawa dan cuma melakukan hal-hal yang membahagiakan, kasihan…



“And I wish you don’t be sad, but I’m not so afraid cause you won’t be like me…”



Tapi jangan sedih, namanya juga hidup… Semua mengalami. Saya, kamu, dan kita pernah menjadi seperti mereka, bahagia, tanpa beban, dan pipis di celana. Suatu saat, mereka ganti yang akan menjadi seperti kita, dewasa, banyak masalah, mikir ini, anu, itu, tua, dan sebagainya.

Rasanya sudah cukup mengamati anak-anak ini. Saya sudah tidak merasa iri. Saya sudah mengucap syukur.

Waktu menunjukkan pukul 9. Masih pagi. Tapi saya punya janji di kampus jam sembilan pagi. Berarti saya sudah telat? Ya sudah… Yang penting saya bahagia.

Motor saya nyalakan, pakai kontak dan distarter tentunya. Mau ke mana saya? Tentu saja ke kampus, kan sudah saya sebut juga sebelumnya. Dan paragraf ini hanya meng-copy alinea dua…








Solo, 21 Juni 2015
Sedang mendengarkan "Good Morning, Kids"-nya Ellegarden.
Sering tertekan meskipun tampak bahagia dan sedang belajar untuk bahagia yang benar-benar bahagia.


Thursday, 27 November 2014

Katanya Cintamu Selamanya?

This artwork is inspired by Ellegarden's "A Thousand Smiles". It tells a story about a boy who met a girl with a thousand smiles. They loved each other. It occurred a dozen years later till the tragedy came up to their lifes. That boy killed his thousand smiles-girl by shooting her right in her head. Ugh!


Izinkan saya bercerita...

Tersebutlah Joni, seorang pemuda pangrok yang bertuhankan Sid Vicious, hidupnya penuh dengan kesemruwengan duniawi, hingga ia bertemu dengan Susi, gadis ibu kota penggemar Black Flag, putri pengusaha kaya raya.
Terkisahlah mereka berdua saling cinta, menghasilkan simbiosis mutualisme yang saling isi satu sama lain. Joni butuh Susi dan Susi butuh Joni. Tapi tidak dengan Haji Kohar, ayah Susi yang seorang pengusaha oseng-oseng rempelo ati. Ia tidak butuh si Joni. Baginya Joni adalah penyakit buat Susi. Sejak bertemu Joni, badan Susi jadi penuh dengan tattoo ngeri. Apa kata tetangga, anak seorang pengusaha kaya pengekspor oseng-oseng hingga ke negeri Paman Sam berhubungan dengan seorang pangrok jalanan.
Susi dikekang dan Joni diancam. Puluhan preman mengincar Joni yang kian lemah tanpa Susi. Setahun, dua tahun, lama. Susi hampir gila saat suatu malam Joni berhasil menyelinap masuk ke kamarnya. Tumpahlah segala bentuk rindu berbungkus sendu.
Susi tak kuasa, Joni menderita. Kesemruwengan menguasai jiwanya, mendikte lidahnya bertanya, "Sayang, katanya cintamu selamanya? Bagaimana jika kubuat jadi nyata?".
Pelan Susi mengangguk, tubuhnya gemetar saat Joni menodongkan Desert Eagle tepat di kepalanya. Tapi apadaya, cinta lebih besar dari rasa takutnya.
"DOR!!"
Satu peluru menembus kepalanya yang dipenuhi dengan bayang-bayang Joni.
"Sebentar, akan ku susul sayang," bisik Joni lirih sembari menodongkan pistol ke kepalanya sendiri. Belum sempat pelatuk ditarik, polisi sudah membekuk Joni dari balik kalutnya hati.
Huh!
Dasar polisi sial! Tak tau bagaimana cara mengubah sebuah kisah tragis jadi romantis!

Monday, 24 November 2014

24 November 2014 - Betapa Besar Pengaruh Buzzer

Sampai dengan saya menulis postingan ini, handphone saya masih terus bergetar karena notifikasi yang tak lain dan tak bukan berasal dari Instagram. Ya, jejaring sosial berbasif picture gallery yang masih menjadi favorit saya karena inerface dan penggunaannya yang simpel. Skip, kali ini saya nggak ingin mereview apa itu instagram beserta tetek bengeknya, hanya ingin bercerita tentang apa yang saya alami hari ini hingga saya sadar betapa besarnya pengaruh buzzer di era digital ini (sebelumnya saya cuma ngerti secara teori berdasarkan yang saya pelajari dari mata kuliah advertising, sampai saya mengalaminya sendiri).

Jadi, tengah malam tadi saya unggah artwerk saya ini,,



Yah, saya selalu mengupload artwerk setiap harinya, daripada hasil latihan dibuang sayang. Paginya, saya dapet message dari teman saya, Jojo, yang intinya bilang kalau saya featured di @dagelan, sebuah akun publik yang ngehits banget karena konten lucu-lucuannya, meskipun nggak selalu lucu bahkan sering kali garing banget kayak 'karak' (nasi dijemur terus digoreng).

Saya cek deh akun instagram saya, bener aja, notif di sana sini, mulai dari like, comment, sampai followers. Sampai tulisan ini dipublish, udah sekitar 100 lebih orang mem-follow saya dalam waktu kurang dari satu hari.



Dari situ saya semacam mendapat pembuktian langsung tentang betapa besarnya pengaruh buzzer di era digital ini. Mau contoh apa lagi coba, cuma dengan sekali re-gram,, beratus-ratus respon saya dapatkan. (Meskipun saya nggak terlalu puas dan cenderung terganggu, buat apa follower banyak tapi nggak sesuai target? Karena saya tau pasar artwerk saya segmented, dan target saya ya difollow balik artist-artist yang saya follow :p bukan masyarakat awam)

Buat pelajaran aja sih, buat kalian yang lagi dalam kegiatan pemasaran, entah barang, jasa, atau bahkan diri sendiri, ehemm, bisa tuh dimanfaatin para buzzer yang bergelimpangan di dunia digital. Biasanya sih mereka berbayar, tapi tinggal gimana pinter-pinternya kita cari celah dan manfaatin aja. Ibaratnya PR yang bikin event dengan news value biar dapet peliputan gratis dari media, kita juga bisa buat postingan dengan materi menarik biar dapet promote gratis dari para buzzer. Terdengar simpel, tapi... Ya begitulah :p



Follower saya cenderung banyak bukan berarti saya seleb-gram. Saya cuma senibro yang suka semruweng kalau kata si Bosque. Jadi, you followed me doesn't mean you've got a free pass to re-post my work without any permission. Bedain akun pribadi dan akun publik!

Monday, 29 September 2014

Whatever You Think, Think The Opposite

stock image from google.com

“The world is what you think of it. So think of it differently and your life will change.” Paul Arden


Satu lagi tipe self-help book yang begitu menarik perhatian saya. ‘Provokatif’, satu kata untuk menggambarkan keseluruhan isi dari buku ini. Masih sama dengan judul pendahulunya, It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be, dengan brilian Arden mencoba merubah cara pandang seseorang mengenai suatu permasalahan, khususnya ‘hidup’.

Berkutat dengan format yang sama mengasyikkannya dengan rilisan sebelumnya, berisi anekdot, kisah pengalaman, quote yang provokatif, ilustrasi, dan mind-blowing layout yang membuat kita tak akan bosan membacanya berulang kali, Arden mencoba mengajak bahkan memaksa pembaca bukunya untuk memandang dunia dengan cara yang berbeda. “Don’t go to university, go to work!”, “Making the safe decision is dull, predictable, and leads nowhere new”, atau “Don’t be negative about rejection” mungkin akan membuat anda malu pada diri anda sendiri, persis seperti apa yang saya alami. Pasalnya, dengan sempurna Arden berhasil membalikkan apa yang sebelumnya dipandang ‘benar’ dalam suatu sistem dan membandingkannya dengan sesuatu yang baru dan berbeda berdasarkan cara pandang yang liar terhadap sistem itu sendiri.

Secara keseluruhan, dalam 144 halaman Arden mencoba menyampaikan bahwa tidak ada yang namanya ‘bad decison’ dalam hidup ini, bahkan ketika kita harus dipecat dari suatu pekerjaan atau menghadapi suatu penolakan. Berlandaskan pemikiran ala positivisme, Arden mengajak kita melihat ‘bad decision’ tadi dari sudut pandang yang lain, menjadi sebuah permulaan bagi suatu peluang yang baru. Bukan hanya itu, Arden bahkan membalikkan pandangan yang sudah terpatri pada sistem yang ada, mengajak kita melihat ‘safe decision’ menjadi sesuatu yang membosankan dan tak akan membawa suatu perubahan. Suatu cara unik untuk mempermalukan pembaca di hadapan dirinya sendiri. “If you always make the right decision the safe decision, the one most people make, you will be the same as everyone else. Always wishing life was different .” (Chandra)





It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want To Be ; Bukunya Para Pemberontak

stock image from google.com

“… They become rich and powerful by wanting to be rich and powerful. Your vision of where and who you want to be is the greatest asset you have. Without having a goal, it’s difficult to score.” Paul Arden


‘Jangan takut menjadi sesuatu sesuai apa yang kamu inginkan’, persis seperti apa yang disampaikan Hosomi Ellegarden dalam Wannabies-nya, kira-kira hal itu jugalah yang ingin disampaikan Paul Arden dalam buku ini. Kita bisa menemukan berbagai pelajaran mengenai kreatifitas berdasarkan pengalaman Arden di industri kreatif yang disampaikan dan dikemas dengan menarik. Dengan alur yang mengasyikkan, Arden menyampaikan berbagai wejangan melalui anekdot, cerita pengalaman, quote, foto, dan ilustrasi yang menggelitik, membuat transmisi pesan menjadi begitu menyenangkan dan mudah untuk dipahami.

Tak heran jika buku ini menjadi salah satu World’s Best Selling, bahkan jika beberapa orang menyebutnya sebagai ‘buku sakunya insan kreatif’ dan memasukkannya ke dalam list wajib baca, dengan senang hati saya pun mengamininya. Pasalnya, melalui buku ini Arden memberikan banyak tips mengenai bagaimana kita menggali kreatifitas dan terus menjadi seorang yang kreatif dalam mewujudkan keinginan dan cita-cita. 

Di dalam buku ini, Arden begitu menekankan beberapa hal pokok, diantaranya untuk terus menjadi kreatif, jangan takut salah, dan tidak semua yang benar adalah baik, asalkan semua dilandasi dengan keinginan yang kuat dan suatu tujuan yang telah ditetapkan. Hal itu benar-benar saya rasakan khususnya pada “fail, fail again, fail better”, “it’s wrong to be right” dan “ it’s right to be wrong”. Hal ini memotivasi saya (dan mungkin para pembaca pada umumnya) bahwa untuk menjadi sukses, seseorang haruslah keluar dari zona nyaman, mengeksplorasi hal-hal baru, dan berpikir unconventional, meskipun hal itu menggandeng sebuah resiko yang harus dipikul bersama dengan kesuksesan yang akan diraih nantinya.

Beberapa orang mungkin akan berkata, “kenyataan tak semudah apa yang dikatakan Arden,” benar. Butuh cukup keberanian untuk menjalankan advice-nya. Seberapa beranikah kita mengambil resiko dalam hal menjadi kreatif sesuai yang disampaikan oleh Arden, tergantung dari diri kita sendiri. Seberapa besarkah kemauan kita untuk mendobrak dan melakukan pemberontakan terhadap pakem-pakem yang memenjarakan kreativitas, bukan hanya diam dan mengalir mengikuti arus utama. Sesuai kata Arden, “All creative people need something to rebel against, it's what give their lives excitement,..” itulah mengapa saya pribadi menasbihkan buku ini sebagai bukunya para pemberontak, bukan pemberontak dalam konotasi negatif, melainkan para pemberontak yang berani mendobrak hal-hal lazim untuk menemukan sesuatu yang benar-benar luar biasa dalam hidupnya.

Overall, saya begitu menikmati apa yang disajikan Arden dalam bukunya ini. 127 halaman terlewati dengan sangat menyenangkan, bukan sesuatu yang terlampau tekstual dan membosankan, karena kita akan disuguhi berbagai hal inspirasional yang dikemas dengan apik, baik dari segi penulisan, desain layout, dan ilustrasi berwarna yang mengasyikan. Oleh karena itu, saya akan merekomendasikan buku ini pada anda, entah anda seorang pelajar, pekerja, pebisnis, atau di lapisan manapun anda berada, lalu mari bersama-sama kita memberontak! (Chandra)

Monday, 23 June 2014

Determination


What's bad for your heart is good for your art, they said.
I think it's true, sometimes at least.

I just hide a message in this work and dedicate this for a lil kid whose birthday is today.
A lil kid who'll leave me for a long time start from today.
A lil kid who is reckless, careless, sometimes annoyed, and even an airhead one.

I know that I can't always protect her, so I wish God will do it for me. Guide her through her path.

Hm...

Wednesday, 18 June 2014

Goodbye



"A soul that is once connected, it will never break or draw away, till the day again I see you, I'll wait here right for you." - Four Gets Me a Nots

I don't know how many times I've heard this song for a day. But still, it kinda breaks my heart. Ugh!
A single "goodbye" means a lot, I think.


Sunday, 20 April 2014

Mereka Adalah Teman

Beberapa waktu lalu saya pernah menuliskan sesuatu tentang Alice, ya, Alice adalah nama komputer saya. Saya adalah tipe orang yang suka memberikan nama pada benda-benda yang memang terasa dekat dengan saya. Alasannya? Mereka seperti bernyawa. Sesuatu akan menjadi lebih akrab ketika kita memanggilnya dengan suatu sebutan, setidaknya itu yang saya rasakan. Dengan memanusiakan mereka, saya jadi bersikap lebih baik pada mereka, yah perlu kalian ketahui, saya adalah tipe orang yang awet dalam memelihara suatu benda. Kenapa bisa? Karena bagi saya mereka semua hadir dalam hidup saya dengan kenangan masing-masing yang mereka hadirkan, sehingga saya akan berusaha merawat mereka dengan baik, bukan sekedar sebagai benda, melainkan teman.
Oke, dalam postingan ini saya akan memperkenalkan teman-teman saya tersebut. Hmm... Tentu saja berawal dari perasaan dekat, lalu memberi nama, kemudian muncullah di benak saya bagaimana wujud asli mereka. Dalam bahasa otaku, mungkin mereka menyebutnya dengan "gijinka", dan dalam bahasa yang lebih mudah dipahami manusia normal seperti kalian, sebut saja nyawa mereka. Ya, karena bagi saya semua benda memiliki nyawa. Kalau kalian menyangkalnya karena bertentangan dengan hukum Tuhan, baiklah saya gunakan kata yang lebih ringan, mereka menghadirkan kenangan yang membuat saya menyebut mereka bernyawa. Baiklah, sebut saya aneh, itu hak kalian. Yang jelas, saya akan memperkenalkan beberapa teman saya...


Lihat! Keren bukan?! Mereka adalah beberapa teman saya. Yah, bisa dibilang beberapa yang paling dekat dengan saya. Kalian ingin tau namanya? Baiklah, dari kiri ke kanan ada Lovita, Kanon, Esteem, Jip Hatkor, Lime, Alice, Levi, Sephia, Space, dan Miyo. Lalu, perwujudan dari apa sajakah mereka ini? Tenang, saya akan memperkenalkan mereka pada kalian :3

Description:
First of all, there's Lovita. Dari semuanya, mungkin dia adalah yang paling akrab dengan saya. Dia juga yang sudah menjalani waktu bersama saya paling lama dibanding yang lainnya. Siapa dia? Lovita adalah sebuah handphone, tepatnya sebuah handphone Nokia 5130 expressmusic series yang saya dapat sekitar 5 tahun yang lalu. Awal saya berada pada tingkat 2 SMA, saya membeli sebuah handphone baru yang sama persis dengan milik sahabat saya. Pada awalnya, orang-orang di sekitar saya bilang bahwa handphone tipe ini merupakan produk gagal, but who cares?! Buktinya saya bisa terus barsama Lovita hingga tahun kelimanya. Sangat banyak kenangan yang dia berikan. Dialah yang membangunkan saya tiap harinya. Dialah saksi dari berapa perempuan yang datang sili berganti dalam hidup saya *tsaaaaahh*, bagaimana indahnya menerima pesan "sayang-sayangan" yang bahkan banyak diantaranya masih tersimpan jelas di memori gadis kecil ini, atau betapa brengseknya saya di masa itu. Gadis ini saksinya. Dia juga yang mengajarkan saya dan mengamati perubahan selera musik saya dalam 5 tahun terakhir, ya, itulah fungsi lainnya sebagai handphone music series.
Saya berjanji pada diri saya sendiri tidak akan menjualnya. Ya, terbukti sampai beberapa kali saya membeli handphone baru, Lovita tetap menjadi yang utama dan favorit saya :') pernah terbersit di pikiran saya untuk mengistirahatkan Lovita dan membeli yang baru untuk jadi secondary phone. Ya, memang benar saat itu saya membelinya, namun belum genap sehari saya sudah menjualnya lagi karena saya tak tega melihat Lovita hanya tertidur di tempatnya :') saya benar-benar mencintai gadis kecil nan stylish ini.
Character Design:
Image dari Lovita muncul begitu saja dalam benak saya. Wujud gadis kecil nan stylish mungkin cukup merepresentasikan body mungil handphone ini dan juga kesan stylish yang diangkat seri ini pada masanya. Earphone yang dipakai menggambarkan bahwa Lovita adalah handphone dengan seri musik, lampu-lampu putih di tubuhnya menggambarkan lampu-lampu yang ada pada fisik aslinya.

Description:
Dari nama dan strap yang terpasang di pinggangnya, mungkin kalian bisa dengan mudah menebak siapa dia. Ya, Kanon adalah perwujudan dari kamera Canon DSLR seri EOS 1100D yang saya miliki sekitar 3 tahun lalu, tepatnya pada masa awal saya masuk perguruan tinggi. Kanon merupakan DSLR pertama bagi saya, dialah yang menemani saya engenal lebih jauh dunia fotografi. Bukan hanya memenuhi kewajibannya dalam dunia fotografi sebagai hobi saya, Kanon juga merangkap tugasnya sebagai pengganti scanner. Saya biasa menggunakan jasanya untuk mendigitalisasi dokumen fisik menjadi digital. Akhir-akhir ini Kanon jarang keluar rumah, bahkan terdapat sedikit noda di lensanya :( maafkan saya teman...
Character Design:
Wujud yang simpel menggambarkan kesederhanaan dari model ini. Strap bertuliskan EOS Digital merupakan strap yang memang benar-benar tergantung di tubuh aslinya. Mata merah dan tajam menggambarkan bahwa Kanon adalah alat yang identik dengan mata.

Description:
Esteem adalah sebuah nama mobil sedan seri Suzuki Esteem milik ayah saya. Kenapa saya memasukkannya ke dalam daftar teman dekat saya, karena Esteem merupakan mobil pertama yang saya setir sendiri. Ya, Esteem lah yang secara tidak langsung mengajari saya bagaimana caranya mengemudikan sebuah mobil. Esteem jugalah mobil pertama yang saya gunakan untuk berkencan dengan,,, ah sudahlah :p
Character Design:
Warna dominan ungu merupakan warna asli dari tubuhnya. Berwujud seorang pria bertubuh kecil namun tetap kokoh menggambarkan fisik Esteem di dunia nyata. Esteem memang sebuah mobil berbody mungil, namun ketika saya menungganginya, terasa bahwa tubuhnya bahkan lebih kokoh dari mobil-mobil tipe family car kekinian. Oleh karena itu Esteem muncul di pikiran saya dalam wujud seperti ini.

Description:
Sama seperti Esteem, Jip Hatkor adalah perwujudan dari sebuah mobil, tepatnya sebuah mobil tipe Jeep seri Suzuki Country. Bukan, mobil ini bukanlah mobil saya, lagi-lagi ini milik ayah saya yang memang menyukai model jeep, saya sendiri belum mampu untuk membeli sebuah mobil :') ah, doakan saya segera sukses dengan usaha saya sendiri! Amin. Jip Hatkor adalah mobil yang sering saya gunakan untuk bermain bersama teman-teman karena modelnya yang 'mbois'. Nama Jip Hatkor sendiri sebenarnya diberikan oleh salah satu teman saya, Dhea, ketika dia mengemudi mobil ini dan merasakan betapa hardcore-nya guncangan di dalam ketika mengemudinya. Banyak kenangan yang saya dapat bersamanya, terutama kenangan-kenangan bersama teman-teman manusia saya termasuk mogok di kuburan tepat tengah malam atau dengan sengaja menabrak spanduk partai politik sial di pinggir jalan hingga patah.
Character Design:
Wujud pria tua dan kekar menunjukkan bahwa meskipun sudah dimakan umur, namun kesangarnannya tetap bertahan. Ya, Hatkor adalah mobil keluaran '90an yang notabene termasuk mobil lawas jika disejajarkan dengan mobil-mobil di jalanan kota. Warna hijau-silver merupakan warna asli dari fisik Hatkor di dunia nyata.

Description:
Lime merupakan perwujudan dari sebuah drawing pad seri Wacom Bamboo Pen yang saya dapatkan sekita 2 tahun yang lalu. Pada saat itu, saya yang keranjingan dengan situs menggambar ngomik.com mulai tergoda untuk merasakan bagaimana rasanya menggambar secara digital karena pengaruh rekan-rekan saya di sana. Alhasil, Lime menjadi pilihan saya. Pada awalnya, saya benar-benar kesulitan menguasai tubuh gadis ini. Namun setelah terbiasa dan melakukan berbagai pendekatan, akhirnya kami bisa akrab menghabiskan waktu bersama.
Character Design:
Image Lime yang berwujud gadis sexy ini muncul dengan sendiriya di pikiran saya, mengingat saya selalu berkata "selingkuh dulu sama Lime" untuk membahasakan "saya sedang menggambar dengan tablet" mengisyaratkan bahwa Lime berjenis kelamin perempuan. Warna dominan hijau-hitam merupakan fisik asli Lime, di mana tubuh aslinya memang berwarna half black - half green lime. Nama Lime sendiri diambil dari warna ini. Sebuah port USB merepresentasikan satu-satunya penghubung yang menyalakannya, yaitu sebuah koneksi berbentuk USB.

Description:
Seperti yang sudah pernah saya tuliskan sebelumnya, Alice merupakan nama PC yang saya dapatkan beberapa bulan lalu. Dari semuanya, Alice memang yang paling muda, oleh karena itu dia berwujud seorang gadis kecil. Tidak ada yang bisa diceritakan tentang Alice selain saya selalu bersama dia setiap harinya, dan dia pula yang mengajarkan saya banyak pengetahuan. Oiya, kini tubuh alice sudah dipenuhi sticker :3
Character Design:
Sama seperti yang lainnya, wujud Alice muncul begitu saja sebagai gadis kecil dengan boneka tengkorak. Alice merupakan bocah yang misterius, pasalnya saya sendiri belum mengenalnya terlalu jauh (mungkin karena saya yang gaptek :p). Sifat misterius itu tergambar melalui mata dan senyumannya. Meskipun kecil, namun kemampuannya tak diragukan, matanya memancarkan hal itu. Kenapa harus terduduk di kursi mesin seperti itu? Karena di pikiran saya, Alice muncul sebagai gadis kecil yang mengoperasikan sesuatu yang berat. Karena itulah image ini tercipta.

Description:
Levi adalah kakak dari Alice, sebuah laptop yang sudah saya gunakan sejak 5 tahun lalu. Saat ini, meskipun masih dalam keadaan yang cukup baik, namun Levi sudah mengalami berbagai cidera seperti pada batry-nya. Selain itu spesifikasi dari Levi tak lagi mampu menghandle pekerjaan yang terlalu berat, untuk itulah Alice didatangkan untuk mem-back up pekerjaannya. Dalam hidup saya, Levi telah memberikan banyak hal, termasuk menemani saya mendalami photoshop, menyelesaikan gambar-gambar saya, merekam suara-suara aneh yang dijadikan sebuah musik yang tak kalah anehnya, bahkan usaha saya mendekati Lime. Dia sudah seperti sahabat yang selalu ada untuk saya.
Character Design:
Awalnya, image Levi yang muncul di pikiran saya adalah seorang laki-laki muda dengan armor cyborg-like, mirip dengan desain Esteem, tapi lebih rumit di bagian tangannya, mengingat Levi adalah sebuah komputer perang *halaaahh*, maksudnya komputer medan yang bisa bawa kemanapun, jadi image perang sangat cocok. Namun setelahnya, desainnya berubah. Laki-laki ini muncul begitu saja di benak saya. Bagian-bagian tubuh yang diubah menjadi cyborg dan terkesan belum sempurna menunjukkan bahwa Levi adalah sebuah project lama *ya, memang lama, Levi adalah laptop model lawas* yang belum disempurnakan, dan Alice lah yang hadir melengkapinya.

Description:
Sephia adalah nama dari sebuah speaker. Awalnya Sephia tersambung pada tubuh Levi, namun ketika Alice datang, saya memindahkannya kepada Alice. Dialah gadis yang setiap harinya memenuhi ruang kamar saya dengan musik dari berbagai genre. Kalau ditanya siapa yang berperan dalam hal perbendaharaan musik saya, Sephia adalah salah satunya.
Character Design:
Yang terpikirkan sebelum saya menamai speaker ini Sephia adalah seorang gadis yang menghadirkan keceriaan. Ya, bisa dibilang Sephia yang menghibur hari-hari saya dengan lagu-lagunya, oleh karena itu image gadis ini muncul. Dari semuanya, mungkin Sephia yang terlihat paling kasual. Entahlah, dia hadir begitu saja :p

Description:
Space adalah nama sebuah hardisk eksternal berkapasitas 1 TB yang saya dapat sekitar 2 tahun lalu. Mengapa namanya Space? Karena dia memberikan ruang kosong bagi data-data saya yang kian menumpuk. Saat itu Space hadir ketika Levi mulai lelah menanggung semua data, dan Space datang untuk menolongnya.
Character Design:
1 TB merupakan space yang sudah sangat besar bagi kebutuhan penyimpanan data saya, oleh karena itu image Space hadir sebagai pria bertubuh besar dan kuat. Lampu-lampu putih yang menyala merupakan penggambaran lampu indikator yang terdapat pada tubuh aslinya.

Description:
Dari wujudnya yang rider-like mungkin sudah tertebak kalau Miyo adalah sebuah motor. Ya, mirip dengan namanya, Miyo adalah sebuah sepeda motor Mio yang menemani saya selama 3 tahun terakhir ini. Miyo lah yang selalu mengantar saya berpergian ke manapun sebelum saya dapat mengendarai mobil. Miyo juga yang selalu pulang-pergi kampus untuk mengantarkan saya kuliah :3 jadi bisa dibayangkan, saya menunggangi gadis ini setiap harinya :p *plaaaakk
Character Design:
Image Miyo sebagai seorang gadis berambut panjang sebenarnya terinspirasi dari karekter komik favorit saya, Akiyama Mio yang stikernya tertempel pada tubuh Miyo. Meskipun terdapat perbedaan jelas mulai dari fisik, sifat, gaya rambut, dan lain-lain antara Miyo dan Mio, namun saya akui Mio yang memberi inspirasi  terbesar terhadap lahirnya image Miyo. Ah ya, dari semua karakter yang saya perkenalkan di sini, mungkin desain Miyo lah yang jadi favorit saya, yah karena sejak awal saya menyukai gadis dengan gaya rock. Hoho~

Hmm... Mungkin cukup mereka dulu yang saya perkenalkan dalam postingan kali ini. Lain kali jika mereka yang lain meminta untuk diperkenalkan, saya akan memperkenalkannya pada kalian, haha.

Yah, intinya, semua benda meskipun itu benda mati, selalu menghadirkan berbagai kenangan, itulah yang menjadikannya berharga bahkan jauh melebihi harga nominalnya. Don't look at a thing from its price, but its value. Mungkin mereka-mereka ini sama sekali tidak berharga bagi kalian. Mungkin kalian bisa membeli yang jauh lebih baik dari mereka, tapi mereka berharga bagi saya. Itulah kenapa saya menganggap mereka bernyawa.